Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!

Menurut ensiklopedia Encarta (2005), mimikri didefinisikan sebagai pemiripan atau peniruan secara fisik atau perilaku oleh satu spesies terhadap spesies yang lain yang menguntungkan dirinya, atau secara tidak langsung juga keduanya. Organisme yang “meniru” disebut mimik, sedangkan organisme yang “ditiru” disebut model. Di alam ini, cukup banyak jenis organisme, baik tumbuhan maupun hewan yang melakukan mimikri untuk tujuan pertahanan maupun mendapatkan pakan. Serangga adalah salah satu jenis hewan yang melakukan mimikri, dan pada banyak kasus terbukti efektif.

Fenomena mimikri sendiri diteliti untuk pertama kalinya oleh Henry Walter Bates, seorang ahli alam dari Inggris pada tahun 1862 pada kupu-kupu di hutan Brasilia. Sampai saat ini dikenal ada beberapa jenis mimikri pada serangga, dan beberapa jenis yang terkenal adalah (1) mimikri Batesian, yang merujuk pada nama H.W. Bates, sang peneliti pertama fenomena ini, (2) mimikri Mullerian, (3) mimikri Browerian (mirip mimikri Batesian namun terjadi pada individu-individu di dalam satu spesies), dan (4) mimikri Peckhamian (mimikri agresifitas).

Mimikri Batesian

Mekanisme dari mimikri ini adalah peniruan oleh serangga peniru yang tergolong tidak berbahaya pada model-model serangga yang tergolong berbahaya atau beracun. Contoh yang cukup terkenal adalah lalat syrphid genus Eristalis spp. yang morfologi dan perilakunya amat mirip dengan lebah spesies Apis mellifera (Golding dan Edmunds, 2000). Pada penelitian yang dilakukan keduanya, sang lalat syrphid terbukti mampu menirukan perilaku lebah dengan sangat mirip dari aspek waktu kunjungan ke bunga tumbuhan-tumbuhan tertentu, di samping memang secara morfologis sangat mirip. Contoh lainnya, misalnya pada kumbang staphylinid myrmecophilous, Pella comes yang mampu menirukan morfologi semut inangnya, dan bahkan menghindarkannya dari pemangsaan oleh predator (katak pohon) (Taniguchi et al., 2005).

Mimikri Mullerian

Pada mulanya, fenomena mimikri Mullerian dianggap sebagai mimikri Batesian. Namun, kemudian fenomena mimikri Mullerian adalah fenomena yang berbeda sama sekali dengan mimikri Mullerian. Pada mimikri Mullerian, dua spesies yang sebenarnya sama-sama beracun atau berbahaya berbagi sinyal warna tubuh (berbahaya!) yang biasanya berupa warna-warna cerah (aposematic atau warning coloration, akan dibahas kemudian). Ahli alam Jerman, Fritz Muller menjelaskan bahwa keuntungan dari fenomena mimikri ini adalah, bahwa jika dua spesies berbagi sinyal aposematik, maka hal ini akan membingungkan predator-predator kedua spesies yang melakukan mimikri tersebut. Spesies-spesies yang berbagi tersebut disebut sebagai anggota dari kompleks Mullerian. Contoh dua spesies yang melakukan mimikri Mullerian adalah Kupu-kupu Raja, Danaus plexippus dan Kupu-kupu Viceroy, Limenitis archippus yang sama-sama berasa tidak enak, yang berbagi pola warna tubuh dan perilaku.

Mimikri Browerian

Fenomena ini dianggap mirip dengan mimikri Batesian, namun terjadi di antara individu dalam satu spesies. Fenomena ini ditemukan oleh Lincoln P. Brower dan Jane Van Zandt Brower, dan disebut juga automimicry. Mimikri ini muncul pada spesies-spesies kupu-kupu, misalnya D. plexippus yang makan tumbuhan milkweed yang kadar racunnya bervariasi. Keuntungan dari mimikri ini adalah, jika predator makan pada beberapa individu larva atau imago, dan kemudian menemukan bahwa salah satu individu berasa sangat tidak enak, maka predator tersebut akan segera berhenti menyantapnya, dan meninggalkan koloni kupu-kupu tersebut. Artinya, beberapa individu menjadi tumbal bagi keselamatan seluruh individu yang tersisa!

Mimikri Peckhamian

Serangga yang menerapkan mimikri jenis ini (disebut mimikri Peckhamian merujuk pada penemunya, George dan Elizabeth Peckhman) akan meniru ciri-ciri serangga yang tidak berbahaya atau mungkin berguna untuk “menipu” inang atau mangsanya, sehingga memudahkannya memangsa tanpa dicurigai oleh anggota koloni mangsanya. Contohnya misal pada tiga spesies lalat syrphid predator genus Microdon yang meniru pupa semut inangnya (genus Camponotus dan Formica). Pengamatan oleh Garnett et al (1985) membuktikan bahwa larva instar 1 dan 2 Microdon mampu menirukan morfologi, bahkan “bau” khas pupa kedua spesies semut tersebut dengan sangat mirip, sehingga memungkinkan mereka dapat memangsa pupa-pupa semut tersebut. Contoh lain adalah pada kunang-kunang Photuris betina yang mampu mengeluarkan pola kerlip cahaya yang mirip dengan pola kerlip cahaya kunang-kunang jenis Photinus. Akibatnya, kunang-kunang jantan Photinus terpikat oleh ajakan kawin si Photuris, yang berujung pada maut, karena begitu sampai, sang “betina” ternyata adalah calon pemangsanya! Yang lebih hebat lagi, dengan memangsa Photinus, betina Photuris akan mendapatkan senyawa steroid lucibufagins yang bermanfaat sebagai senyawa pertahanan dari si mangsa (Eisner et al., 1997). Menakjubkan bukan?

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Catatan:

Aposematic = pewarnaan atau penandaan pada tubuh organisme yang bertujuan untuk memperingatkan atau mengusir pemangsa (= warning coloration)

Myrmecophilous = organisme invertebrata atau tumbuhan yang mempunyai hubungan simbiotik dengan semut, baik di dalam maupun di luar sarang semut.

Referensi

Anonim. 1993. Microsoft Encarta Encyclopedia Standard 2005.

Eisner, T., M.A. Goetz, D.E. Hill., S.R. Smedley, & J. Meinwald. 1997. Firefly “femme fatales” acquire defensive steroids (lucibufagins) from their firely prey. Proceeding Natural of Academic Sciences of USA 94: 9723-9728.

Garnett, W.B., R.D. Akre, & G. Sehlke. 1985. Cocoon mimicry and predation by myrmecophilous Diptera (Diptera: Syrphidae). The Florida Entomologist 68: 615-621.

Golding, Y.C., & M. Edmunds. 2000. Behavioural mimicry of honeybees (Apis mellifera) by droneflies (Diptera: Syrphidae: Eristalis spp.). Proceedings Biological Sciences, 267: 903-909.

Taniguchi, K., M. Maruyama, T. Ichikawa, & F. Ito. 2005. A case of Batesian mimicry between a myrmecophilous staphylinid beetle, Pella comes, and its host ant, Lasius (Dendrolasius) spathepus: an experiment using the Japanese treefrog, Hyla japonica as a real predator. Insectes Sociaux 52: 320-322.

Sumber gambar: www.en.wikipedia.org

Mimikri Batesian pada ngengat Nymphalidae

Entomologi forensik: satu lagi manfaat serangga bagi kepentingan manusia!

Pengertian forensik adalah aplikasi metode-metode dan teknik keilmuan untuk menginvestigasi kejahatan (kriminal) (Concise Oxford English Dictionary, 2005). Entomologi forensik adalah pemanfaatan serangga untuk menginvestigasi sebuah kejahatan. Dalam hal ini, teknik yang digunakan adalah mengidentifikasi jenis-jenis serangga pemakan bangkai (disebut nekrofagus) yang muncul pada korban kejahatan (baca mayat). Kemampuan serangga sebagai perombak bahan organik, termasuk mayat manusia, dimanfaatkan di dalam bidang kedokteran forensik untuk mengetahui waktu kematian mayat (Postmortem Period Investigation, PMI) (Goff, 2003).

Menurut catatan sejarah, bangsa Cina sudah mulai mengembangkan teknik pemeriksaan mayat menggunakan serangga (blow fly, famili Calliphoridae, ordo Diptera) pada abad ke-12 (Benecke, 2001). Pada perkembangannya, kelompok-kelompok serangga nekrofagus yang banyak digunakan untuk mengidentifikasi umur mayat berasal dari ordo Diptera, Coleoptera, Hymenoptera (terutama semut), dan beberapa Lepidoptera (Jiron & Cartin, 1981). Serangga-serangga tersebut diklaim dapat menentukan waktu kematian mayat dengan sangat pas, bahkan melebihi teknik lain.

Penelitian Jiron dan Cartin (1981) pada bangkai anjing menjelaskan bahwa kelompok-kelompok serangga tertentu akan muncul pada tahap-tahap pembusukan bangkai. Pada tahap pertama, disebut discoloration stage (berlangsung selama kurang lebih 3-4 hari), muncul serangga semut (Camponotus sp.), lalat muscoid, lalat sarcophagid, lalat drosophilid, dan banyak lalat calliphorid (Phaenicia eximia). Pada tahap berikut, disebut emphysematic stage (berlangsung mulai hari keempat sampai ke-8). Pada tahap ini muncul serangga P. eximia dalam jumlah besar, kumbang histerid, Euspilotus aenicollis, beberapa kumbang scarabid, dan beberapa lalat muscoid. Tahap berikut disebut liquefaction yang berlangsung pada hari ke-8 sampai ke-28. Pada tahap ini serangga yang datang paling melimpah adalah dua spesies lalat calliphorid, yaitu P. eximia dan Hemilucilia segmentaria, lalat piophilid, kumbang staphylinid, histerid, Dermaptera, tawon ichneumonid, lipas, lebah (genus Trigona) dan dua famili ngengat (pyralid dan noctuid). Tahap yang terakhir adalah mummified, yang didominasi oleh kumbang dermestid.

Meskipun demikian, teknik ini juga mempunyai kelemahan yang cukup mendasar, yaitu sangat tergantung dari keadaan cuaca, misalnya suhu, kelembaban, dan curah hujan, atau oleh perlakuan manusia, yang secara langsung akan menentukan proses dekomposisi yang menjadi dasar kehadiran serangga-serangga tersebut (Goff, 2003).

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Referensi

Benecke, M., 2001. A brief history of forensic entomology. Forensic Science International 120: 2-14.

Goff, L., 2003. Forensic Entomology. Dalam: V.H. Resh & R.T. Carde (editor), Encyclopedia of Insects, Academic Press, Amsterdam, halaman 919 – 926.

Jiron, L.F., & V.M. Cartin. 1981. Insect succession in the decomposition of a mammal in Costa Rica. Journal of the New York Entomological Society 89: 158-165.

Lalat pemakan bangkai, Sarcophaga africa

Semut: menguntungkan atau merugikan?

Siapa tak kenal jenis serangga satu ini. Mungkin semut adalah kelompok serangga yang kelimpahan dan rentang penyebarannya paling luas, dan dapat dijumpai di hampir semua jenis habitat, kecuali perairan. Wilson (1987) menjelaskan, bahwa semut adalah kelompok serangga yang paling mampu beradaptasi. Beberapa catatan memperlihatkan bahwa tidak kurang dari 24 genera semut yang diduga hidup pada jutaan tahun yang lalu, masih dijumpai hingga saat ini, di antaranya genus Ponera, Tetraponera, Aphaenogaster, Monomorium, Iridomyrmex, Formica, Lasius, dan Camponotus. Mengingat hal tersebut, muncul pertanyaan:peran apakah yang mereka mainkan di dalam ekosistem? Menguntungkan ataukah merugikan?

Morley (1946) menjabarkan dengan jelas, bahwa secara garis besar, hubungan (dan sekaligus peran) semut dengan organisme yang lain dapat bersifat fakultatif (bersifat sementara dan relatif) dan obligat (harus). Hubungan bersifat fakultatif meliputi pemangsaan, kompetisi teritorial (daerah kekuasaan), perbudakan, dan semacamnya, dan contoh hubungan yang bersifat obligat misalnya parasitisme sosial, pencurian dan perampokan (lihat tulisan mengenai Kleptoparasitisme), dan penjagaan (misalnya pada kasus hubungan dengan kutu-kutuan).

Catatan-catatan kajian kemudian juga membuktikan bahwa banyak jenis semut dapat bersifat invasif dan sekaligus merusak. Misalnya, semut Anoplolepis gracilipes tercatat sebagai salah satu spesies yang bersifat invasif dan dominan terhadap spesies organisme yang lain (Miller, 2004; Davis et al., 2008). Spesies ini menimbulkan masalah di Australia karena mampu mendominasi sebagian besar wilayah di bagian utara Australia, serta membunuh 1/3 populasi kepiting darat merah lokal, dan dikuatirkan akan mengubah ekosistem di beberapa tempat yang lain.

Namun, kajian-kajian yang lain menjelaskan peran semut yang menguntungkan bagi ekosistem, misalnya peranannya sebagai perantara proses perombakan oleh organisme yang lain. Aktivitas semut di dalam tanah (mereka bertindak sebagai pengolah tanah, misalnya pada saat pembuatan sarang) secara tidak langsung mempengaruhi tekstur tanah, yang pada gilirannya akan mempercepat proses penguraian. Semut Camponotus misalnya, membuat sarang di dalam tanah yang terbukti mampu memodifikasi kelimpahan organisme tanah sehingga proses dekomposisi dapat berjalan dengan baik (Paris et al., 2008).

Nah, kemudian, kembali ke pertanyaan semula, semut itu merugikan atau menguntungkan? Berdasarkan catatan-catatan kajian di atas, agaknya kita harus bijaksana melihat peran semut di ekosistem dan habitat yang spesifik. Misalnya, dalam kasus invasi semut A. gracilipes, kita dapat menyatakan bahwa mereka merugikan, karena mampu mengubah komposisi fauna, dan secara tidak langsung juga flora yang tumbuh di ekosistem tertentu. Namun, jika menilik peran mereka sebagai perantara proses perombakan, maka harus diakui , bahwa semut adalah organisme yang berguna!

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Referensi

Davis, N.E., D.J. O’Dowd, P.T. Green, & R.M. Nally. 2008. Effects of an alien ant invasion on abundance, behavior, and reproductive success of endemic island birds. Conservation Biology 22: 1165-1176.

Miller, C., 2004. Days numbered for yellow crazy ants. Frontiers in Ecology and the Environment 2: 342

Morley, D.W., 1946. The interspecific relations of ants. The Journal of Animal Ecology 15: 150 – 154.

Paris, C.I., M.G. Polo, C. Garbagnoli, P. Martinez, G. S. de Ferre, & P.J. Folgarait. 2008. Litter decomposition and soil organisms within and outside of Camponotus punctulatus nests in sown pasture in Northeastern Argentina. Applied Soil Ecology 40: 271 – 282.

Wilson, E.O., 1987. Causes of ecological success: The case of the ants. The Journal of Animal Ecology 56: 1 – 9.

sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/Camponotus

Camponotus spp.

Intraguild predation (IGP) dapat mengganggu program pengendalian hayati

Menurut Polis dan Holt (1992), Intraguild predation (IGP) atau Predasi di dalam Guild adalah peristiwa pemangsaan oleh satu spesies organisme terhadap spesies organisme yang lain yang menggunakan sumber pakan yang sama (satu Guild). Banyak kajian kemudian membuktikan, atau minimal menunjukkan adanya potensi merugikan, tentu bagi kepentingan manusia. Namun, jika dipandang secara makro, fenomena IGP berpotensi merusak susunan alam, dan keseimbangan proses di dalamnya.

Secara khusus, IGP berdampak pada (1) penurunan kemampuan predator inferior (pihak yang lebih lemah) dalam memangsa mangsa, dan (2) gangguan pada perilaku khas predator inferior, misalnya penghindaran tempat bertelur yang sudah didatangi oleh predator pesaingnya. Dalam skala yang lebih besar, IGP berdampak pada perubahan susunan organisme; dalam hal ini terjadi dominansi oleh satu spesies organisme terhadap organisme yang lain.

Pada pengamatan yang dilakukan oleh Brown dan Miller (1998) selama 13 tahun di perkebunan apel di West Virginia, spesies kumbang koksi Harmonia axyridis yang bukan merupakan spesies asli, menjadi dominan, dan menggeser spesies-spesies koksi yang lain, di samping terbukti juga berpengaruh buruk pada spesies predator kutu afid yang lain, misalnya sayap jala (Chrysopidae), lalat apung (Syrphidae), dan parasitoid (Mizell, 2007).

Dominansi tersebut meninggalkan potensi persoalan lingkungan yang cukup serius. Bagaimanapun juga, di dalam sebuah habitat terdapat rantai-rantai makanan yang saling terhubung secara seimbang. Jika susunan komponen di dalamnya berubah, misalnya karena ada yang pindah ke habitat lain, maka susunan rantai makanan secara keseluruhan akan berubah, yang berakibat pula pada perubahan susunan rantai makanan pada tingkat yang lebih kompleks.

Beberapa kajian tentang IGP yang sudah dilakukan kemudian “mengingatkan” adanya potensi bahaya pada upaya pemasukan atau introduksi musuh alami, terutama predator, ke suatu habitat, jika tidak didahului dengan kajian bioekologi musuh alami itu sendiri, meliputi daya adaptasi, rentang mangsa, dan kemampuan reproduksinya.

Sebagai contoh, Harmonia axyridis adalah spesies yang mampu beradaptasi cepat pada lingkungan yang baru, bersifat sangat polifaga, dan daya reproduksinya tinggi (Koch, 2003). Contoh daya adaptasi tinggi dari spesies ini adalah kemampuannya makan pada bagian tumbuhan, jadi bersifat omnivora juga (Koch, 2003). Kesimpulannya, H. axyridis kemungkinan tidak dapat diintroduksikan ke suatu habitat yang mempunyai potensi mendukung adaptasinya.

Dalam kaitannya dengan pengendalian hayati, penggunaan spesies-spesies yang mempunyai kecenderungan invasif berpotensi memunculkan masalah lingkungan yang cukup serius. Apalagi jika spesies musuh alami lokal yang menjadi predator yang lemah merupakan musuh alami kunci pada hama-hama tertentu. Itulah sebabnya, sekali lagi, kajian bioekologi sangat perlu dilakukan untuk mengawali upaya introduksi musuh alami ke suatu habitat, agar potensi ekonomis yang hendak digapai tidak hilang percuma karena kita mengabaikan dampak-dampak ekologis yang diakibatkan oleh calon musuh alami tersebut.

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Referensi

Brown, M.W., & S.S. Miller. 1998. Coccinellidae (Coleoptera) in apple orchards of eastern West Virginia and the impact of invasion by Harmonia axyridis. Entomological News 109: 143 – 151.

Koch, R.L., 2003. The multicolored Asian lady beetle, Harmonia axyridis: A review of its biology, uses in biological control, and non-target impacts. Journal of Insect Science 3: 32.

Mizell, R.F., 2007. Impact of Harmonia axyridis (Coleoptera: Coccinellidae) on native arthropod predators in pecan and crape myrtle. The Florida Entomologist 90: 524 – 536.

Polis, G.A., & R.D. Holt. 1992. Intraguild predation: the dynamics of complex trophic interations. Trends in Ecology and Evolution 7: 151 – 154.

Cactoblastis cactorum: Musuh alami atau hama?

Cactoblastis cactorum (Lepidoptera: Pyralidae) adalah salah satu spesies ngengat yang mulai terkenal ketika digunakan untuk mengendalikan gulma kaktus Opuntia (Prickly Pear Cactus) di Australia pada tahun 1920-1925 (DeBach, 1974). Spesies ini diduga berasal dari Amerika Selatan dan hidup pada kaktus Opuntia.

Namun, beberapa kajian ternyata membuktikan hal sebaliknya, yaitu bahwa ngengat ini dianggap merugikan. Semenjak pemasukan secara tidak sengaja ke wilayah Florida dan Meksiko, ngengat ini segera dianggap merugikan. Di Meksiko, kaktus Opuntia dimanfaatkan sebagai inang kutu Dactylopius coccus yang menghasilkan bahan pencelup (dye), di samping sebagai pakan ternak dan bahan pangan komersial (Vigueras & Portillo, 2001). Sementara itu, keberadaan Opuntia di gurun Sonoran dan Chihuahuan sangat penting sebagai penstabil ekosistem karena peranannya sebagai sumber pakan binatang-binatang yang hidup di gurun semacam tikus gurun, coyote, dan kijang (Soberon et al., 2001). Oleh karena itu, pemangsaan oleh C. cactorum pada kaktus Opuntia dengan sendirinya akan menimbulkan rentetan dampak ekonomi dan ekologi yang sangat serius, mengingat bahwa ngengat tersebut ternyata juga mampu merusak banyak spesies Opuntia (Vigueras & Portillo, 2001; Zimmermann et al., 2001).

Dengan demikian, jelaslah bahwa meskipun di satu sisi menguntungkan, pemanfaatan serangga herbivora sebagai musuh alami gulma harus diiringi dengan kajian intensif untuk meminimalkan potensi kerugian akibat perubahan statusnya menjadi “hama”. Bukti-bukti sejenis ternyata cukup banyak terjadi di alam. Contoh terbaru adalah pada lalat Argentina, Procecidochares connexa (Diptera: Tephritidae) yang dikenal sebagai musuh alami gulma siam, Chromolaena odorata. Secara sepintas, larva yang makan di bagian dalam batang gulma dianggap “mematikan” pertumbuhan gulma. Namun, pengamatan yang penulis lakukan menunjukkan adanya potensi lain, yaitu menimbulkan pertumbuhan yang lebih cepat pada pucuk batang yang terserang. Jika hal ini benar (tentu saja melalui pengamatan dan penelitian yang lebih terarah dan hati-hati), maka keberadaan larva lalat gall bukan lagi merugikan gulma siam, namun sebaliknya justru “menguntungkan”. Nah!

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Referensi

DeBach, P., 1974. Biological control by natural enemies. Cambridge University Press.

Soberon, J., J. Gobulov, & J. Sarukhan. 2001. The importance of Opuntia in Mexico and routes of invasion and impact of Cactoblastis cactorum (Lepidoptera: Pyralidae). Florida Entomologist 84: 486-492.

Vigueras, A.L., & L. Portillo. 2001. Uses of Opuntia species and the potential impact of Cactoblastis cactorum (Lepidoptera: Pyralidae) in Mexico. Florida Entomologist 84: 493-498.

Zimmermann, H.G., V.C. Moran, & J.H. Hoffmann. 2001. The renowned Cactus Moth, Cactoblastis cactorum (Lepidoptera: Pyralidae): Its natural history and threat to native Opuntia floras in Mexico and the United States of America. Florida Entomologist 84: 543-551.

Sumber gambar: http://www.en.wikipedia.org

Larva Cactoblastis cactorum

 

Ngengat betina Cactoblastis cactorum

Migrasi jarak jauh: strategi bertahan hidup ala serangga

Migrasi diartikan sebagai perpindahan, yang pada binatang dapat diperluas artinya menjadi, perpindahan dari satu habitat ke habitat yang lain yang lebih baik (cocok). Fenomena perpindahan ini umum terjadi pada binatang, termasuk serangga. Perilaku ini terutama dipicu oleh kondisi lingkungan abiotik yang tidak mendukung, misalnya karena terjadi perubahan suhu dan kelembaban yang drastis akibat perubahan musim. Perubahan-perubahan tersebut berdampak pula terhadap ketersediaan pakan bagi si serangga, sehingga alasan lain perpindahan secara massal ini juga dalam rangka untuk mendapatkan lokasi yang menyediakan pakan, dan biasanya sekaligus sebagai tempat berbiak yang lebih memadai.

Migrasi dilakukan oleh banyak spesies serangga, meskipun hanya beberapa serangga yang tercatat melakukan migrasi yang dikategorikan fenomenal, contohnya migrasi musiman Kupu-kupu Raja (Monarch Butterfly), Danaus plexippus (Lepidoptera: Danaidae). Pada musim dingin mereka berpindah dari daerah asal di Amerika Utara (termasuk Kanada) ke bagian selatan yang lebih hangat, misalnya di wilayah selatan-tengah Meksiko (Garland & Davis, 2002), atau Kuba (Dockx et al., 2004). Setelah musim semi tiba, mereka akan bergerak pulang ke daerah asalnya di bagian utara Amerika. Jarak yang mampu mereka tempuh tercatat sampai 4000 km! Namun, migrasi serangga ini masih menarik banyak peneliti untuk meneliti mekanisme dan pola-pola migrasi yang mereka lakukan. Penelitian Herman dan Tatar (2001) menjelaskan bahwa peranan hormon pemudaan (juvenile hormon) sangat penting dalam menentukan perilaku migrasi Kupu-kupu Raja. Serangga-serangga lain yang tercatat melakukan migrasi jarak jauh adalah kutu afid (Dixon et al, 1993), semut (Folgarait et al., 2008), dan wereng (Otuka et al., 2005).

Sebagai kesimpulan, migrasi merupakan salah satu strategi bertahan pada serangga terhadap goncangan lingkungan. Namun, di sisi lain, beberapa pengamatan, misalnya oleh Sparks et al. (2007) tentang peningkatan migrasi serangga, misalnya kupu-kupu dan ngengat di Eropa, memunculkan kekuatiran bahwa perubahan frekuensi dan pola migrasi serangga juga menunjukkan terjadinya perubahan lingkungan yang berujung pada ketidakstabilan lingkungan, seperti yang juga dikuatirkan oleh Brower dan Malcolm (1991), yaitu bahwa perubahan pola migrasi pada dasarnya dapat dimaknai sebagai perubahan lingkungan hidup yang kemungkinan berakibat pada kepunahan spesies-spesies binatang, termasuk serangga.

Regards, nsputra@faperta.ugm.ac.id

Referensi

Brower, L.P., & S.B. Malcolm. 1991. Animal migrations: Endangered phenomena. American Zoologist 31: 265-276.

Dixon, A.F.G., S. Horth, & P. Kindlmann. 1993. Migration in insects: Cost and strategies. The Journal of Animal Ecology 62: 182-190.

Dockx, C., L.P. Brower, L.I. Wassenaar, & K.A. Hobson. 2004. Do North American monarch butterflies travel to Cuba? Stable isotope and chemical tracer techniques. Ecological Application 14: 1106-1114.

Folgarait, P.J., R.J.W. Patrock, G. Albioni-Montenegro, L. Saldua, & L.E. Gilbert. 2008. Solenopsis invicta: Evidence for recent internal immigration across provinces in Argentina. Florida Entomologist 91: 131-132.

Garland, M.S., & A.K. Davis. 2002. An examination of monarch butterfly (Danaus plexippus) autumn migration in coastal Virginia. American Midland Naturalist 147: 170-174.

Otuka, A., T. Watanabe, Y. Suzuki, M. Matsumura, A. Furuno, & M. Chino. 2005. A migration analysis of the rice planthopper Nilaparvata lugens from the Philippines to Eat Asia with three-dimensional computer simulations. Population Ecology 47: 143-150.

Sparks, T.H., R.L.H. Dennis, P.J. Croxton, & M. Cade. 2007. Increased migration of Lepidoptera linked to climate changes. European Journal of Entomology 104: 139-143.

Kupu-kupu Raja, Danaus plexippus

Kleptoparasitisme: Seranggapun dapat menjadi pencuri!

Kleptoparasit berasal dari suku kata Yunani “kleptes” yang berarti pencuri, dan “parasit” yang berarti mengambil keuntungan dari (organisme) yang lain. Maka, kleptoparasitisme pada makhluk hidup dapat diartikan secara bebas sebagai kegiatan memakan bahan tertentu oleh suatu jenis organisme yang diperoleh dengan cara mengambil, atau mencuri, atau merampok dari organisme yang lain. Sisa-sisa pakan maupun pakan utuh milik sang tuan rumah akan menjadi pakan bagi si pencuri ini. Pada tingkatan yang paling kuat, proses mendapatkan pakan ini dilakukan dengan perebutan secara paksa, misalnya yang dilakukan oleh segerombolan hyena pada harimau atau singa. Pada beberapa kasus, perampokan ini lebih sering berhasil!

Secara umum, perilaku kleptoparasit ini menguntungkan sang pencuri, karena dapat menghemat energi yang bakal dikeluarkan jika harus mengejar mangsa, dan juga menurunkan resiko terpredasi oleh musuh alaminya, karena mempunyai “pelindung”, yaitu organisme yang ditumpanginya. Pada kasus perampokan oleh hyena, energi terbesar dikeluarkan oleh harimau atau singa yang harus mengejar dan membunuh calon mangsanya, sedangkan hyena hanya mengandalkan ilmu keroyokan untuk mengusir harimau atau singa demi mendapatkan makanan gratis. Perilaku unik ini dapat ditemukan pada banyak jenis binatang, misalnya bangsa burung (camar, elang, burung nasar, dan sebagainya), mamalia (hyena, jakal, bahkan beberapa ikan paus juga teramati melakukan perilaku ini), dan artropoda (termasuk serangga dan laba-laba).

Fenomena kleptoparasitisme merupakan bahan kajian yang menarik ahli-ahli entomologi (ilmu serangga). Salah satu kelompok serangga yang terkenal dengan perilaku kleptoparasitnya adalah lalat (ordo Diptera). Tinjauan yang ditulis oleh Sivinski et al (1999) tentang lalat pencuri membuktikan bahwa mekanisme “pencurian” ini kompleks, dan sering dibarengi dengan perilaku phoresy* dari si pencuri yang memungkinkan berpindah tempat secara grastis. Dengan demikian, penghematan energi oleh si pencuri menjadi sangat nyata. Pada kasus lain, hubungan antara undur-undur Myrmeleon spp (Neuroptera: Myrmeleontidae) dan semut Conomyrma sp (Hymenoptera: Formicidae) dapat berlangsung sebagai hubungan antara pemangsa – mangsa, atau tuan rumah-pencuri. Pada pengamatan yang dilakukan oleh Lucas (1986), semut Conomyrma sebenarnya merupakan pakan ideal bagi sang undur-undur. Namun, hebatnya, dalam kondisi berbahaya seperti ini, semut terbukti masih mampu mencuri pakan sang undur-undur, dan sekaligus melepaskan diri dari pemangsaan oleh undur-undur. Sebuah hubungan yang unik bukan!

Referensi

Jennings, D.T., & N.J. Sferra. 2002. An arthropod predator-prey-kleptoparasite association. Northeastern Naturalist 9: 325-330.

Lucas, J.R., 1986. Antlion pit construction and kleptoparasitic prey. Florida Entomologist 69: 702-710.

Sivinski, J., S. Marshall, & E. Petersson. 1999. Kleptoparasitism and phoresy in the Diptera. Florida Entomologist 82: 179-197.

Catatan: * Phoresy = hubungan antara dua organisme, dengan satu organisme menumpang pada tubuh organisme yang lain tanpa menjadi parasit.