Mud-Puddling: Cara serangga untuk mendapatkan nutrisi penting

Masing-masing spesies serangga mempunyai perilaku makan yang unik. Beberapa serangga mempunyai perilaku makan yang berkesan tidak umum yang disebut mud-puddling. Puddling berasal dari kata puddle yang berarti kubangan. Secara umum, aktivitas mudpuddling didefinisikan sebagai pencarian nutrisi tambahan, terutama sodium (atau secara umum disebut garam) dan protein dari bahan-bahan non-tumbuhan (nektar). Kupu-kupu dan ngengat (ordo Lepidoptera) adalah golongan serangga yang umum diketahui sebagai pelaku puddling, meskipun aktivitas ini juga dilakukan oleh beberapa jenis Hemiptera dan Orthoptera.

 

Syntarucus plinius dan Euchrysops cnejus sedang melakukan puddling (http://www.flutters.org)

Syntarucus plinius dan Euchrysops cnejus sedang melakukan puddling (http://www.flutters.org)

Mengapa serangga melakukan mud-puddling?

Boggs dan Jackson, peneliti perilaku serangga dari Princeton University menjelaskan bahwa mud-puddling adalah aktivitas yang cukup rumit. Pada kupu-kupu dan ngengat, setidaknya ada dua alasan mengapa mereka melakukan mud-puddling. Pertama, mereka membutuhkan tambahan nutrisi tertentu, yaitu sodium, karena sumber pakan utamanya yaitu tumbuhan tidak menyediakan dalam jumlah memadai. Padahal sodium yang cukup dibutuhkan untuk mendukung proses reproduksi yang optimum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan sodium berakibat pada menurunnya jumlah telur yang dihasilkan. Jadi, aktivitas mud-puddling mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selain sodium, beberapa jenis senyawa lain juga didapatkan oleh serangga dari aktivitas ini, misalnya protein dan gula.

Alasan kedua, aktivitas mud-puddling bisa jadi merupakan upaya kompensasi untuk mendapatkan nutrisi tertentu oleh individu-individu lepidoptera jantan muda yang kalah bersaing dari lepidoptera betina atau jantan lain yang lebih tua pada pencarian nutrisi pada tumbuhan, sumber pakan utama mereka. Ingat, aktivitas pencarian pakan pada serangga sarat dengan persaingan yang sangat ketat. Oleh karena itu, mud-puddling diduga merupakan cara alternatif untuk mendapatkan nutrisi penting. Kecenderungan untuk melakukan puddling dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin dan kemampuan berkompetisi dari serangga, serta musim dan ketersediaan pakan utama mereka (nektar).

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa protein dan gula merupakan senyawa penarik bagi serangga untuk melakukan aktivitas mud-puddling. Jika Anda melihat kupu-kupu yang ‘minum’ pada cairan yang keluar dari buah-buahan yang pecah atau membusuk, maka bisa dipastikan mereka sedang mengkonsumsi gula dan alkohol sebagai sumber energi.

Bagaimana serangga melakukan mud-puddling?

Serangga yang melakukan mud-puddling pada umumnya akan menyesap cairan nutrisi dari tanah yang basah, meskipun beberapa serangga tertarik pula pada keringat manusia, kotoran binatang, darah (misalnya pada ngengat vampir), urin manusia, dan buah yang membusuk. Ketika melakukan puddling, serangga akan menyedot cairan dan meneruskannya melalui saluran pencernaan untuk kemudian dikeluarkan melalui anus. Pada beberapa serangga, misalnya Gluphisia septentrionis, cairan tadi diekskresikan setiap tiga detik. Penelitian menunjukkan fakta unik bahwa serangga jantan yang melakukan puddling mempunyai ileum (usus belakang bagian anterior) yang jauh lebih panjang daripada serangga betina yang tidak melakukan puddling.

 

Ngengat vampir (treehugger.com)

Ngengat vampir (treehugger.com)

Ngengat Gluphisia septentrionis (bugguide.net)

Ngengat Gluphisia septentrionis (bugguide.net)

Mayoritas pelaku mud-puddling adalah serangga jantan muda, meskipun pada beberapa jenis kupu-kupu, serangga betina juga melakukan perilaku serupa. Nampaknya, perbedaan jenis kelamin pelaku puddling ini berhubungan dengan dua hal, yaitu (1) bahwa serangga jantan membutuhkan sodium dalam jumlah cukup untuk mendukung aktivitas terbang yang lebih banyak daripada serangga betina, dan (2) serangga jantan akan mentransfer sodium dalam jumlah cukup banyak kepada pasangannya melalui spermatofor, misalnya pada ngengat Thymelicus lineola (Hesperidae). Dengan demikian, serangga betina tidak membutuhkan puddling sebagai aktivitas utama.

Bahan-bahan puddling

Selain bahan puddling yang berujud cairan, misalnya kubangan air pada tanah, urin, air mata, atau darah, beberapa serangga tertarik juga dengan bahan padat, misalnya kotoran mamalia dan burung, bangkai, dan buah-buah busuk. Salah satu contoh serangga yang tertarik dengan bangkai adalah walang sangit, Leptocorisa sp. Untuk mengendalikan serangga yang dianggap sebagai hama pada bulir padi masak susu ini, banyak orang menggunakan bangkai ketam atau ikan untuk memikat walang sangit. Setelah berhasil dikumpulkan pada perangkap bangkai tersebut, maka walang sangit tersebut mudah ditangkap kemudian dibunuh. Mungkin perilaku walang sangit ini juga bisa dikategorikan puddling ya?

Rujukan

  • Beck, J., E. Muhlenberg, & K. Fiedler. 1999. Mud-puddling behavior in tropical butterflies: in search of proteins or minerals? Oecologia 119: 140-148.
  • Biinziger, H., 1992. Remarkable new cases of moths drinking human tears in Thailand (Lepidoptera: Thyatiridae, Sphingidae, Notodontidae). Natural History of Bulletin of Siam Society 40: 91-102.
  • Boggs, C.L., & L.A. Jackson. 1991. Mud puddling by butterflies is not a simple matter. Ecological Entomology 16: 123-127.
  • Devries, P.J., & T.R. Walla. 2001. Species diversity and community structure in neotropical fruit-feeding butterflies. Biological Journal of the Linnean Society 74: 1-15.
  • Smedley, S.R., & T. Eisner. 1996. Sodium: A male moth’s gift to its offspring. Proceeding Natural Academic of Sciences 93: 809-813.

Tinggalkan komentar