Kecoa: Binatang menjijikkan yang sebenarnya bermanfaat

Periplaneta americana (Sumber: http://www.dirtdoctor.com)

Kecoa mungkin menjadi salah satu serangga yang paling banyak berhubungan dengan manusia. Anda tentunya amat sering bertemu dengan binatang ini di rumah bukan? Hati-hati lho, jika kecoa suka keluyuran di dalam rumah, karena itu pertanda bahwa rumah Anda kotor. Oya? Ya, kecoa adalah serangga perombak bahan organik, dan amat menyukai bahan-bahan yang berbau tajam (mungkin juga busuk atau sedang mengalami proses pembusukan).

Ciri kecoa amat khas: bertubuh pipih, kepala “nyungsep” di bawah pronotumnya yang melebar, berwarna coklat, antenanya panjang, dan kakinya ditumbuhi duri-duri. Pernah dihinggapi kecoa? Bagaimana rasanya? Dijamin, Anda pasti bergidik….jijik sekaligus geli.

Jumlah spesies kecoa cukup beragam: hingga kini tercatat lebih dari 4.500 spesies kecoa telah diidentifikasi. Kecoa yang digolongkan ke dalam ordo Blattaria ini dapat dibagi menjadi lima famili, yaitu Cryptocercidae, Blattidae, Blatellidae, Blaberidae, dan Polyphagidae.

Kecoa adalah serangga yang bermetamorfosis secara sederhana, yaitu akan melewati tahap hidup telur, nimfa (kecoa muda yang mirip dengan induknya, kecuali sayapnya belum berkembang), kemudian menjadi kecoa dewasa. Kecoa betina membawa sekumpulan telur di dalam sebuah kantung telur (ootheca) yang digendongnya di ujung abdomennya. Kemampuan reproduksi kecoa cukup tinggi. Spesies Periplaneta americana misalnya, sanggup bertelur sebanyak kurang lebih 700 butir per tahun.

Seperti lazimnya organisme pemakan bahan organik, kecoa membutuhkan organisme simbion berupa bakteroid yang hidup nyaman di mycetocytes di dalam jaringan lemak tubuh, dan mereka terikat saling menguntungkan (simbiosis mutualistik). Bakteroid ini memperoleh perlindungan di dalam tubuh kecoa, sedangkan bakteroid menyediakan vitamin yang dibutuhkan oleh kecoa. Contoh endosimbion kecoa adalah Blattabacterium yang menghuni Badan Lemak kecoa genusCryptocercus.

Bagi manusia, kecoa adalah serangga yang berbahaya. Beberapa spesies kecoa diketahui menularkan penyakit pada manusia. Misalnya, kecoa Jerman (Blatella germanica) dan kecoa Asia (B. asahinai) dapat menularkan patogen Toxoplasma gondiiyang dapat menular melalui hewan ternak/ peliharaan. Di samping itu, kecoa juga membawa Salmonella dan E.coli yang menjadi pencemar makanan yang menyebabkan keracunan makanan dan diare.

Pengendalian kecoa gampang-gampang susah, karena beberapa penelitian telah menunjukkan gejala perkembangan resistensi pada beberapa spesies setelah disemprot dengan pestisida. Artinya, kemampuan adaptasinya terhadap tekanan lingkungan cukup baik. Salah satu strategi termudah adalah menjaga lingkungan rumah tetap bersih dan juga kering, karena kelembaban udara juga menjadi pemikat kecoa untuk singgah. Daun salam, potongan jeruk lemon atau mentimun, dan lumatan bawang putih diketahui mampu mengusir kecoa. Silakan dicoba, meskipun…..berhasil atau tidak, silakan ditanggung sendiri yah…..

Tetapi, bagaimanapun juga, beberapa spesies kecoa mempunyai beberapa fungsi yang secara ekologis menguntungkan. P. americana adalah perombak bahan organik. Kita bisa membayangkan jika kotoran manusia, sisa-sisa nasi dan sayur, kayu-kayu busuk, dan semacamnya tidak segera dihancurkan, lantas apakah bumi kita sanggup menampun “sampah” yang sedemikian banyak itu? Nah, sekarang, kita melihat mereka dari sisi mana?

Regard,

Nugroho Susetya Putra

(Tulisan ini adalah ringkasan dari artikel yang terbit di Majalah SERANGGA volume 1 nomor 1 Tahun 1, November 2010)

Trophallaxis

Kata trophallaxis berasal dari dua kata, yaitu tropho– yang berarti makanan, dan –allaxis yang berarti pertukaran. Di dalam dunia binatang, kata ini digunakan untuk menyebutkan sebuah aktivitas pertukaran makanan dari mulut-ke-mulut (stomodeal transfer) maupun dari anus-ke-mulut (proctodeal transfer) yang dilakukan oleh beberapa kelompok serangga, yaitu semut, rayap, tawon dan lebah. Aktivitas ini memungkinkan individu serangga bertukar informasi (misal pada semut pekerja; dianggap sebagai komunikasi kimiawi), atau menurut August Forel (entomolog Swiss), berguna untuk menjaga hubungan antar individu dalam sebuah koloni serangga dan menjaga kelancaran arus informasi. Pada rayap, aktivitas trophallaxis ini berfungsi untuk menularkan mikrobia simbion dari generasi ke generasi berikutnya. Pada beberapa spesies semut, misalnya Camponotus pennsylvanius, trophallaxis terjadi antara semut minor (pekerja) yang menyuapkan pakan kepada semut major (prajurit) yang memiliki mandibula besar, sehingga sulit untuk mendapatkan pakan sendiri.

(Entomopedia pada Maj. SERANGGA edisi Januari 2011)

Regard,

Nugroho S. Putra

Dua ekor semut spesies Formica obscuripes sedang melakukan aktivitas trophallaxis (Sumber: ScienceBlogs)

Pemanasan Global dan Peningkatan Populasi Serangga

Setahun terakhir ini agaknya menjadi tahun yang amat berat bagi para petani. Bagaimana tidak? Serangan serangga (hama) datang silih berganti; wereng coklat yang hingga kini belum bisa teratasi, kutu putih pada pepaya yang ternyata juga menyerang tanaman lain, dan terakhir ulat bulu yang populasinya meledak demikian dahsyat (lihat posting sebelumnya). Fenomena apa ini?

Anda pernah mendengar istilah Global Warming atau Pemanasan Global (PG)? Pada tulisan ini, saya ingin membahas kaitan antara PG dengan peningkatan populasi serangga, karena kebetulan pustaka-pustaka yang membahas hal tersebut tersedia cukup banyak. Jadi, ada baiknya saya rangkum di sini ya. Oke, yuk dilanjut.

Definisi umum dari PG adalah peningkatan rerata suhu di permukaan air dan tanah. Tahukah Anda, bahwa semenjak Revolusi Industri yang terjadi pada awal abad ke-19, yaitu ketika upaya manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam dan manusia meningkat tajam, maka suhu permukaan air dan bumi ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Informasi dari Kiritani (2005) menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan suhu sekitar 0,6 + 0,2°C sepanjang abad ke 20 ini, setidaknya itulah hasil dari pengukuran oleh Badan Meteorologi Jepang. Bagi manusia, kenaikan suhu sekian bukan menjadi masalah berarti. Namun, bagi serangga, peningkatan suhu sebesar itu sudah mengubah pola-pola fisiologis dalam sistem kehidupan mereka yang akan saya bahas di bagian akhir tulisan ini.

Sekarang pertanyaan kita adalah, faktor apa yang menyebabkan suhu bumi meningkat?

Jawabannya cukup mudah: faktor aktivitas manusia yang amat intens dari tahun ke tahun! Setidaknya ada dua aktivitas manusia yang dituduh sebagai penyebab terjadinya PG, yaitu (1) pembakaran fosil (minyak dan batubara), dan (2) deforestasi (penggundulan hutan). Dua aktivitas ini mula-mula akan meningkatkan kadar gas-gas (yang kemudian disebut dengan Gas Rumah Kaca, yaitu karbondioksida, metan, nitrosoksida, ozon, dan klorfluorokarbon atau dikenal dengan CFC). Dari gas-gas ini, karbondioksida menyumbangkan setidaknya 50%. Nah, pengamatan para ahli menyimpulkan bahwa sejak Revolusi Industri hingga kini, telah terjadi peningkatan kadar karbondioksida di permukaan bumi sebesar kira-kira 30% dari 280 ppm menjadi 377 ppm. Kok angka kenaikannya cuma kecil? Tunggu dulu, yuk kita lanjutkan dulu.
Menurut situs ScepticalScience, kenaikan panas bumi dimulai dari “perilaku” bumi melalui perputaran pada poros, yang pada gilirannya akan menaikkan suhu air laut yang kemudian memicu pelepasan karbondioksida ke atmosfer. Kejadian ini akan cenderung meningkatkan suhu bumi. Akhirnya, dengan makin tingginya kadar karbondioksida di atmosfer, maka suhu permukaan bumi juga akan meningkat, termasuk suhu air laut tadi. Demikian terjadi terus-menerus dan saling terkait, terlebih dengan kehadiran gas-gas rumah kaca yang lain yang menambah kenaikan suhu secara global.

Industri, salah satu hasil upaya manusia yang dituduh memicu terjadinya PG (Sumber: http://vinavilanana.student.umm.ac.id)

Bagaimana PG memicu perubahan-perubahan biologis pada serangga?

Silakan melihat pada skema berikut.

Dampak potensial dari perubahan iklim pada individu spesies serangga dan dampak lanjutannya pada biodiversitas dan susunan komunitas organisme (Menendez, 2007 dengan modifikasi)

Dari grafik tersebut tampak bahwa suhu merupakan penyebab perubahan fenologi serangga. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu dapat memperpendek tahap larva, sehingga menjadi imago lebih cepat. Secara kuantitatif, hal ini akan meningkatkan jumlah individu dalam kurun waktu yang sama. Peningkatan suhu juga meningkatkan jangkauan penyebaran, menurunkan kematian akibat suhu rendah (pada musim dingin di negara-negara empat musim), dan kemunculan lebih awal pada musim semi yang lebih hangat dan datang lebih awal. Fenomena yang mengikuti perubahan fenologi dan penyebaran serangga adalah perubahan hubungan antar spesies serangga (herbivora-herbivora, herbivora-karnivora, dan karnivora-karnivora). Hal ini secara langsung maupun tak langsung akan menyebabkan perubahan susunan komunitas artropoda di satu ekosistem akibat adanya spesies yang musnah, atau sebaliknya ada spesies yang menjadi dominan. Di dalam proses ini, dominansi spesies-spesies herbivora yang berinang banyak (polifaga) patut dikuatirkan. Bagaimana tidak? Jika spesies-spesies polifaga tersebut menjadi dominan, maka dapat dipastikan jenis tanaman yang akan dirusak juga akan bertambah. Nah…!

Fenomena kemunculan spesies serangga hama polifaga

Dalam beberapa tahun terakhir, spesies-spesies hama yang bersifat polifaga jumlahnya semakin banyak. Sebagai contoh, munculnya serangga hama pendatang (dari Amerika Selatan), kutu Paracoccus sp (Homoptera: Pseudococcidae) di beberapa pulau di Indonesia patut diwaspadai, karena serangga ini mempunyai daya reproduksi yang tinggi. Menurut Walker et al. (2003), spesies P. marginatus yang hidup di Amerika Serikat mempunyai inang lebih dari 55 jenis tanaman dari kira-kira 25 genus, termasuk pepaya, adpokat, jeruk, kapas, tomat, cabai, kacang-kacangan, mangga yang umum terdapat di Indonesia. Wow!

Nah, Anda bisa membayangkan jika spesies tersebut mampu tumbuh dan berkembang biak, maka kerusakan masif pada tanaman-tanaman tinggal menunggu waktu. Strategi multikultur kemungkinan bisa saja gagal menghadapi hama polifaga ini.

Diffenbaugh et al. (2008) mengungkapkan pula sebuah fakta bahwa hama jagung di Amerika Serikat akan meningkat potensi bahayanya karena peningkatan suhu memungkinkan mereka bertahan terhadap musim dingin dan melebarkan jangkauan terbang mereka ke daerah-daerah penanaman jagung yang lain. Hal ini tentunya menjadi sebuah kekuatiran tersendiri jika memang benar-benar terjadi! Ngengat Heliothis zea, salah satu hama terpenting tanaman jagung di Amerika Serikat misalnya, diuntungkan karena kemampuan menyebarnya (kosmopolitan) menjadi bertambah ke daerah-daerah yang semula tidak disukai karena bersuhu rendah, namun kini menjadi lebih hangat.

Lalu, apa upaya kita?

PG merupakan sebuah keniscayaan untuk dicegah. Namun, pengaruh tidak langsung PG pada tanaman melalui pertumbuhan dan perkembangan populasi serangga hama dapat diminimalkan. Caranya? Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah (1) menyediakan data iklim yang lengkap dan terus-menerus, yang jika digabungkan dengan (2) pemantauan dinamika populasi serangga hama yang juga dilakukan secara terus-menerus, akan menghasilkan sebuah (3) model peramalan pertumbuhan dan perkembangan populasi serangga hama di suatu kawasan. Tentu saja, upaya tersebut tidak akan berhasil jika tidak ada koordinasi yang baik di antara pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku pertanian di tingkat lapangan. Di samping itu, penanaman tanaman mengikuti zonasi lokasi tanam yang cocok agaknya juga harus diupayakan, karena kecocokan lokasi tanam ini paling tidak akan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan serangga hama.

"Kemungkinan" yang mungkin terjadi ketika PG benar-benar sudah parah: kota kita ada di tengah samudra! (Sumber: http://amadeaswifty.blogspot.com)

Regard,

Nugroho

Pustaka

Diffenbaugh, N.S., C.H. Krupke, M.A. White, & C.E.Alexander. 2008. Global warming presents new challenges for maize pest management. Environmental Research Letters 3: 1-9.

Houghton, J., 2005. Global warming. Reports on progress in physics 68: 1343-1403.

Kiritani, K., 2006. Predicting impacts of global warming on population dynamics and distribution of arthropods in Japan. Population Ecology 48: 5-12.

Menendez, R., 2007. How are insects responding to global warming? Tijdrischrift voor Entomologie 150: 355-365.

(Tulisan ini adalah ringkasan dari tulisan lengkap tentang Pengaruh PG terhadap Serangga yang akan diterbitkan di Majalah SERANGGA edisi bulan Mei 2011. Tunggu tanggal terbitnya!)

Langganan Corporate untuk institusi, perusahaan, dan lembaga

Majalah SERANGGA juga tersedia untuk dilanggan oleh institusi, perusahaan atau lembaga. Adapun skema harga langganan (khusus) untuk tahun perdana adalah:

Rp. 320.000Rp. 332.000 (luar Jawa) untuk enam edisi (November 2010, Januari, April, Mei, Juli, dan September 2011) masing-masing 2 eksemplar, tanpa tambahan ongkos kirim ke semua lokasi di Indonesia.

Ayo dapatkan harga khusus ini sebelum kehabisan!

Silakan unduh formulir berlangganan corporate di sini. Calon pelanggan individu dapat mengunduh formulir di sini.

Majalah Serangga online di FaceBook

Dear pembaca budiman,

Untuk mengoptimalkan arus informasi dari kami, atau sebaliknya dari para pembaca, maka kami membuka “Halaman” berjudul “Majalah Serangga” di-account Facebook Nugroho Susetya Putra. Silakan ditilik. Silakan pula memberikan komentar, kritik, saran, pertanyaan, atau sekedar say hello. Perhatian dari para pembaca sungguh merupakan tambahan semangat yang luar biasa bagi kami untuk meneruskan langkah membesarkan Majalah Serangga yang semoga dapat mempromosikan Ilmu Serangga (Entomologi) dengan baik.

Semoga bermanfaat.

Regard,

Redaksi Majalah Serangga

Edisi April 2011 terbit!

Pembaca budiman,

Tiada hal kecuali syukur yang kami ucapkan, akhirnya edisi Maret yang kemudian kami undurkan menjadi edisi April, berhasil terbit di tengah kesempitan waktu, tenaga, dan pikiran. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan yang amat sangat ini, terutama kepada pelanggan yang sudah dengan komitmennya yang tinggi bersedia melanggan, dan juga kontributor yang sudah mengirimkan tulisan maupun foto-foto yang indah. Tak banyak yang bisa kami lakukan untuk membalas perhatian, dukungan, dan terutama doa dari para pemerhati majalah ini, kecuali doa kami agar Tuhan Yang Maha Berilmu membalas semua bentuk bantuan dari para pemerhati.

Semoga, majalah yang kami rintis dan masih butuh bimbingan dan dukungan ini dapat berkembang menjadi media komunikasi ilmiah (populer) yang dapat mencerahkan kita semua, terutama dalam bidang ilmu serangga. Tak surut kami pinta dukungan berupa kritik, saran, kiriman tulisan atau gambar (foto), dan kesediaan untuk membaca majalah ini dengan membeli atau melanggannya. Perlu pula kami sampaikan, bahwa mulai edisi ini, kami sudah mencantumkan nomor ISSN, yang berarti bahwa majalah ini sudah diakui oleh lembaga yang berwenang (dalam hal ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), sehingga bagi pembaca yang ingin menggunakan karya-karyanya untuk keperluan administrasi, maka dapat memanfaatkan majalah ini. Detil isi majalah edisi April 2011 dapat dilihat di tab Majalah SERANGGA online pada blog ini.

Perbaikan akan terus pula kami lakukan demi kenyamanan pembaca untuk mendapatkan informasi dari kami. Insya Allah mulai edisi 4 mendatang, kami akan memperbaiki penampilan majalah secara keseluruhan, dan beberapa perbaikan dalam isi. Semoga lebih menghibur dan mencerahkan.

Mari berbagi dan mencerahkan. Semoga bermanfaat.

Salam,

Nugroho S. Putra

Cover edisi April 2011