Pentingkah merapikan pustaka?

Pernahkah Anda “menderita” ketika kehilangan pustaka yang Anda cari? Atau Anda bingung mencari pustaka baru yang segera akan Anda butuhkan? Saya pernah mengalaminya, dan tidak hanya sekali gua kali, tapi sering…. (???) Lalu apa yang harus kita lakukan?

Pernah mendengar istilah Reference Manager (RM)? RM digunakan untuk mengoleksi, menata, dan menampilkan referensi (pustaka) yang dibutuhkan. Jika Anda mencari kata Reference Manager di mBah Google, maka Anda akan menemukan banyak sekali perangkat lunak yang mempunyai fungsi semacam itu, misalnya EndNote, Reference Manager, ProCite, dan Biblioscape (berbayar), dan Pybliographer, EverNote, dan Zotaro (yang tidak berbayar). Fungsi mereka sama, yaitu mengoleksi pustaka dari berbagai sumber (biasanya berasal dari pustaka digital), menata dan merapikannya menurut “aturan” yang Anda (bisa) tentukan, dan menampilkannya kembali jika Anda butuhkan.

Pentingkah untuk kita? Menurut saya, sangat penting! Saya kebetulan menggunakan EndNote yang cukup powerfull untuk mencari pustaka melalui internet. Memang, saya lebih sering mendapatkan hanya abstrak, namun di lain waktu saya sering pula mendapatkan pustaka full-text-nya. Pustaka-pustaka tersebut kemudian Anda kelola dengan baik, dan percayalah bahwa hal ini sangat memudahkan Anda untuk menulis. Saya sudah membuktikannya sejak 8 tahun yang lalu, dan sampai sekarang budaya ini masih saya pertahankan. Cobalah!

Tampilan logo EndNote (versi Mac)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tampilan feature EndNote

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Regard,

Nugroho

Iklan

Menulis karya tulis ilmiah (secara) populer

 

write it and share it

write it and share it

 

Pagi ini saya membuka internet, dan teng..teng..teng..ketemu Jonru si Penulis Kreatif yang tak pernah kehilangan ide menulis. Saya sering mampir ke blognya (http://www.jonru.net) tetapi hanya sepintas-sepintas. Nah, pagi ini saya kok tiba-tiba tertarik untuk mendalami tulisan demi tulisan yang ada di blognya. Satu hal yang dapat saya tangkap dari tulisan-tulisannya adalah motivasi yang kuat dari seorang Jonru untuk terus menulis, seperti yang selalu dikatakannya, pokoknya menulis, menulis, dan menulis! Intinya, bagaimana caranya agar kita tidak mandeg menulis dan ide mengalir dengan lancar. Lalu, apa hubungannya dengan menulis kajian ilmiah (populer) yang selama ini saya tekuni?

Menulis karya tulis ilmiah populer sudah menjadi hobi saya sejak masa SMA menjelang mahasiswa. Dan sampai kini, hobi ini makin saya sukai. Nah, sesungguhnya, bagaimana sih caranya menulis sebuah karya tulis ilmiah populer itu? Samakah dengan menulis novel? Apapula bedanya dengan menulis karya tulis ilmiah murni?

Menulis sebuah karya tulis ilmiah populer sebenarnya hampir sama prosesnya dengan menulis karya tulis ilmiah murni, atau bahkan novel. Intinya, kita menyampaikan sebuah pesan yang dirangkai secara runtut, hingga ditemukan sebuah simpulan atau solusi atas sebuah pertanyaan yang kita kemukakan di awal tulisan. Pesan tersebut bisa saja berupa “temuan masalah”, atau ide murni dari Anda setelah merenung, membaca, atau berdiskusi dengan teman. Nah, pemilihan “pesan” atau “hal” ini akan menentukan menarik tidaknya tulisan kita. Perbedaan kedua  karya tulis tersebut adalah pada sifat tulisan karya tulis ilmiah populer yang lebih mudah dipahami karena ditulis dengan bahasa yang lebih renyah. Pokoknya tidak sampai membuat kening pembaca berkerut deh!

Tetapi, seringkali kita sulit menemukan hal yang menarik untuk diangkat sebagai sebuah tulisan. Hmm, sebenarnya kita bisa kok melatih “kepekaan” daya nalar kita untuk mencari dan menemukan hal-hal menarik di sekitar kita.

Contohnya adalah sebagai berikut (maaf saya lebih banyak mengeksplorasi serangga, sesuai dengan bidang yang saya kuasai). Ketika kita sedang makan, kemudian tiba-tiba datang seekor lalat dan hinggap di piring makanan di depan kita, maka saya yakin, kita akan mempunyai sederet pertanyaan menarik yang membutuhkan jawaban-jawaban, misalnya:

  1. Apa saja jenis lalat yang sering mengunjungi meja makan kita, karena kita sering menemukan ada lalat yang berwarna hitam, abu-abu, hijau, atau coklat dengan berbagai ukuran tubuh?
  2. Ketika kita menilik perilaku mereka, kita mungkin tertarik dengan cara mereka “merasai” atau “mencicipi” makanan. Pernah melihat kan?
  3. Ketika kita merasa risih dengan kedatangan mereka, kemudian mencoba untuk memukul dan membunuh mereka. Tetapi berhasilkah? Lebih sering gagal bukan? Nah, mengapa kok mereka susah dipukul? Bagaimana mereka bisa menghindari kibasan tangan kita dengan sangat cepat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dan sangat mungkin kita kembangkan menjadi sekian banyak tulisan ilmiah populer yang mengasikkan. Coba lihat pertanyaan nomor 1. Tidakkah kita tertarik ketika melihat bahwa lalat yang mengunjungi makanan kita bermacam-macam? Tidakkah kita  kemudian tergerak untuk mencari penjelasan lebih lanjut, apa nama spesies mereka masing-masing?

Nah, dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita dapat mulai menyusun kerangka tulisan yang terdiri dari (1) pengantar atau pendahuluan, (2) bahasan, dan (3) simpulan dan saran. Pada pengantar, kita dapat menyampaikan permasalahan yang kita anggap menarik secara runtut, singkat, dan menggunakan kalimat yang mudah dipahami. Ingat, kita sedang menulis sebuah tulisan ilmiah populer, artinya, meskipun kandungan ilmiah tetap kita jaga di dalam tulisan, namun harus disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca yang awam sekalipun. Semakin mudah dipahami, maka makin banyak calon pembaca yang terpikat.

Jika kita sudah merasa cukup dengan bagian pengantar, maka kita dapat mulai menguraikan satu per satu hal-hal yang terkait dengan hal-hal yang sudah kita tuliskan sebelumnya. Nah, di sinilah kita dituntut untuk mencari sebanyak mungkin informasi yang terkait . Silakan kunjungi google, dan “minta tolong” untuk mencarikan pustaka yang kita butuhkan. Atau kita bisa membongkar buku-buku atau pustaka cetakan lain yang terkait. Saya sendiri mempunyai perpustakaan digital di komputer saya yang saya kelola sedemikian rupa, sehingga memudahkan saya untuk menemukan pustaka yang dibutuhkan. Oya, kita memang sebaiknya juga mengindeks pustaka-pustaka yang ada, supaya mudah mencarinya kembali jika dibutuhkan. Perangkat lunak bibliografi mungkin dapat dimanfaatkan. Saya menggunakan perangkat lunak EndNote untuk mencari pustaka di internet (silakan kunjungi situsnya di sini), selain produk lain, misalnya Biblioscape dan sebagainya. Kita juga dapat memanfaatkan perangkat lunak ensiklopedia, baik yang berbayar semacam Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica, atau yang tersedia bebas semacam Wikipedia. Sampai saat ini, saya merasa sangat terbantu oleh mereka.

Hal terakhir yang harus kita lakukan adalah “menuntaskan” tulisan dengan menuliskan simpulan. Di bagian ini, kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tertulis pada bagian pengantar. Buatlah dengan singkat saja, menggunakan kalimat yang sederhana (dan jangan menggunakan kalimat bersayap!), namun jelas. Memang bukan hal yang sangat mudah untuk menuliskan bagian ini, tetapi sekali lagi kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih! Namun, bisa saja kita mencoba untuk membuat penasaran pembaca dengan menguraikan pertanyaan-pertanyaan yang lain, berdasarkan uraian kita di dalam badan tulisan. Nah, ini terserah pada kita.

Beberapa hal penting

Hal penting pertama yang harus kita ketahui tentang sebuah tulisan ilmiah populer adalah bahwa kita harus menyertakan opini atau pendapat pribadi kita (biasanya pada pengantar, sebagai alasan kita membuat tulisan tersebut), dan didukung dengan kajian pustaka yang cukup. Di sinilah pembaca akan dapat menilai bobot karya kita berdasarkan kemampuan kita untuk meramu opini kita dengan pustaka-pustaka yang terkait.

Hal kedua adalah bahwa tulisan harus runtut dan tidak meloncat-loncat. Mungkin kita menilai hal ini terlalu ribet, sulit, tidak perlu “banget”, dan sebagainya. Tetapi ingat, bahkan dalam novel fiksipun, keruntutan plot demi plot tulisan menjadi sebuah keharusan jika kita ingin pembaca kita merasa “terus penasaran” dan ingin terus mengikuti tulisan kita sampai akhir. Cobalahkita simak tulisan-tulisan penulis-penulis hebat. Sampai saat inipun, saya masih sering menggunakan buku Lima Sekawan-nya Enid Blyton lho untuk belajar mengelola menulis mengikuti kaidah keruntutan berpikir ini.

Hal penting ketiga adalah, bahwa kita harus menuliskannya dengan bahasa yang ringan, tidak terlalu banyak kata atau istilah yang rumit, asing, dan tidak biasa digunakan oleh awam. Ingat, kita menyasar ke pembaca yang mungkin tidak memahami ilmu kita. Istilahnya, kita adalah penerjemah sekaligus penghubung antara dunia ilmiah (sesuai dengan bidang keahlian kita), dan pembaca awam yang membutuhkan informasi dari ilmu kita.

Mandeg? Buntu? Ide menguap? Berusahalah terus menulis!

Sering, kita tiba-tiba kehilangan arah menulis, atau lebih parah lagi, kehilangan kata-kata untuk dituangkan dalam tulisan. Berhenti total! Menjengkelkan memang, jika hal ini terjadi. Hal lain, kita merasa bahwa tulisan yang sedang tulis tersebut tidak menarik, atau kita merasa kuatir bahwa tidak bakal ada orang yang membaca tulisan kita. Atau bisa pula terjadi, di tengah-tengah menulis, kita kehilangan arah tulisan karena merasa bahwa kita tiba-tiba tidak “ngeh” dengan tulisan yang sedang kita buat. Lantas, bagaimana dong sebaiknya?

Resep yang saya gunakan selama ini, dan terbukti cespleng adalah, terus saja menulis meskipun tulisannya acak-acakan. Setelah selesai, kita toh bisa memperbaiki atau memperhalusnya kan? Contohnya, jika kita tiba-tiba lupa akan sesuatu hal yang ingin kita tuliskan, maka kita dapat menuliskan dalam bentuk seperti di bawah ini (ini hanya sekedar contoh hal yang saya sering lakukan lho).

……makanan yang masuk ke dalam mulut serangga akan diteruskan ke …….. (cari di pustaka ya!), kemudian baru di………  –> ceritakan tentang proses pencernaan dan pengeluaran (cari di pustaka ini dan itu).

Nah, tampak bahwa di saat-saat seperti itu, saya benar-benar merasa “kosong”, otak sudah tidak mau lagi diajak kompromi. Silakan beristirahat sejenak, jalan-jalan sambil menghirup udara segar, atau minum air putih. Biasanya, kita akan merasa segar kembali, dan yup…. kembali deh semangat itu! Kemudian, buka pustaka-pustaka kita, atau buka tulisan yang sejenis di internet. Dari sana, kita akan mendapatkan “pintu” untuk keluar dari kebuntuan tadi.

Jangan dilupakan pula satu hal, yaitu selalu membawa kertas dan alat tulis sekedar untuk menuliskan ide yang kadang-kadang berseliweran di benak. Hal ini tampak sepele, tetapi sebenarnya sangat bermanfaat. Saya pernah merasakan kehilangan ide yang sebenarnya luar biasa untuk saat itu. Maka, jangan lupa catatan dan alat tulisnya ya.

Itu dulu deh! Lain kali disambung lagi. Keep writing and share your ideas!

Regard,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Peran taksonomi, sistematika, dan klasifikasi serangga di bidang pengendalian serangga hama

Pengantar

Definisi taksonomi adalah ilmu untuk menggolong-golongkan makhluk hidup (Mayr et al., 1953). Lebih lanjut, Simpson (1961) mendefinisikan taksonomi sebagai suatu kajian teoritik tentang penggolongan, termasuk di dalamnya dasar-dasar, prinsip, cara kerja dan aturan-aturan yang berlaku. Sementara Evans (1984) menyatakan bahwa taksonomi juga mencakup penemuan pola-pola yang ada di dalam suatu keanekaragaman.

Sistematika didefinisikan sebagai kajian keilmuan dari jenis-jenis dan keragaman makhluk hidup dan sebagian atau semua hubungan yang terjadi di antara mereka (Simpson, 1961). Pada perkembangannya, kata taksonomi dan sistematika sering digunakan sebagai padanan, dengan pengartian yang sama.

Klasifikasi didefinisikan sebagai cara atau kerangka kerja yang digunakan untuk menemukan pola-pola tertentu dalam suatu keanekaragaman. Kata klasifikasi terkadang disamaartikan dengan kata identifikasi yang didefinisikan sebagai kegiatan untuk mengenali spesies atau jenis makhluk hidup.

Sebagai salah satu cabang ilmu hayati (biologi), taksonomi dan sistematika dianggap mempunyai peran penting, terutama sebagai alat (tool) pengenal spesies makhluk hidup. Oleh karena itu, taksonomi dan sistematika tidak dapat berdiri sendiri, namun membutuhkan peran ilmu lain, misalnya morfologi, anatomi, genetika, ekologi dan fisiologi.

Taksonomi dan sistematika juga dikaitkan dengan “perjalanan hidup” atau sejarah suatu jenis makhluk hidup (lazim disebut filogeni), termasuk hubungannya dengan faktor-faktor di luar tubuhnya (Evans, 1984). Mackerras (1979) merinci beberapa pertanyaan yang mungkin mengikuti penemuan spesies baru, yaitu (1) darimana asal tetuanya, dan (2) bagaimana hubungan tetua makhluk tersebut dengan spesies yang lain (misalnya kedekatan genetik). Uraian Mackerras ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa suatu jenis makhluk hidup selalu terkait dengan faktor-faktor abiotik dan biotik di sekitarnya. Arnett dan Jacques (1985) kemudian juga menyatakan bahwa variasi genetik pada perkembangan suatu jenis makhluk hidup dapat dipengaruhi oleh faktor genetik di makhluk hidup (internal) dan lingkungan (eksternal) yang saling berkaitan. Hal-hal tersebut yang kemudian membentuk sebuah “keanekaragaman” di dalam “keseragaman” satu jenis makhluk hidup, misalnya dengan terbentuknya varian spesies berdasarkan daerah penyebaran, dan sebagainya. Menurut Sinnot et al. (1958), tidak ada dua individu, bahkan dalam satu spesies, yang sama persis. Perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor makanan, suhu, cahaya, kelembaban dan faktor-faktor eksternal lain.

Selanjutnya, konsep adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya banyak dikaitkan dengan genetika, dan diyakini berpengaruh nyata terhadap pembentukan kelompok makhluk hidup “baru” dalam satu spesies. Konsep takso-genetika ini dijelaskan oleh Daly et al (1978), yaitu bahwa pemisahan suatu kelompok makhluk hidup dari kelompok yang lain dalam spesies yang sama oleh perbedaan kondisi geografis akan menyebabkan pengkhususan terhadap kelompok yang terpisah tersebut.

Peranan taksonomi di bidang pengendalian populasi serangga

Taksonomi dapat dianggap sebagai dasar bagi penelitian ilmu hayati (Hardy, 1988). Lebih lanjut, taksonomi dapat pula dianggap sebagai “gerbang” untuk merancang strategi pengelolaan suatu spesies hama, karena pencirian dan pengenalan spesies yang tepat akan memudahkan kita untuk mencari titik lemah dari bioekologi satu spesies hama. Hardy menyatakan pula bahwa banyak kegagalan pengendalian hama lebih disebabkan karena salah identifikasi yang berujung pada kegagalan pemilihan strategi pengendalian yang tepat berdasarkan ciri bioekologi hama yang bersangkutan.

Salah satu contoh kegagalan pengendalian hama serangga akibat salah identifikasi terjadi pada pengendalian kutu olive scale, Parlatoria oleae (Colvee) di Kalifornia menggunakan parasitoid Aphytis maculicornis (Masi) yang diimpor dari Mesir pada tahun 1951 (DeBach, 1974). Pada mulanya, upaya pengendalian tersebut gagal, yaitu tidak ada seekor parasitoidpun yang mampu hidup dan berkembang di lapangan. Penelitian selanjutnya membuktikan bahwa koloni parasitoid tersebut terdiri dari empat strain, dan hanya strain Persia yang mampu memparasitoid dan hidup pada kutu tersebut. Hal tersebut membuktikan, bahwa pengelompokan-pengelompokan yang terjadi di dalam satu spesiespun mampu menentukan keberhasilan upaya pengendalian hama di lapangan. Dari pengalaman di atas terbukti, bahwa pencirian dan kemudian pengelompokan yang tepat mampu menemukan bahwa strain Persia adalah kelompok yang paling berhasil mengendalikan kutu olive, dan bukan tiga strain yang lain.

Ulasan yang disampaikan White (1988) juga menarik untuk disimak, yaitu bahwa penelitian taksonomi yang dikembangkan pada lalat buah tephritid mampu menghasilkan data tentang spesies lalat buah yang hidup di suatu daerah dengan data pendukung berupa inang khas yang diserangnya, sehingga dapat dibuat sebuah peta distribusi serangan lalat buah spesies khas pada inang yang khas pula. Hal ini tentunya mempermudah pengelolaan populasi lalat buah di daerah yang bersangkutan.

Penelitian taksonomi juga sudah mengarah ke pengamatan karakter spesies atau variannya menggunakan teknik-teknik molekuler, misalnya teknik Polymerase Chain Reaction-Random Amplified Polymorphic DNA atau PCR-RAPD. Teknik lain misalnya dengan mengamati ciri isozim pada satu kelompok serangga. Penelitian taksonomi molekuler ini ternyata cukup ampuh untuk mengenali variasi genetik yang terjadi pada satu spesies serangga hama yang terjadi akibat pengaruh perbedaan daerah penyebaran. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Mendel  et al (1984) pada kutu.  Matsucoccus josephi menunjukkan bahwa teknik PCR-RAPD dapat digunakan untuk menentukan asal dari spesies kutu tersebut. Dengan teknik ini pula, penerapan pengendalian hayati menggunakan parasitoid yang harus diimpor dari tempat asal kutu tersebut dapat dilakukan, sehingga kegagalan yang pernah terjadi pada pengendalian kutu olive di Kalifornia dapat dihindari.

Penelitian yang dilakukan oleh Ooi (1988) merupakan contoh pengembangan teknik penggunaan isozim untuk menemukan variasi genetik pada satu spesies serangga. Dari hasil penelitiannya, Ooi menemukan bahwa spesies lalat buah Bactrocera dorsalis (Diptera: Tephritidae) di Malaysia mempunyai dua varian yang disebut Takson A dan Takson B. Data ini tentu sangat berguna sebagai dasar untuk menerapkan pengendalian hayati B. dorsalis menggunakan spesies musuh alami yang bersifat monofaga, atau pengendalian kimiawi menggunakan feromon yang bersifat sangat khas spesies.

Penutup

Pada akhirnya, upaya-upaya untuk mengembangkan penelitian taksonomi yang dapat mendukung pengendalian yang handal menjadi sangat penting, yang meliputi pengkajian aspek morfologi, anatomi, bioekologi, dan perilaku suatu spesies serangga hama.

Lebih lanjut, miskinnya penelitian taksonomi di Indonesia kemungkinan disebabkan oleh ketidakpahaman kita pada arti penting taksonomi di bidang entomologi dalam kaitannya dengan pengendalian serangga hama. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya yang keras untuk mengembangkan penelitian di bidang taksonomi serangga sebagai dasar untuk mengelola populasinya di lapangan secara tepat.

Referensi

Arnett, R.H. & R.L. Jacques. 1985. Insect life. Prentice-Hall Inc., New Jersey.

Daly, H.V., J.T. Doyen, & P.R. Ehrlich. 1978. Introduction to insect biology and diversity. McGraww-Hill Kogakusha, Ltd., Tokyo.

DeBach, P., 1974. Biological control by natural enemies. Cambridge University Press, London.

Evans, H.E., 1984. Insect biology. A textbook of entomology. Addison-Wesley, Publishing Co., Massachusetts.

Hardy, E., 1988. Contribution of taxonomic studies to the integrated pest management of fruit flies with emphasis on the Asia-Pasific Region. Dalam: S. Vijaysegaran & A.G. Ibrahim (editor), Proceedings First International Symposium on Fruit Flies in The Tropics. Kuala Lumpur, Malaysia. 14-16 March, 1988.

Mackerras, I.M., 1979. Evolution and classification on the insects. Dalam The insects of Australia. Melbourne University Press, Victoria.

Mayr, E., E.G. Linsley, & R.L. Usinger. 1953. Methods and principles of systematic zoology. McGraww-Hill Book, Co., New York.

Mendel, Z., D. Nestel, & R. Gavny. 1994. Examination of the origin of the Israeli population of Matsucoccus josephi (Homoptera: Matsucoccidae) using RAPD-PCR. Annals of the Entomological Society of America 87: 165-169.

Ooi, C.S., 1988. Genetic variation in populations of two sympatric taxa in the Dacus dorsalis complex and their relative infestation levels in various fruit host. Dalam: S. Vijaysegaran & A.G. Ibrahim (editor), Proceedings First International Symposium on Fruit Flies in The Tropics. Kuala Lumpur, Malaysia. 14-16 March, 1988.

Simpson, G.G., 1961. Principles of animal taxonomy. Columbia University Press, New York.

Sinnot, E.W., L.C. Dunn, & T. Dobzhansky. 1958. Principles of genetics. McGraww-Hill Book Co., New York.

Ditulis ulang dan diringkas dari makalah yang pernah diterbitkan pada jurnal Agr-UMY volume V nomor 1 tahun 1997 dengan judul “Sumbangan Taksonomi, Sistematika, dan Klasifikasi Serangga di Bidang Pengendalian Serangga Hama” oleh Nugroho Susetya Putra.

Majalah SERANGGA

Dear readers,

Saya (kami) akan meluncurkan majalah bernama SERANGGA, Insya Allah pada pertengahan Oktober 2010. Mohon doanya agar majalah ini dapat mewujudkan cita-cita saya untuk berbagi pengetahuan tentang serangga. Makhluk kecil yang indah ini demikian akrab dengan manusia, namun belum banyak yang memahaminya secara utuh. Oleh karena itu, saya sangat ingin untuk berbagi dan sekaligus belajar dari pembaca yang budiman, agar kita mendapatkan pengetahuan tentang serangga ini dengan lebih utuh.

Saya (kami) juga mengundang pembaca budiman untuk mengisi rubrik “Lembar Karya” dengan karya puisi, gambar (coretan), atau desain (grafis) tentang serangga; dan rubrik “Forum” yang berisi tentang hasil pengamatan atau penelitian (kecil atau besar). Syaratnya mudahkarya harus orisinal dan belum pernah dipublikasikan di media sejenis. Nah, tunggu apalagi? Silakan kirimkan karya pembaca budiman melalui alamat e-mail (sementara): nugrohoputra27@gmail.com.

Ini adalah gambar tampak muka dari majalah SERANGGA edisi perdana (Volume 1 nomor 0 tahun 2010)

Ditunggu ya karyanya….

Oya, kami akan menerbitkan sekitar 250 eksemplar yang akan disampaikan gratis kepada 250 peminat pertama. Jadi, silakan mendaftarkan diri (tuliskan Nama, alamat lengkap secara jelas) ke alamat e-mail di atas. Ingat, jumlah eksemplar terbatas, jadi “siapa cepat, dia dapat”.

Regards,

Nugroho

Peran penting serangga di alam

Agaknya, serangga adalah binatang yang paling sering berinteraksi dengan manusia. Anda tentu tidak asing dengan binatang kecil berkaki enam, misalnya semut, nyamuk, lalat, kecoa, kupu-kupu, lebah, tawon, dan sebagainya. Sampai saat ini, lebih dari 1 juta spesies serangga yang mencakup serangga darat (sebagian besar), dan serangga yang hidup di air telah berhasil diidentifikasi, namun para ahli memastikan bahwa lebih banyak spesies masih menunggu giliran untuk diidentifikasi. Selanjutnya, kemelimpahan serangga mencapai 80 persen dari total kemelimpahan organisme di muka bumi. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa serangga adalah organisme yang mendominasi rantai dan jejaring makanan di hampir semua jenis ekosistem. Mereka mungkin menghuni jaringan tumbuhan sebagai herbivora, menghuni celah-celah sempit di antara bebatuan sebagai peliang, membangun kubah-kubah yang keras sebagai sarang komunitas mereka yang melimpah, menghuni perairan sebagai pakan maupun pemangsa organisme lain, menghuni rhizosfer tumbuhan sebagai pengurai bahan organik, dan di banyak tempat yang lain.

Menilik hal-hal tersebut, kita dapat menduga bahwa serangga mempunyai peran ekologis dan ekonomis yang amat penting. Secara ekologis, serangga berperan sebagai komponen rantai makanan; mungkin sebagai herbivora, karnivora, pengurai (detritivora), dan penyerbuk. Sementara itu, secara ekonomis, serangga dapat menjadi hama, musuh alami, atau vektor penyakit tanaman, binatang, dan manusia.

1. Pemakan tumbuhan (herbivora)

Banyak serangga makan pada tumbuhan, dan sebagian di antara mereka ditasbihkan manusia menjadi serangga yang merugikan (disebut hama). Banyak jenis ulat (larva kupu-kupu dan ngengat) menjadi hama penting pada tanaman, misalnya Plutella xylostella (hama tanaman kubis-kubisan), wereng coklat Nilaparvata lugens (hama pengisap pada batang padi), belalang Locusta migratoria adalah pemangsa rakus hampir segala jenis tumbuhan yang mereka temui di sepanjang jalan yang mereka lalui, dan banyak jenis yang lain.

Secara alamiah, serangga herbivora berperan sebagai pengontrol kemelimpahan tumbuhan. Pada beberapa kasus, serangga herbivora dimanfaatkan untuk mengendalikan pertumbuhan tumbuhan pengganggu (gulma). Lalat gall Procecidochares connexa misalnya, digunakan untuk mengendalikan gulma siam, selain ulat ngengat Pareuchaetes pseudoinsulata.

2. Pemakan daging (karnivora)

Di lain pihak, Anda dapat menemukan musuh alami masing-masing “hama” di atas, misalnya tawon parasitoid Diadegma insulare (musuh alami P. xylostella), atau kumbang koksi (musuh alami wereng coklat). Jika Anda cermati, musuh alami tersebut akan “mengontrol” kemelimpahan serangga inang atau mangsanya, sehingga selalu berkisar pada ambang yang “normal”. Semut rangrang yang Anda sangka “buas” karena selalu menggigit jika diganggu, adalah pemangsa banyak jenis hama.

Sumber: en.wikipedia.org

Namun, kelompok serangga karnivora ini mungkin dianggap merugikan manusia. Nyamuk adalah salah satu contohnya. Aktivitas nyamuk betina mengisap darah mamalia (termasuk manusia) ternyata dapat menularkan penyakit. Malaria, Demam Berdarah Dengue, Kaki Gajah (Elephantiasis) dan Cikungunya adalah contoh-contoh penyakit pada manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit Chagas ditularkan oleh kepik Triatoma, dan Penyakit Tidur (Sleeping Sickness) ditularkan oleh lalat Tse-Tse (Glossina palpalis).

3. Perombak bahan organik

Di samping dua kelompok serangga di atas, Anda dapat pula menemukan serangga-serangga pengurai, misalnya rayap. Rayap berperan penting dalam peristiwa penguraian kayu dan bahan-bahan dari tumbuhan dengan bantuan protozoa dan bakteri di dalam usus belakang yang berfungsi sebagai pemecah selulosa, sehingga membantu pengubahan “gundukan sampah” tumbuhan menjadi bahan-bahan yang dapat digunakan kembali, baik oleh  si rayap sendiri maupun oleh tanah sebagai bahan penyubur. Beberapa contoh bakteri simbion pemecah selulosa pada rayap adalah bakteri fakultatif Serratia marcescensEnterobacter aerogensEnterobacter cloacae, dan Citrobacter farmeridiketahui menghuni usus belakang rayap spesies Coptotermes formosanus (famili Rhinotermitidae) dan berperan memecah selulosa, hemiselulosa dan menambat nitrogen. Penelitian lain menemukan protozoa simbion yang hidup pada usus rayap C. formosanus, misalnya Pseudotrichonympha grassiHolomastigotoides hartmanni, dan Spirotrichonympha leidyi yang juga membantu rayap dalam mencernakan bahan berkayu. Sementara itu, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada usus kecoa Blaberus giganteus pemakan kayu. Selain itu, aktivitas rayap membuat sarang di dalam tanah juga membantu menggemburkan tanah, sehingga pertukaran udara di dalam tanah menjadi lebih baik.

4. Penyerbuk

Penyerbukan oleh serangga pada tumbuhan disebut entomofili. Hubungan antara serangga penyerbuk dengan tumbuhan yang diserbukinya kadang-kadang sangat dekat (bersifat obligat), misalnya, hubungan antara tumbuhan Yucca (famili Agavaceae) dengan ngengat Yucca (Lepidoptera: Prodoxidae) yang berkisar antara mutualisme obligat sampai antagonis (larva ngengat berperan sebagai herbivora). Dua genera ngengat prodoxid, yaitu Tegeticula dan Parategeticula berperan sebagai penyerbuk obligat pada tumbuhan Yucca, sementara genera ketiga, yaitu Prodoxus lebih berperan sebagai pemakan (biji) Yucca. Hubungan mutualisme obligat serupa juga ditunjukkan oleh tumbuhan fig (genus Ficus) dan serangga penyerbuk, tawon fig (ordo Hymenoptera, subfamili Agaoninae).

Sementara itu, kupu-kupu, lebah, dan tawon adalah serangga penyerbuk yang bersifat fakultatif (tidak mempunyai hubungan yang sangat khas seperti beberapa contoh di atas). Pernahkah Anda perhatikan, bagaimana lebah mengunjungi bunga? Sambil mencari cairan madu (nektar), mereka juga mengumpulkan serbuk sari di sekujur tubuhnya. Nah, serbuk sari inilah yang secara tidak sengaja akan menempel pada putik bunga lain yang dikunjunginya, sehingga terjadilah penyerbukan!

Sumber: en.wikipedia.org

5. Sumber gizi dan energi

Para ahli menunjukkan bahwa serangga mengandung protein yang cukup tinggi. Risalah yang ditulis oleh Sutton (1995) menunjukkan bahwa manusia zaman purba sudah memanfaatkan serangga sebagai sumber makanan. Entomofagi atau ilmu yang mempelajari pemanfaatan serangga oleh manusia, terutama sebagai bahan makanan telah berkembang. Sebelumnya, Frye dan Calvert (1989) membuktikan bahwa energi yang terkandung dalam tubuh serangga cukup tinggi, sehingga potensial digunakan sebagai sumber makanan. Ulat sutra (Bombyx mori) dan ulat hongkong (kumbang Tenebrio mollitor) yang mereka amati mengandung kalori rata-rata 5 sampai 6,5 kkal/ g berat kering tubuh.

Budaya memakan serangga ini terdapat di berbagai negara di dunia, terutama pada penduduk asli, meskipun kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh masyarakat modern di perkotaan. Bangsa Indian Amerika terbukti telah memanfaatkan beberapa jenis serangga, terutama larva ngengat dan kumbang dalam menu makanan mereka, demikian pula dengan banyak suku di benua Afrika. Di Indonesia, penduduk Papua memanfaatkan larva kumbang sagu (famili Curculionidae) sebagai sumber pangan. Di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, penduduknya menyukai belalang kayu (famili Acrididae) sebagai lauk yang lezat dan menyehatkan. Laron dan larva lebah juga menjadi menu favorit penduduk di daerah tertentu di pulau Jawa.

6. Penghasil bahan berguna

Banyak serangga yang menghasilkan bahan yang dibutuhkan oleh manusia. Lebah madu menghasilkan madu, royal jelly, propolis, malam, dan larva serta pupanya menjadi kudapan yang lezat; kutu Kerria lacca (Hemiptera: Kerriidae) menghasilkan lak, sejenis bahan pembuat pernis; dan ulat sutra, misalnya spesies Bombyx mori (Lepidoptera: Saturniidae) menghasilkan sutra yang mahal harganya. Pada dekade terakhir, ditemukan pula beberapa spesies ngengat liar, misalnya genus Cricula yang ternyata mampu menghasilkan sutera yang mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan sutera dari Bombyx.

Penelitian terkini bahkan memperlihatkan bahwa rayap ternyata mempunyai potensi untuk digunakan sebagaibioreaktor untuk menghasilkan hidrogen. Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Energi Amerika Serikat menjelaskan bahwa beberapa spesies rayap mampu menghasilkan dua liter hidrogen hanya dari selembar kertas dengan memanfaatkan lebih kurang 200 spesies mikroorganisme di dalam ususnya (silakan berkunjung ke laman http://www.jgi.doe.gov/ education/bioenergy/bioenergy_4.html). Potensi luar biasa ini dipelajari lebih lanjut untuk menghasilkan hidrogen melalui cara yang lebih efisien dan aman, karena tidak menggunakan bahan bakar fosil untuk menggerakkan listrik yang digunakan untuk menghasilkan hidrogen.

Pustaka

  1. Aldrich, J.M., 1912. Larvae of a saturniid moth used as food by California Indians. Journal of the New York Entomological Society 20: 28-31.
  2. Althoff, D. M., K.A. Segraves, & J.P. Sparks. 2004. Characterizing the interaction between the bogus yucca moth and yuccas: do bogus yucca moths impact yucca reproductive success? Oecologia 140: 321-327.
  3. Essig, E.O., 1934. The value of insects to the California Indians. The Scientific Monthly 38: 181-186.
  4. Frankie, G.W., & R.W. Thorp. 2003. Pollination and pollinators. Dalam: V.H. Resh & R.T. Carde (editor), Encyclopedia of Insects, Academic Press, Amsterdam, halaman 919 – 926.
  5. Frye, F.L., & C.C. Calvert. 1989. Preliminary information on the nutritional content of mulberry silk moth (Bombyx mori) larvae. Journal of Zoo and Wildlife Medicine 20: 73-75.
  6. Knight, C.G. 1971. The ecology of African sleeping sickness. Annals of the Association of American Geographers 61: 23-44.
  7. Mims, F.M., B.N. Holben, T.F. Eck, B.C. Montgomery, & W.B. Grant. 1997. Smoky skies, mosquitoes, and disease. Science 276: 1774-1775.
  8. Sutton, M.Q., 1995. Archaeological aspects of insect use. Journal of Archaeological Method and Theory 2: 253-298.