Menjadi penulis yuk!

“Mas, emang enak jadi penulis?” Itu salah satu pertanyaan teman-teman beberapa waktu yang lalu ketika saya mengajaknya untuk menulis buku.

Atau,

“Wah, sulit atuh menulis….???” (sambil wajahnya memelas :))

Atau,

“Saya gak bakat menulis pak. Lha wong nulis surat cinta saja gak gape, buktinya selalu ditolak…! Apalagi menulis buku” (walah kok malah menuduh yang bukan-bukan tho ni orang…!).

Dan seribu satu alasan lain, bukti dari “ketidakmauan” (bukan ketidakmampuan lho, lain lagi itu!).

Pembaca budiman,

Jika Anda mencoba untuk menengok kesuksesan dari beberapa tokoh dunia penulisan di Indonesia, mungkin juga di dunia, maka Anda akan memahami bagaimana mereka amat menikmati keindahan dan keasyikan menulis, di samping kemudian meraih kesuksesan (finansial maupun popularitas). Tak percaya? Coba lihat fenomena JK. Rowlings yang menciptakan novel berseri yang paling terkenal saat ini, yang kemudian diangkat ke layar lebar: Harry Potter! Sebelum itu, tercatat nama Agatha Christie (penulis novel fiksi misteri paling terkenal di dunia dengan tokohnya Hercules Poirot dan Miss Marple) dan Enid Blyton (penulis novel berseri Petualangan Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, dan Sapta Siaga) yang terkenal karena keunikan hasil karya mereka.

Di Indonesia, Anda bisa berkaca pada Habiburrahman El Shirazy si penulis beberapa novel dahsyat (Ketika Cinta Bertasbih, dll.), atau Andrea Hirata yang melejit lewat novel Laskar Pelangi. Mari simak fakta berikut: Novel Ayat-ayat Cinta-nya Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman) kabarnya menghasilkan royalti sebesar Rp. 1,5 milyar, dan novel yang lain bernilai ratusan juta rupiah. Bagaimana dengan Andrea Hirata? Melihat keberhasilan novel-novelnya (salah satunya Laskar Pelangi yang sudah diangkat ke layar lebar), sepertinya dia juga menikmati kesuksesan yang sama dengan Kang Abik.

“Nah, menjadi terkenal dan banyak duit??? Siapa gak mau??

Tapi, tunggu dulu! Apakah hanya dua hal itu saja yang menjadi tujuan Anda menulis? Meskipun jika sudah terkenal seperti mereka-mereka itu, Anda berhak juga kok untuk menikmati “kebebasan finansial” yang menggiurkan ditambah dengan popularitas yang melenakan. Gak ada yang melarang!

Beberapa orang menyebutkan beberapa tujuan menulis, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Menulis untuk mempengaruhi orang lain

Beberapa penulis merasa gundah, galau, miris pada beberapa hal yang dianggapnya tidak pas atau bahkan keliru. Maka mereka mencoba menuliskannya dalam bentuk buku, novel, atau sekedar artikel di media. Rachel Carson adalah salah satu contohnya. Revolusi hijau yang ditandai dengan meningkatnya pemakaian bahan-bahan kimia untuk mendukung pertanian ternyata juga meningkatkan dampak buruk bahan-bahan tersebut pada organisme. Keracunan pada organisme-organisme yang tidak berhubungan langsung dengan pertanian, atau munculnya penyakit-penyakit berbahaya semacam kanker mendorong Rachel menuliskannya dalam sebuah buku berjudul Silent Spring, yang kemudian mampu menyadarkan orang Amerika waktu itu untuk meninjau kembali cara-cara bertani yang keliru (untuk materi lebih lengkap, silakan baca di http://asree84.wordpress.com/2010/08/06/rachel-carson-when-the-springs-silent/).

Di Indonesia sosok Helvy Tiana Rosa (HTR) sang pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) mungkin dapat menjadi wakil dari kelompok penulis yang bertujuan memotivasi orang untuk melakukan sesuatu hal yang baik, dalam hal ini melalui dunia kepenulisan. Helvy sendiri mungkin prihatin melihat kecuekan masyarakat terhadap hal-hal yang tidak benar, semisal penindasan bangsa Palestina oleh Israel, dan problem sosial masyarakat di tanah air. Tak terhitung kelompok-kelompok penulis dari berbagai kalangan yang bermunculan akibat termotivasi oleh semangat Helvy, bahkan hingga ke manca negara. Tercatat ada banyak FLP cabang yang kemudian berdiri di Amerika, Jepang, negara-negara Eropa, HongKong, Taiwan, dan sebagainya. Kiprah HTR dapat ditilik di http://helvytr.multiply.com/.

Di dunia maya, nama Romi Satrio Wahono (tilik di http://romisatriawahono.net/) dan Enda Nasution (tilik di http://enda.goblogmedia.com/) adalah dua di antara sekian banyak penulis yang mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk menyemangati orang lain, sekaligus mengajak orang lain untuk “peduli” pada sesuatu yang diyakini benar.

2. Menulis untuk kesehatan

Loh, kok bisa? Menurut para ahli, orang yang terbiasa menulis itu sehat lho. Lha iya, orang lagi punya banyak masalah, daripada dilampiaskan dengan ngejotosin orang atau memisuhi (gak karuan ngene basane rek..!) orang, kan mending dituliskan ke dalam buku harian. Anda bisa menambah masalah yang sudah parah jika dilampiaskan dengan menjotosi orang lain kan? Ingat, buku harian adalah salah satu teman yang tak mungkin protes, meskipun Anda menuliskan beribu kata tak pantas ke dalamnya. Bener gak? Nah tuh, pembaca yang suka pada bingung nglampiasin amarah…..ambil saja buku harian plus alat tulis. Dah, silakan menuliskan segala uneg-uneg di sana. Dijamin, setelah selesai, perasaan jadi plong, dan sapa tahu malah buku harian itu bisa dibeli oleh sutradara untuk dibuatkan film.. :). Ya, siapa tahu kan? Rejeki kan gak lari ke mana kalo jodoh…. Kang Abik dan Andrea Hirata saja bisa kok. Artikel Manfaat Menulis untuk Kesehatan dapat ditilik di blog ini: http://niahidayati.net/manfaat-menulis-untuk-kesehatan-mental.html.

3. Menulis untuk mencari bekal di akhirat

Waduh, ini tujuan kelas berat! Coba sekarang bayangkan, jika setiap orang yang berilmu di dunia ini menuliskan segala ide-ide brilian mereka ke dalam buku. Hmm…berapa ilmu bisa saling dibagikan, disebarluaskan, dan dinikmati bersama. Alangkah indahnya bukan?  Coba simak hadist berikut:

“Bersumber dari Abu Hurairah Radhyallahu ‘anhu, ia menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal : yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakannya” HR. Muslim

Nah, jika Anda mengikat ilmu dan menuliskannya dalam bentuk buku, artikel, atau diblog, kemudian Anda mampu mendorong orang lain untuk berbuat baik dan benar (ceileh…), maka Anda akan mendapatkan amal bukan? Mau kan? Mau dong….!

“Lalu, bagaimana cara membangun motivasi dan kepercayaan diri untuk menulis?

Gak susah-susah amat kok memaksakan diri untuk menulis. Ingat-ingat saja keuntungan menulis seperti saya tuliskan di atas, maka Anda akan terinspirasi untuk menulis. Memang sih, ada tulisan yang enak dibaca, sebaliknya ada pula yang acak-acakan gak jelas juntrung masalahnya. Tetapi jangan takut bin kuatir! Pertama, tuliskan saja apa yang ingin Anda tulis. Lalu, cari teman yang menurut Anda lebih baik daripada Anda dalam hal menulis, dan minta mereka untuk menilai tulisan Anda. Nah, dari situ Anda akan mulai memahami beberapa kiat dan jurus yang bisa Anda gunakan untuk menghasilkan tulisan yang baik.

Jika Anda sudah menghasilkan banyak tulisan, dan kemudian apresiasi orang mulai mengalir ke Anda, maka Anda boleh merasakan peningkatan kepercayaan diri: Wah, aku sudah mulai gape nulis nih…. :). Maka Anda akan makin gila menulis…!

Tetapi satu hal jangan Anda lupakan, bahwa apresiasi orang jangan dijadikan semata-mata sebagai tujuan utama Anda dalam menulis. Apalagi Anda mengharapkan pujian orang lain. Mengapa? Ya, jika Anda menulis kemudian tak banyak atau bahkan tak ada yang mengapresiasi tulisan Anda, maka Anda hanya akan melempar handuk dan ……menyerah! Berhenti total!  Tetapi jika tujuan Anda menulis adalah untuk berbagi, maka apapun kata orang akan Anda sikapi dengan santai dan Anda tetap bersemangat menulis.

Menulis di manapun jadi! (sumber: worldhum.com)

Setuju? Menjadi penulis yuk…!!

Regard,
Nugroho S. Putra

E-mail: nugrohoputra27@gmail.com

Iklan

Bagaimana cara mengamankan ide yang (tiba-tiba) datang?

Pernahkah Anda tiba-tiba mendapatkan ide yang menurut Anda brilian? Mungkin ketika Anda sedang di kamar kecil, sedang mandi, sedang minum kopi, atau sedang termenung di depan kompi, atau malah sedang jalan-jalan atau naik kendaraan. Bagaimana rasanya? Waow, saya yakin Anda akan termenung sejenak, terpesona oleh kemunculan ide tersebut, merasa mendapatkan energi baru, atau bisa pula Anda senyum-senyum sendiri persis orang gila…ha…ha…ha.

Nah, sekarang, bagaimana jika Anda hanya sekedar mengingat-ingat ide tersebut, dan kemudian sejenak Anda kehilangan ide tersebut? Saya yakin, Anda akan merasa begitu menyesal, sebal…… dan biasanya hanya akan bisa menggerutu: ”Sialan, sayang banget tuh ide kok hilang sih….. huhh…!!” Padahal Anda sudah meng-gadang-gadang (ada istilah yang lebih baik untuk kata ini?) ide tersebut untuk dikembangkan lebih lanjut. Sayang sekali kan!

Hal paling mudah untuk menyelamatkan ide yang sering datang tanpa permisi adalah dengan segera mencatatnya. Ketika ide  tersebut datang, saya biasanya akan berhenti sejenak, diam, dan kemudian mencatat ide-ide yang berseliweran di benak. Anda dapat membuat ringkasannya di dalam HP (bisa menggunakan Message, kemudian menyimpannya dalam Save as a draft). Saya biasa pula menggunakan buku kecil yang biasanya selalu saya selipkan di saku atau tas. Tapi, hati-hati jika menggunakan lembaran-lembaran kertas. Saya pernah mengalami kejadian kehilangan lembaran kertas yang isinya kumpulan ide! Hmmm….ya saya ikhlaskan sajalah… Makanya, menuliskan ide di sebuah buku saku adalah cara yang paling baik. Lha bagaimana jika kalau Anda mendapatkan ketika sedang mandi? Apakah langsung dituliskan di lembaran-lembaran catatan. Ya, tidaklah! Ingat-ingat saja dulu sembari mandi yang bersih ya…. Begitu keluar kamar mandi, segera cari buku, lalu segera catat! Sekilas tampak seperti orang gak beres yah…? Masih belepotan air kok tahu-tahu menulis, terburu-buru lagi! Ya, gak pa-pa, daripada kehilangan ide yang siapa tahu menjadi modal kesuksesan Anda. Ya tho?

Jika Anda terbiasa membawa notebook atau netbook, Anda dapat langsung menyimpannya dalam hardisk. Bagi yang tak biasa, gak menjadi masalah. Saya malah masih lebih suka menggunakan buku saku daripada langsung menuliskan di kompu karena alasan sepele, menulisi sebuah buku saku lebih bebas, karena saya bisa menyertakan coretan, gambar, sketsa, dan semacamnya. Hal yang sulit dilakukan di sebuah kompu! Tetapi sekali lagi, ini terserah Anda lho! Gak ada paksaan.

Lha kalau gak ada media untuk ditulisi, sementara Anda sudah kebelet menuliskannya? Yah, gimana caranyalah! Anda toh bisa berhenti sejenak di sebuah warung kek, atau tempat tambal ban, atau apalah…. Minta secarik kertas (sobekan koran atau bekas bungkus rokok juga gak masalah), lalu tuliskan ide Anda! Beres kan! Dalam situasi begini, buang jauh-jauh rasa rikuh, apalagi malu. Wong gak telanjang kok malu? Lha wong para artis saja pada berlomba telanjang gak malu kok….^-^. Weleh, emang kita artis???

Apa saja yang perlu dicatat?

Pertama kali, tuliskan “judul” dari ide Anda. Ini penting, karena judul dapat Anda gunakan untuk memformulasikan, mengikat sekian banyak ide yang sekelompok, kemudian membatasi bahasan agar tidak terlalu liar (fokus). Hal ini penting, karena adakalanya, dan sering malah, ide-ide yang berseliweran tadi dijadikan satu. Hasilnya, gak jelas lagi arah ide tersebut! Kedua, Anda harus dapat menuliskan pokok-pokok ide secara sistematik. Tuliskan pokok-pokok tersebut mengikuti jalan berpikir yang runtut. Ketiga, Anda dapat mencatat pula beberapa hal yang masih relevan dengan ide pertama. Hal ini menguntungkan, terutama jika Anda kemudian mendapatkan ide baru setelah mencatat hal-hal kecil tersebut.

Membuat gambar untuk mengikat ide

Jika Anda gemar membuat sketsa, ide dapat diikat dengan cara menggambarkannya dalam gambar, bagan, skema, atau semacamnya. Gambar-gambar tersebut dapat Anda rangkai menjadi sebuah kelompok ide yang akan membentuk ide besar Anda.

Oke, jika sudah demikian, maka Anda akan tinggal menyimpannya, untuk kemudian Anda tuliskan selengkapnya jika Anda sudah mempunyai waktu yang cukup. Nah, tunggu apalagi, ayo…..ikatlah ide Anda sebelum menguap!

Regard,

Nugroho Susetya Putra

E-mail: nugrohoputra27@gmail.com

Pentingkah merapikan pustaka?

Pernahkah Anda “menderita” ketika kehilangan pustaka yang Anda cari? Atau Anda bingung mencari pustaka baru yang segera akan Anda butuhkan? Saya pernah mengalaminya, dan tidak hanya sekali gua kali, tapi sering…. (???) Lalu apa yang harus kita lakukan?

Pernah mendengar istilah Reference Manager (RM)? RM digunakan untuk mengoleksi, menata, dan menampilkan referensi (pustaka) yang dibutuhkan. Jika Anda mencari kata Reference Manager di mBah Google, maka Anda akan menemukan banyak sekali perangkat lunak yang mempunyai fungsi semacam itu, misalnya EndNote, Reference Manager, ProCite, dan Biblioscape (berbayar), dan Pybliographer, EverNote, dan Zotaro (yang tidak berbayar). Fungsi mereka sama, yaitu mengoleksi pustaka dari berbagai sumber (biasanya berasal dari pustaka digital), menata dan merapikannya menurut “aturan” yang Anda (bisa) tentukan, dan menampilkannya kembali jika Anda butuhkan.

Pentingkah untuk kita? Menurut saya, sangat penting! Saya kebetulan menggunakan EndNote yang cukup powerfull untuk mencari pustaka melalui internet. Memang, saya lebih sering mendapatkan hanya abstrak, namun di lain waktu saya sering pula mendapatkan pustaka full-text-nya. Pustaka-pustaka tersebut kemudian Anda kelola dengan baik, dan percayalah bahwa hal ini sangat memudahkan Anda untuk menulis. Saya sudah membuktikannya sejak 8 tahun yang lalu, dan sampai sekarang budaya ini masih saya pertahankan. Cobalah!

Tampilan logo EndNote (versi Mac)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tampilan feature EndNote

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Regard,

Nugroho

Menulis karya tulis ilmiah (secara) populer

 

write it and share it

write it and share it

 

Pagi ini saya membuka internet, dan teng..teng..teng..ketemu Jonru si Penulis Kreatif yang tak pernah kehilangan ide menulis. Saya sering mampir ke blognya (http://www.jonru.net) tetapi hanya sepintas-sepintas. Nah, pagi ini saya kok tiba-tiba tertarik untuk mendalami tulisan demi tulisan yang ada di blognya. Satu hal yang dapat saya tangkap dari tulisan-tulisannya adalah motivasi yang kuat dari seorang Jonru untuk terus menulis, seperti yang selalu dikatakannya, pokoknya menulis, menulis, dan menulis! Intinya, bagaimana caranya agar kita tidak mandeg menulis dan ide mengalir dengan lancar. Lalu, apa hubungannya dengan menulis kajian ilmiah (populer) yang selama ini saya tekuni?

Menulis karya tulis ilmiah populer sudah menjadi hobi saya sejak masa SMA menjelang mahasiswa. Dan sampai kini, hobi ini makin saya sukai. Nah, sesungguhnya, bagaimana sih caranya menulis sebuah karya tulis ilmiah populer itu? Samakah dengan menulis novel? Apapula bedanya dengan menulis karya tulis ilmiah murni?

Menulis sebuah karya tulis ilmiah populer sebenarnya hampir sama prosesnya dengan menulis karya tulis ilmiah murni, atau bahkan novel. Intinya, kita menyampaikan sebuah pesan yang dirangkai secara runtut, hingga ditemukan sebuah simpulan atau solusi atas sebuah pertanyaan yang kita kemukakan di awal tulisan. Pesan tersebut bisa saja berupa “temuan masalah”, atau ide murni dari Anda setelah merenung, membaca, atau berdiskusi dengan teman. Nah, pemilihan “pesan” atau “hal” ini akan menentukan menarik tidaknya tulisan kita. Perbedaan kedua  karya tulis tersebut adalah pada sifat tulisan karya tulis ilmiah populer yang lebih mudah dipahami karena ditulis dengan bahasa yang lebih renyah. Pokoknya tidak sampai membuat kening pembaca berkerut deh!

Tetapi, seringkali kita sulit menemukan hal yang menarik untuk diangkat sebagai sebuah tulisan. Hmm, sebenarnya kita bisa kok melatih “kepekaan” daya nalar kita untuk mencari dan menemukan hal-hal menarik di sekitar kita.

Contohnya adalah sebagai berikut (maaf saya lebih banyak mengeksplorasi serangga, sesuai dengan bidang yang saya kuasai). Ketika kita sedang makan, kemudian tiba-tiba datang seekor lalat dan hinggap di piring makanan di depan kita, maka saya yakin, kita akan mempunyai sederet pertanyaan menarik yang membutuhkan jawaban-jawaban, misalnya:

  1. Apa saja jenis lalat yang sering mengunjungi meja makan kita, karena kita sering menemukan ada lalat yang berwarna hitam, abu-abu, hijau, atau coklat dengan berbagai ukuran tubuh?
  2. Ketika kita menilik perilaku mereka, kita mungkin tertarik dengan cara mereka “merasai” atau “mencicipi” makanan. Pernah melihat kan?
  3. Ketika kita merasa risih dengan kedatangan mereka, kemudian mencoba untuk memukul dan membunuh mereka. Tetapi berhasilkah? Lebih sering gagal bukan? Nah, mengapa kok mereka susah dipukul? Bagaimana mereka bisa menghindari kibasan tangan kita dengan sangat cepat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dan sangat mungkin kita kembangkan menjadi sekian banyak tulisan ilmiah populer yang mengasikkan. Coba lihat pertanyaan nomor 1. Tidakkah kita tertarik ketika melihat bahwa lalat yang mengunjungi makanan kita bermacam-macam? Tidakkah kita  kemudian tergerak untuk mencari penjelasan lebih lanjut, apa nama spesies mereka masing-masing?

Nah, dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita dapat mulai menyusun kerangka tulisan yang terdiri dari (1) pengantar atau pendahuluan, (2) bahasan, dan (3) simpulan dan saran. Pada pengantar, kita dapat menyampaikan permasalahan yang kita anggap menarik secara runtut, singkat, dan menggunakan kalimat yang mudah dipahami. Ingat, kita sedang menulis sebuah tulisan ilmiah populer, artinya, meskipun kandungan ilmiah tetap kita jaga di dalam tulisan, namun harus disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca yang awam sekalipun. Semakin mudah dipahami, maka makin banyak calon pembaca yang terpikat.

Jika kita sudah merasa cukup dengan bagian pengantar, maka kita dapat mulai menguraikan satu per satu hal-hal yang terkait dengan hal-hal yang sudah kita tuliskan sebelumnya. Nah, di sinilah kita dituntut untuk mencari sebanyak mungkin informasi yang terkait . Silakan kunjungi google, dan “minta tolong” untuk mencarikan pustaka yang kita butuhkan. Atau kita bisa membongkar buku-buku atau pustaka cetakan lain yang terkait. Saya sendiri mempunyai perpustakaan digital di komputer saya yang saya kelola sedemikian rupa, sehingga memudahkan saya untuk menemukan pustaka yang dibutuhkan. Oya, kita memang sebaiknya juga mengindeks pustaka-pustaka yang ada, supaya mudah mencarinya kembali jika dibutuhkan. Perangkat lunak bibliografi mungkin dapat dimanfaatkan. Saya menggunakan perangkat lunak EndNote untuk mencari pustaka di internet (silakan kunjungi situsnya di sini), selain produk lain, misalnya Biblioscape dan sebagainya. Kita juga dapat memanfaatkan perangkat lunak ensiklopedia, baik yang berbayar semacam Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica, atau yang tersedia bebas semacam Wikipedia. Sampai saat ini, saya merasa sangat terbantu oleh mereka.

Hal terakhir yang harus kita lakukan adalah “menuntaskan” tulisan dengan menuliskan simpulan. Di bagian ini, kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tertulis pada bagian pengantar. Buatlah dengan singkat saja, menggunakan kalimat yang sederhana (dan jangan menggunakan kalimat bersayap!), namun jelas. Memang bukan hal yang sangat mudah untuk menuliskan bagian ini, tetapi sekali lagi kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih! Namun, bisa saja kita mencoba untuk membuat penasaran pembaca dengan menguraikan pertanyaan-pertanyaan yang lain, berdasarkan uraian kita di dalam badan tulisan. Nah, ini terserah pada kita.

Beberapa hal penting

Hal penting pertama yang harus kita ketahui tentang sebuah tulisan ilmiah populer adalah bahwa kita harus menyertakan opini atau pendapat pribadi kita (biasanya pada pengantar, sebagai alasan kita membuat tulisan tersebut), dan didukung dengan kajian pustaka yang cukup. Di sinilah pembaca akan dapat menilai bobot karya kita berdasarkan kemampuan kita untuk meramu opini kita dengan pustaka-pustaka yang terkait.

Hal kedua adalah bahwa tulisan harus runtut dan tidak meloncat-loncat. Mungkin kita menilai hal ini terlalu ribet, sulit, tidak perlu “banget”, dan sebagainya. Tetapi ingat, bahkan dalam novel fiksipun, keruntutan plot demi plot tulisan menjadi sebuah keharusan jika kita ingin pembaca kita merasa “terus penasaran” dan ingin terus mengikuti tulisan kita sampai akhir. Cobalahkita simak tulisan-tulisan penulis-penulis hebat. Sampai saat inipun, saya masih sering menggunakan buku Lima Sekawan-nya Enid Blyton lho untuk belajar mengelola menulis mengikuti kaidah keruntutan berpikir ini.

Hal penting ketiga adalah, bahwa kita harus menuliskannya dengan bahasa yang ringan, tidak terlalu banyak kata atau istilah yang rumit, asing, dan tidak biasa digunakan oleh awam. Ingat, kita menyasar ke pembaca yang mungkin tidak memahami ilmu kita. Istilahnya, kita adalah penerjemah sekaligus penghubung antara dunia ilmiah (sesuai dengan bidang keahlian kita), dan pembaca awam yang membutuhkan informasi dari ilmu kita.

Mandeg? Buntu? Ide menguap? Berusahalah terus menulis!

Sering, kita tiba-tiba kehilangan arah menulis, atau lebih parah lagi, kehilangan kata-kata untuk dituangkan dalam tulisan. Berhenti total! Menjengkelkan memang, jika hal ini terjadi. Hal lain, kita merasa bahwa tulisan yang sedang tulis tersebut tidak menarik, atau kita merasa kuatir bahwa tidak bakal ada orang yang membaca tulisan kita. Atau bisa pula terjadi, di tengah-tengah menulis, kita kehilangan arah tulisan karena merasa bahwa kita tiba-tiba tidak “ngeh” dengan tulisan yang sedang kita buat. Lantas, bagaimana dong sebaiknya?

Resep yang saya gunakan selama ini, dan terbukti cespleng adalah, terus saja menulis meskipun tulisannya acak-acakan. Setelah selesai, kita toh bisa memperbaiki atau memperhalusnya kan? Contohnya, jika kita tiba-tiba lupa akan sesuatu hal yang ingin kita tuliskan, maka kita dapat menuliskan dalam bentuk seperti di bawah ini (ini hanya sekedar contoh hal yang saya sering lakukan lho).

……makanan yang masuk ke dalam mulut serangga akan diteruskan ke …….. (cari di pustaka ya!), kemudian baru di………  –> ceritakan tentang proses pencernaan dan pengeluaran (cari di pustaka ini dan itu).

Nah, tampak bahwa di saat-saat seperti itu, saya benar-benar merasa “kosong”, otak sudah tidak mau lagi diajak kompromi. Silakan beristirahat sejenak, jalan-jalan sambil menghirup udara segar, atau minum air putih. Biasanya, kita akan merasa segar kembali, dan yup…. kembali deh semangat itu! Kemudian, buka pustaka-pustaka kita, atau buka tulisan yang sejenis di internet. Dari sana, kita akan mendapatkan “pintu” untuk keluar dari kebuntuan tadi.

Jangan dilupakan pula satu hal, yaitu selalu membawa kertas dan alat tulis sekedar untuk menuliskan ide yang kadang-kadang berseliweran di benak. Hal ini tampak sepele, tetapi sebenarnya sangat bermanfaat. Saya pernah merasakan kehilangan ide yang sebenarnya luar biasa untuk saat itu. Maka, jangan lupa catatan dan alat tulisnya ya.

Itu dulu deh! Lain kali disambung lagi. Keep writing and share your ideas!

Regard,

nsputra@faperta.ugm.ac.id