Sebuah renungan: Kupu-kupu dan ulat, merugikan atau menguntungkan?

Pernahkah Anda mengamati secara teliti, bagaimana seekor ulat yang gemuk, jelek, dan mengerikan, akan berubah wujud menjadi pupa, kemudian berubah lagi menjadi kupu-kupu yang cantik?

Birdwing, Ornithoptera euphorion, salah satu spesies kupu-kupu terbesar. Indah bukan? (en.wikipedia.org)

Saya pernah menanyakan kepada mahasiswa begini.

Saya: “Apakah ulat itu merugikan?”

Mahasiswa: “Yaaa…”

Saya: “Apakah kupu-kupu merugikan?”

Mahasiswa:  “Tidakkk…”

Saya: “Jadi ulat atau kupu-kupu itu merugikan atau menguntungkan?”

Mahasiswa:”????”

Saya tertawa geli melihat ekspresi para mahasiswa yang kebingungan. Beberapa garuk-garuk kepala yang saya yakin tidak gatal….ha…ha…ha….

Menurut Anda, apakah kedua makhluk ini merugikan? Atau sebaliknya, menguntungkan? Oke, mari kita diskusikan.

Kehidupan ulat dan kupu-kupu dimulai dari telur yang diletakkan oleh kupu-kupu. Telur ini akan menetas menjadi larva (orang menyebutnya ulat atau kalau orang bule bilang worm). Nah, larva ini biasanya akan memakan jaringan tanaman. Pertanyaannya, apakah aktivitas ulat yang makan jaringan tanaman ini lantas dianggap merugikan tanaman (dan manusia)? Lantas, jika Anda makan sayur-sayuran, maka semestinya Anda juga dianggap merugikan tanaman dong?? Nah! Bukankah memang jaringan tanaman tersebut menjadi pakan alami bagi si ulat?

Ulat jeruk, Papilio cresphontes. Bayangkan jika daun jeruk kita “dikeroyok” ulat-ulat ini (en.wikipedia.org)

Tahukah Anda, ketika ulat melakukan aktivitas makan, mereka juga terus-menerus mengeluarkan tahi. Cobalah amati baik-baik seekor ulat yang sedang makan daun. Ketika mulut mereka asyik menggerumisi daun, lubang anus merekapun mengeluarkan tahi yang berjatuhan di bawah pohon. Ternyata, menurut penelitian para ahli, tahi ulat mengandung materi nitrogen dan lain-lain, yang berguna sebagai hara tanaman. Jadi, ulat sebenarnya sudah “membayar” jaringan yang sudah mereka lahap dari tanaman dengan “pupuk” bagi tanaman tersebut. Artinya, tanaman dan ulat sebenarnya sedang melakukan transaksi bukan?

Selanjutnya, setelah puas, ulat akan menghentikan aktivitas makan, kemudian “bertapa” dalam bentuk pupa atau kepompong. Rupanya pada tahap ini, di dalam tubuh pupa sedang terjadi proses kimiawi yang maha dahsyat, yang kemudian pada saatnya akan menjelma menjadi kupu-kupu yang amat indah! Nah, pertanyaannya sekarang, apa peran kupu-kupu di alam?

Banyak penelitian membeberkan fakta bahwa kupu-kupu adalah “teman” tumbuhan yang sangat penting. Kupu-kupu sering diidentikkan dengan penyerbukan pada tumbuhan (tanaman). Artinya, kupu-kupu menguntungkan tumbuhan (tanaman) bukan?

Nah, jika demikian, kupu-kupu atau ulat itu merugikan atau menguntungkan? Oke, saya pikir jawaban yang paling mudah adalah:

  1. Ketika mereka ada dalam tahap kupu-kupu, maka mereka berperan positif atau menguntungkan bagi tumbuhan (tanaman).
  2. Ketika mereka ada dalam tahap larva (ulat), maka mereka mungkin merugikan tanaman, tetapi mungkin menguntungkan manusia, jika mereka makan pada tumbuhan pengganggu (gulma). Sebagai tambahan, jika mereka memproduksi tahi yang cukup banyak, maka secara umum, mereka akan menguntungkan tumbuhan (tanaman) karena meningkatkan kesuburan tumbuhan (tanaman).

Jadi, intinya, kita harus memahami perikehidupan mereka secara lengkap, tidak parsial, dan berimbang. Siapkah kita memahami mereka? Jika tertarik, silakan berkunjung ke laman ini dan ini. Semoga bermanfaat.

Salam,

Nugroho S. Putra