Mud-Puddling: Cara serangga untuk mendapatkan nutrisi penting

Masing-masing spesies serangga mempunyai perilaku makan yang unik. Beberapa serangga mempunyai perilaku makan yang berkesan tidak umum yang disebut mud-puddling. Puddling berasal dari kata puddle yang berarti kubangan. Secara umum, aktivitas mudpuddling didefinisikan sebagai pencarian nutrisi tambahan, terutama sodium (atau secara umum disebut garam) dan protein dari bahan-bahan non-tumbuhan (nektar). Kupu-kupu dan ngengat (ordo Lepidoptera) adalah golongan serangga yang umum diketahui sebagai pelaku puddling, meskipun aktivitas ini juga dilakukan oleh beberapa jenis Hemiptera dan Orthoptera.

 

Syntarucus plinius dan Euchrysops cnejus sedang melakukan puddling (http://www.flutters.org)

Syntarucus plinius dan Euchrysops cnejus sedang melakukan puddling (http://www.flutters.org)

Mengapa serangga melakukan mud-puddling?

Boggs dan Jackson, peneliti perilaku serangga dari Princeton University menjelaskan bahwa mud-puddling adalah aktivitas yang cukup rumit. Pada kupu-kupu dan ngengat, setidaknya ada dua alasan mengapa mereka melakukan mud-puddling. Pertama, mereka membutuhkan tambahan nutrisi tertentu, yaitu sodium, karena sumber pakan utamanya yaitu tumbuhan tidak menyediakan dalam jumlah memadai. Padahal sodium yang cukup dibutuhkan untuk mendukung proses reproduksi yang optimum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan sodium berakibat pada menurunnya jumlah telur yang dihasilkan. Jadi, aktivitas mud-puddling mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selain sodium, beberapa jenis senyawa lain juga didapatkan oleh serangga dari aktivitas ini, misalnya protein dan gula.

Alasan kedua, aktivitas mud-puddling bisa jadi merupakan upaya kompensasi untuk mendapatkan nutrisi tertentu oleh individu-individu lepidoptera jantan muda yang kalah bersaing dari lepidoptera betina atau jantan lain yang lebih tua pada pencarian nutrisi pada tumbuhan, sumber pakan utama mereka. Ingat, aktivitas pencarian pakan pada serangga sarat dengan persaingan yang sangat ketat. Oleh karena itu, mud-puddling diduga merupakan cara alternatif untuk mendapatkan nutrisi penting. Kecenderungan untuk melakukan puddling dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin dan kemampuan berkompetisi dari serangga, serta musim dan ketersediaan pakan utama mereka (nektar).

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa protein dan gula merupakan senyawa penarik bagi serangga untuk melakukan aktivitas mud-puddling. Jika Anda melihat kupu-kupu yang ‘minum’ pada cairan yang keluar dari buah-buahan yang pecah atau membusuk, maka bisa dipastikan mereka sedang mengkonsumsi gula dan alkohol sebagai sumber energi.

Bagaimana serangga melakukan mud-puddling?

Serangga yang melakukan mud-puddling pada umumnya akan menyesap cairan nutrisi dari tanah yang basah, meskipun beberapa serangga tertarik pula pada keringat manusia, kotoran binatang, darah (misalnya pada ngengat vampir), urin manusia, dan buah yang membusuk. Ketika melakukan puddling, serangga akan menyedot cairan dan meneruskannya melalui saluran pencernaan untuk kemudian dikeluarkan melalui anus. Pada beberapa serangga, misalnya Gluphisia septentrionis, cairan tadi diekskresikan setiap tiga detik. Penelitian menunjukkan fakta unik bahwa serangga jantan yang melakukan puddling mempunyai ileum (usus belakang bagian anterior) yang jauh lebih panjang daripada serangga betina yang tidak melakukan puddling.

 

Ngengat vampir (treehugger.com)

Ngengat vampir (treehugger.com)

Ngengat Gluphisia septentrionis (bugguide.net)

Ngengat Gluphisia septentrionis (bugguide.net)

Mayoritas pelaku mud-puddling adalah serangga jantan muda, meskipun pada beberapa jenis kupu-kupu, serangga betina juga melakukan perilaku serupa. Nampaknya, perbedaan jenis kelamin pelaku puddling ini berhubungan dengan dua hal, yaitu (1) bahwa serangga jantan membutuhkan sodium dalam jumlah cukup untuk mendukung aktivitas terbang yang lebih banyak daripada serangga betina, dan (2) serangga jantan akan mentransfer sodium dalam jumlah cukup banyak kepada pasangannya melalui spermatofor, misalnya pada ngengat Thymelicus lineola (Hesperidae). Dengan demikian, serangga betina tidak membutuhkan puddling sebagai aktivitas utama.

Bahan-bahan puddling

Selain bahan puddling yang berujud cairan, misalnya kubangan air pada tanah, urin, air mata, atau darah, beberapa serangga tertarik juga dengan bahan padat, misalnya kotoran mamalia dan burung, bangkai, dan buah-buah busuk. Salah satu contoh serangga yang tertarik dengan bangkai adalah walang sangit, Leptocorisa sp. Untuk mengendalikan serangga yang dianggap sebagai hama pada bulir padi masak susu ini, banyak orang menggunakan bangkai ketam atau ikan untuk memikat walang sangit. Setelah berhasil dikumpulkan pada perangkap bangkai tersebut, maka walang sangit tersebut mudah ditangkap kemudian dibunuh. Mungkin perilaku walang sangit ini juga bisa dikategorikan puddling ya?

Rujukan

  • Beck, J., E. Muhlenberg, & K. Fiedler. 1999. Mud-puddling behavior in tropical butterflies: in search of proteins or minerals? Oecologia 119: 140-148.
  • Biinziger, H., 1992. Remarkable new cases of moths drinking human tears in Thailand (Lepidoptera: Thyatiridae, Sphingidae, Notodontidae). Natural History of Bulletin of Siam Society 40: 91-102.
  • Boggs, C.L., & L.A. Jackson. 1991. Mud puddling by butterflies is not a simple matter. Ecological Entomology 16: 123-127.
  • Devries, P.J., & T.R. Walla. 2001. Species diversity and community structure in neotropical fruit-feeding butterflies. Biological Journal of the Linnean Society 74: 1-15.
  • Smedley, S.R., & T. Eisner. 1996. Sodium: A male moth’s gift to its offspring. Proceeding Natural Academic of Sciences 93: 809-813.

Buku “Lalat Buah Hama” siap beredar!

Alhamdulillah, setelah bersusah payah beberapa lama dengan proses layout dan drafting, naskah buku “Lalat Buah Hama” yang saya tulis dengan Dr. Suputa siap dicetak dan diedarkan. Terima kasih tak terhingga kepada teman-teman yang secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi pada selesainya penulisan, penyuntingan, dan pengerjaan buku ini.

Sampul depan LBHP

Sampul depan LBHP

Sampul belakang LBHP

Sampul belakang LBHP

Buku ini kami dedikasikan kepada siapa saja yang concern pada masalah lalat buah hama yang memang pada beberapa tahun terakhir ini berkembang menjadi hama yang merugikan secara nyata. Apalagi dengan derasnya arus impor buah dari manca negara, maka potensi berkembangnya populasi lalat buah hama spesies baru juga meningkat. Oleh karena itu, buku ini sengaja dibuat selengkap mungkin, mulai dari aspek biologi, ekologi, morfologi, taksonomi, dan akhirnya pengelolaan populasinya. Harapan kami, pihak-pihak yang berkepentingan dengan lalat buah hama akan memperoleh informasi yang lengkap dan berimbang, sehingga mampu menentukan strategi pengelolaan populasi di lapangan.

Informasi yang lebih lengkap kami sampaikan di blog khusus tentang lalat buah. Silakan dibuka di blog Lalat Buah Hama. Selamat membaca bukunya…

 

//

Pengendalian kimiawi dan pestisida

Pada umumnya, orang mengatakan bahwa pengendalian kimiawi hanya digunakan jika cara lain sudah tidak dapat lagi menjamin keberhasilan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).  Sebagian orang lain menyatakan pula bahwa pengendalian kimiawi harus digunakan dengan sangat hati-hati karena sangat berbahaya. Sebenarnya, apakah pengendalian kimiawi itu? Samakah dengan pengendalian menggunakan pestisida?

Untuk memahami dua hal tersebut, mari kita lihat dahulu definisi dari masing-masing.

Definisi pengendalian kimiawi adalah cara pengendalian organisme pengganggu (tanaman atau lainnya) menggunakan potensi bahan-bahan kimia, yang meliputi bahan-bahan kimia anorganik, organik, alami, maupun sintetik.

Pestisida, salah satu pengendali kimiawi yang paling umum digunakan.

Sementara itu, definisi pestisida adalah bahan pembunuh (=sida) hama (=pest), atau lebih lengkap adalah, bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk mencegah, membunuh, menolak, atau mengurangi dampak hama. Pengertian pest di sini cukup luas, meliputi patogen, mamalia, bahkan tumbuhan yang dianggap merugikan (gulma). Jadi, pestisida bisa berupa insektisida (pembunuh serangga), fungisida (pembunuh fungi atau jamur), bakterisida (pembunuh bakteri), rodentisida (pembunuh rodensia, termasuk tikus), moluskisida (pembunuh moluska), herbisida (pembunuh herba/ gulma) dan sebagainya.

Salah satu merk herbisida yang umum digunakan, Roundup

Lalu, bagaimana hubungan antara pengendalian kimia, pengendali kimiawi, dan pestisida. Pestisida adalah salah satu pengendali kimiawi, di samping bahan-bahan kimiawi lainnya, misalnya atraktan (pemikat), repellent (pengusir), fumigan, dan sebagainya. Jadi, jelaslah bagi Anda, bahwa pengendalian kimiawi tidak selalu identik dengan pestisida, namun sebaliknya, bahwa pengendalian organisme pengganggu menggunakan pestisida adalah sebuah proses pengendalian kimiawi.

Perangkap pemikat (atraktan) nyamuk, salah satu bentuk pengendali kimiawi

Jadi, jelaslah sekarang perbedaan antara pengertian Pengendalian Kimiawi dengan Pestisida.

Salam,

Nugroho Susetya Putra

Serangga “aneh” dari Sulawesi

Kangen rasanya setelah sekian lama tidak menyambangi gubuk satu ini. Jumpa lagi pembaca budiman.

Hari ini saya membaca berita di Vivanews (http://nasional.vivanews.com/news/read/281083-serangga-misterius-hebohkan-warga-polewali) tentang serangga “aneh” dan misterius seperti terlihat pada gambar di bawah ini, dan kemunculan “nyamuk raksasa” tersebut menyebabkan kehebohan di kalangan masyarakat.Bahkan beberapa orang menyatakan bahwa serangga tersebut adalah nyamuk terbesar di Indonesia. Benarkah demikian?

Nyamuk raksasa yang misterius

Setelah saya perhatikan pada foto yang menyertai berita tersebut, saya mengenali serangga tersebut sebagai Nyamuk Berkaki Panjang, atau dalam bahasa Inggris disebut Daddy-Long-Legs, atau Crane Fly yang tergolong serangga bersayap dua (Diptera) dan dimasukkan ke dalam famili Tipulidae. Hingga saat ini, spesies nyamuk berkaki panjang yang sudah berhasil dikenali (diidentifikasi) mencapai 15.000 di seluruh dunia. Cukup banyak ya…

Tipula oropezoides Tom Murray 2006 bugguide net

Di Indonesia, serangga ini cukup banyak dijumpai. Di daerah saya, Daerah Istimewa Yogyakarta, serangga ini cukup sering dijumpai. Namun, entah, apakah serangga ini memang belum pernah ditemukan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sumber berita menghebohkan tersebut. Dan di belahan dunia lainpun, serangga ini cukup dikenal.

Nephrotoma apendiculata (en.wikipedia.org)

Morfologi serangga ini unik. Sepintas mirip nyamuk, namun dengan ukuran yang jauh lebih besar: di daerah beriklim sedang, “nyamuk” ini dapat mencapai panjang dua sampai 60 mm, namun di daerah tropika, ukuran beberapa spesiesnya mampu mencapai 100 mm. Alat mulutnya berbeda sama sekali dengan nyamuk (ingat, nyamuk memiliki “jarum” untuk menyedot darah manusia). Tidak seperti nyamuk pada umumnya, sayap nyamuk raksasa ini tidak dapat tertangkup di atas tubuhnya. Jadi sepintas mirip pesawat, dengan sayapnya terbentang ke samping.

Alat mulut Tipula (en.wikipedia.org)

Serangga dewasanya adalah peminum  nektar, dan beberapa spesies yang lain bahkan tidak makan sama sekali. Sementara larva sebagian besar nyamuk ini berperan sebagai pengurai, beberapa adalah hama pada rerumputan (turf-grass), dan sebagian kecil menjadi pemangsa larva nyamuk. Larva menyukai lingkungan yang lembab.

Larva Tipula yang dianggap sebagai hama (en.wikipedia.org)

Jadi, serangga ini adalah nyamuk atau lalat berkaki panjang dan berukuran raksasa. Bukan serangga misterius.

Salam,

Alhamdulillah, akhirnya Edisi Mei 2011 rampung juga!

Tak ada kata yang terucap, kecuali syukur: Alhamdulillah! Majalah SERANGGA edisi Mei 2011 akhirnya berhasil terbit, meskipun harus melalui proses yang ber-“keringat-keringat”. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pelanggan yang tentunya sudah bersabar menunggu terbitnya majalah ini, terutama kepada para kontributor. Mudah-mudahan terbitnya edisi Mei 2011 ini akan segera disusul dengan terbitnya edisi Juli dan November 2011, Insya Allah.

Tak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada para kontributor (tulisan maupun foto) yang sudah dengan sukarela mengirimkan ke redaksi. Semoga amal jariah para kontributor akan selalu mengalir. Amin. Dan kami selalu setia menunggu kiriman tulisan maupun gambar untuk meramaikan halaman-halaman majalah SERANGGA pada edisi-edisi mendatang. Ditunggu ya…

Oya, majalah SERANGGA muncul dengan desain sampul dan isi yang berbeda dengan tiga edisi sebelumnya: lebih segar dan ceria! Semoga perubahan ini menambah semangat kami untuk bekerja lebih rajin dan cerdas untuk menghasilkan edisi-edisi yang lebih bermanfaat, dan yang paling penting, para pembaca menjadi lebih nyaman dalam menyimak artikel demi artikel pada majalah ini.

Selamat menikmati.

Salam,

Nugroho S. Putra

 

Cara penggolongan hama tanaman

Dalam kasus serangan hama di lapangan, salah satu kesulitan yang umum ditemui adalah mengenali dan menentukan jenis hama yang menyerang tanaman, yang kemudian digunakan untuk menentukan strategi pengendalian yang efektif dan efisien. Dalam hal ini, proses identifikasi (hama) yang akurat harus dilakukan. Dua hal yang harus Anda pertimbangkan adalah (1) status ekonomi dari tanaman, dan (2) status ekonomi dari hama yang bersangkutan.

Beberapa pendekatan identifikasi yang dapat Anda lakukan adalah dengan (1) melihat pada organisme “perusak”, atau jika Anda tidak menemukannya pada tanaman, maka Anda dapat (2) melihat kerusakan yang diakibatkan oleh organisme tersebut. Pendekatan pertama jelas lebih mudah dan teliti dibandingkan pendekatan kedua.

Secara umum, penggolongan hama dapat didasarkan pada ciri morfologi dan anatomi, taksonomi, perilaku, dan bioekologi.

Ciri morfologi dan anatomi

Ciri ini paling mudah dilihat, yaitu dengan mencermati bentuk tubuh, termasuk warna tubuh dan ukuran tubuh. Secara sederhana, Anda juga dapat menggolongkan berdasarkan ada tidaknya kerangka tubuh, yaitu (1) Avertebrata (tidak bertulang belakang) dan (2) Vertebrata (bertulang belakang). Binatang Avertebrata misalnya, nematoda, siput, bekicot, tungau, serangga, dan sejenisnya. Binatang Vertebrata misalnya tikus, tupai, kera, dan sejenisnya. Meskipun relatif mudah, penggolongan ini kadang-kadang tidak akurat, terutama jika Anda ingin melakukan identifikasi dua kelompok organisme “hama” yang berasal dari satu spesies namun berkembang di dua kondisi berbeda, misalnya pada daerah geografis atau inang yang berbeda. Anda harus menambah parameter identifikasi dengan ciri-ciri daerah geografis dan inang yang ditemukan di daerah bersangkutan.

Keong Mas (Pomacea canaliculata) (healingrosacea.com)

Ciri taksonomi

Jika Anda sudah memahami pencirian secara morfologi dan anatomi, maka Anda dapat menggunakan penggolongan berdasarkan ciri taksonomi. Secara taksonomis, organisme “hama” dapat digolongkan ke dalam empat filum, yaitu Filum Nemathelmintes (cacing nematoda), Filum Moluska (siput, bekicot, dan sejenisnya), Filum Artropoda (serangga dan tungau), dan Filum Chordata (misalnya tikus, kera, burung, dan sejenisnya).

Tikus padi (Rattus argentiventer) (knowledgebank.irri.org)

Ciri perilaku

Salah satu cara identifikasi hama yang paling menarik adalah dengan melihat perilaku mereka. Sebagai contoh, wereng coklat (Nilaparvata lugens) lebih sering Anda temukan di bagian bawah (batang) tanaman padi, sedangkan wereng hijau (Nephotettix virescens) dapat Anda temukan di bagian atas (daun) tanaman padi.  Ciri perilaku ini biasanya dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya suhu, kelembaban, dan kualitas inang. Oleh karena itu, pengetahuan tentang bioekologi organisme hama menjadi penting untuk menambah keakuratan hasil identifikasi.

Wereng batang coklat, Nilaparvata lugens bersayap (makroptera) (hainanproject.org)

Ciri bioekologi

Ilmuwan masa kini cenderung menggunakan pendekatan ciri bioekologi, karena parameter yang digunakan cukup lengkap termasuk hubungan antara organisme yang bersangkutan dengan tanaman, termasuk pengaruh faktor-faktor abiotik terhadap hubungan tersebut. Contoh penggunaan ciri bioekologi untuk mengidentifikasi organisme hama adalah sebagai berikut. Beberapa serangga hidup di musim hujan, misalnya lalat buah dan beberapa jenis hama lain, sedangkan serangga kutu-kutuan lebih banyak berkembang pada musim kering. Artinya, pengetahuan ini mempermudah Anda untuk mengarahkan dugaan pada “golongan” lalat buah dan kutu-kutuan, sebelum Anda menggunakan pendekatan morfologi-taksonomi untuk mempertajam hasil identifikasi Anda. Jangan dilupakan pula bahwa  faktor kelembaban udara, suhu, dan kebasahan merupakan faktor penentu pertumbuhan dan perkembangan serangga-serangga tersebut sehingga akan sangat bagus jika Anda cantumkan sebagai data penunjang.

Keberadaan organisme di satu jenis tanaman juga dapat ditentukan dari ciri yang ditinggalkan oleh organisme tersebut pada tanaman. Misalnya, bagian tanaman yang rusak atau hilang adalah tanda dari kehadiran organisme yang mempunyai tipe alat mulut penggigit-pengunyah, misalnya tikus, tupai, siput, serangga penggigit-pengunyah (belalang, larva kupu-kupu/ ngengat, larva kumbang, dan sejenisnya). Sementara itu, buah kakao yang bentuknya tidak normal (bengkak) kemungkinan diserang oleh hama pencucuk-pengisap, Helopeltis spp.

Seekor belalang sedang makan pada buah kedelai (ent.iastate.edu)

Helopeltis theivora sedang mengisap cairan buah kakao (dropdata.org)

Jika ciri-ciri tersebut sudah Anda dapatkan dan dikumpulkan, maka tahap berikutnya adalah menyusun strategi pengendalian yang paling tepat.

Pengantar kuliah Identifikasi Hama Tanaman

Apa itu identifikasi?

Identifikasi adalah Proses (cara) pemberian nama pada individu atau sekelompok individu. Penamaan spesies mengacu pada sistem pemberian nama ilmiah (Scientific name) berupa Binomial name, yaitu penggabungan dua kata yang mencirikan sifat dari individu yang diberi nama.

Mengapa organisme diberi nama, dan apa dasar identifikasi itu?

“Apalah artinya nama?” begitu kata Shakespeare. Tetapi, bagi saya, nama itu penting sebagai penciri atau penanda keberadaan “sesuatu”. Bayangkan jika Anda adalah manusia tak bernama, lantas bagaimana orang memanggil Anda? Bingung bukan?

Lalau, bagaimana cara kita memberi nama sebuah organisme? Dua dasar yang digunakan untuk mengidentifikasi hama adalah (1) dasar ciri tubuh (morfologi, anatomi, fisiologi, dan perilaku), dan (2) molekuler (genetika). Ketika kita melakukan kegiatan identifikasi, maka ciri tubuh menjadi dasar yang paling disukai karena lebih murah, meskipun tidak selalu lebih mudah, dibandingkan dasar molekuler (menggunakan sidik DNA). Namun juga perlu diingat, bahwa pada kasus tertentu, sidik DNA menjadi cara yang ampuh untuk mengetahui keragaman genetik sebuah populasi hama di lapangan. Perkembangan biotipe, varian genetik, perubahan sifat-sifat adaptasi geografis menjadi lebih mudah diketahui melalui sidik DNA (atau protein/ enzim).

Nah, dari paparan di atas, Anda paham kan, betapa pentingnya memberi nama pada “sesuatu”, apalagi jika “sesuatu” tersebut adalah organisme yang belum pernah dikenal.

Contoh penamaan mengikuti kaidah Binomial dan penamaan umum (lokal atau daerah)

Pada umumnya, nama spesies dituliskan dengan menjajarkan dua kata, yaitu kata depan yang menggambarkan nama genus, dan kata belakang yang merujuk pada spesies. Gabungan dua kata tersebut biasanya merupakan penjelasan ciri-ciri biologis organisme bersangkutan.  Sebagai contoh, kumbang Titanus giganteus (lihat gambar di bawah) terdiri dari dua kata, yaitu Titan, nama dewa atau satelit terbesar dari planet Saturnus dan giganteus yang berarti raksasa. Artinya, dua kata tersebut menunjukkan bahwa ukuran dari kumbang ini memang raksasa! Penjelasan lebih lanjut tentang kumbang ini silakan menilik ke sini).

Kumbang Titanus giganteus. Perhatikan perbandingan ukuran kumbang ini dengan tangan manusia dewasa (www.newsdesk-si.edu)

Selain menggunakan cara penamaan ilmiah, penamaan organisme juga dapat dilakukan secara umum. Meskipun cara ini lebih mudah, namun kurang bisa diandalkan dari segi ilmiah. Cara umum ini biasanya digunakan secara lokal atau kedaerahan. Misalnya, nama Ngengat Punggung Berlian atau Diamondback Moth digunakan digunakan secara umum pada spesies Plutella xylostella, salah satu hama penting tanaman Brassicaceae. Informasi lebih lanjut tentang spesies ini silakan ditilik di sini dan sini.

Ngengat Punggung Berlian. Perhatikan pola mirip berlian pada bagian pertemuan sayap depan kiri dan kanan (noktah berwarna coklat)(www.lepidoptera.butterflyhouse.com.aus)

Cara penamaan

Cara penamaan organisme bisa dilakukan secara manual atau sederhana, dan memanfaatkan kecanggihan komputer. Cara manual dapat dilakukan menggunakan bantuan kaca pembesar atau mikroskop perbesaran sedang sampai kuat, ditambah dengan buku kunci identifikasi. Cara yang lebih modern dapat dilakukan dengan bantuan perangkat lunak yang memang dirancang untuk mempermudah proses penamaan. University of Queensland (QAAFI Biological Information Technology) adalah produsen perangkat lunak untuk identifikasi dan penamaan organisme yang terkenal, salah satunya adalah Lucid Key Builder, sebuah perangkat untuk melakukan penamaan organisme (baru).

Untuk melakukan proses penamaan yang benar dan sahih, pengetahuan tentang morfologi dan anatomi setidaknya harus dikuasai, karena proses identifikasi dan penamaan tersebut sebagian besar didasarkan pada ciri-ciri morfologi dan anatomi organisme.

Identifikasi hama tanaman

Proses pemberian nama (ilmiah) atau julukan (nama umum/ daerah) pada individu atau sekelompok individu organisme yang makan pada tanaman . Nah, salah satu pertanyaan yang harus dijawab bersamaan dengan proses pemberian nama organisme ini adalah statusnya: hama atau bukan? Hal ini penting, dan harus dimasukkan sebagai salah satu pertimbangan untuk mendeskripsikan organisme tersebut secara lengkap. Dengan demikian, orang lain akan lebih mudah untuk membandingkan status serupa di daerah yang lain (silakan tilik tulisan di sini). [Bersambung …]

Semoga bermanfaat

Salam,

Nugroho S. Putra