Pemanasan Global dan Peningkatan Populasi Serangga

Setahun terakhir ini agaknya menjadi tahun yang amat berat bagi para petani. Bagaimana tidak? Serangan serangga (hama) datang silih berganti; wereng coklat yang hingga kini belum bisa teratasi, kutu putih pada pepaya yang ternyata juga menyerang tanaman lain, dan terakhir ulat bulu yang populasinya meledak demikian dahsyat (lihat posting sebelumnya). Fenomena apa ini?

Anda pernah mendengar istilah Global Warming atau Pemanasan Global (PG)? Pada tulisan ini, saya ingin membahas kaitan antara PG dengan peningkatan populasi serangga, karena kebetulan pustaka-pustaka yang membahas hal tersebut tersedia cukup banyak. Jadi, ada baiknya saya rangkum di sini ya. Oke, yuk dilanjut.

Definisi umum dari PG adalah peningkatan rerata suhu di permukaan air dan tanah. Tahukah Anda, bahwa semenjak Revolusi Industri yang terjadi pada awal abad ke-19, yaitu ketika upaya manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam dan manusia meningkat tajam, maka suhu permukaan air dan bumi ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Informasi dari Kiritani (2005) menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan suhu sekitar 0,6 + 0,2°C sepanjang abad ke 20 ini, setidaknya itulah hasil dari pengukuran oleh Badan Meteorologi Jepang. Bagi manusia, kenaikan suhu sekian bukan menjadi masalah berarti. Namun, bagi serangga, peningkatan suhu sebesar itu sudah mengubah pola-pola fisiologis dalam sistem kehidupan mereka yang akan saya bahas di bagian akhir tulisan ini.

Sekarang pertanyaan kita adalah, faktor apa yang menyebabkan suhu bumi meningkat?

Jawabannya cukup mudah: faktor aktivitas manusia yang amat intens dari tahun ke tahun! Setidaknya ada dua aktivitas manusia yang dituduh sebagai penyebab terjadinya PG, yaitu (1) pembakaran fosil (minyak dan batubara), dan (2) deforestasi (penggundulan hutan). Dua aktivitas ini mula-mula akan meningkatkan kadar gas-gas (yang kemudian disebut dengan Gas Rumah Kaca, yaitu karbondioksida, metan, nitrosoksida, ozon, dan klorfluorokarbon atau dikenal dengan CFC). Dari gas-gas ini, karbondioksida menyumbangkan setidaknya 50%. Nah, pengamatan para ahli menyimpulkan bahwa sejak Revolusi Industri hingga kini, telah terjadi peningkatan kadar karbondioksida di permukaan bumi sebesar kira-kira 30% dari 280 ppm menjadi 377 ppm. Kok angka kenaikannya cuma kecil? Tunggu dulu, yuk kita lanjutkan dulu.
Menurut situs ScepticalScience, kenaikan panas bumi dimulai dari “perilaku” bumi melalui perputaran pada poros, yang pada gilirannya akan menaikkan suhu air laut yang kemudian memicu pelepasan karbondioksida ke atmosfer. Kejadian ini akan cenderung meningkatkan suhu bumi. Akhirnya, dengan makin tingginya kadar karbondioksida di atmosfer, maka suhu permukaan bumi juga akan meningkat, termasuk suhu air laut tadi. Demikian terjadi terus-menerus dan saling terkait, terlebih dengan kehadiran gas-gas rumah kaca yang lain yang menambah kenaikan suhu secara global.

Industri, salah satu hasil upaya manusia yang dituduh memicu terjadinya PG (Sumber: http://vinavilanana.student.umm.ac.id)

Bagaimana PG memicu perubahan-perubahan biologis pada serangga?

Silakan melihat pada skema berikut.

Dampak potensial dari perubahan iklim pada individu spesies serangga dan dampak lanjutannya pada biodiversitas dan susunan komunitas organisme (Menendez, 2007 dengan modifikasi)

Dari grafik tersebut tampak bahwa suhu merupakan penyebab perubahan fenologi serangga. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kenaikan suhu dapat memperpendek tahap larva, sehingga menjadi imago lebih cepat. Secara kuantitatif, hal ini akan meningkatkan jumlah individu dalam kurun waktu yang sama. Peningkatan suhu juga meningkatkan jangkauan penyebaran, menurunkan kematian akibat suhu rendah (pada musim dingin di negara-negara empat musim), dan kemunculan lebih awal pada musim semi yang lebih hangat dan datang lebih awal. Fenomena yang mengikuti perubahan fenologi dan penyebaran serangga adalah perubahan hubungan antar spesies serangga (herbivora-herbivora, herbivora-karnivora, dan karnivora-karnivora). Hal ini secara langsung maupun tak langsung akan menyebabkan perubahan susunan komunitas artropoda di satu ekosistem akibat adanya spesies yang musnah, atau sebaliknya ada spesies yang menjadi dominan. Di dalam proses ini, dominansi spesies-spesies herbivora yang berinang banyak (polifaga) patut dikuatirkan. Bagaimana tidak? Jika spesies-spesies polifaga tersebut menjadi dominan, maka dapat dipastikan jenis tanaman yang akan dirusak juga akan bertambah. Nah…!

Fenomena kemunculan spesies serangga hama polifaga

Dalam beberapa tahun terakhir, spesies-spesies hama yang bersifat polifaga jumlahnya semakin banyak. Sebagai contoh, munculnya serangga hama pendatang (dari Amerika Selatan), kutu Paracoccus sp (Homoptera: Pseudococcidae) di beberapa pulau di Indonesia patut diwaspadai, karena serangga ini mempunyai daya reproduksi yang tinggi. Menurut Walker et al. (2003), spesies P. marginatus yang hidup di Amerika Serikat mempunyai inang lebih dari 55 jenis tanaman dari kira-kira 25 genus, termasuk pepaya, adpokat, jeruk, kapas, tomat, cabai, kacang-kacangan, mangga yang umum terdapat di Indonesia. Wow!

Nah, Anda bisa membayangkan jika spesies tersebut mampu tumbuh dan berkembang biak, maka kerusakan masif pada tanaman-tanaman tinggal menunggu waktu. Strategi multikultur kemungkinan bisa saja gagal menghadapi hama polifaga ini.

Diffenbaugh et al. (2008) mengungkapkan pula sebuah fakta bahwa hama jagung di Amerika Serikat akan meningkat potensi bahayanya karena peningkatan suhu memungkinkan mereka bertahan terhadap musim dingin dan melebarkan jangkauan terbang mereka ke daerah-daerah penanaman jagung yang lain. Hal ini tentunya menjadi sebuah kekuatiran tersendiri jika memang benar-benar terjadi! Ngengat Heliothis zea, salah satu hama terpenting tanaman jagung di Amerika Serikat misalnya, diuntungkan karena kemampuan menyebarnya (kosmopolitan) menjadi bertambah ke daerah-daerah yang semula tidak disukai karena bersuhu rendah, namun kini menjadi lebih hangat.

Lalu, apa upaya kita?

PG merupakan sebuah keniscayaan untuk dicegah. Namun, pengaruh tidak langsung PG pada tanaman melalui pertumbuhan dan perkembangan populasi serangga hama dapat diminimalkan. Caranya? Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah (1) menyediakan data iklim yang lengkap dan terus-menerus, yang jika digabungkan dengan (2) pemantauan dinamika populasi serangga hama yang juga dilakukan secara terus-menerus, akan menghasilkan sebuah (3) model peramalan pertumbuhan dan perkembangan populasi serangga hama di suatu kawasan. Tentu saja, upaya tersebut tidak akan berhasil jika tidak ada koordinasi yang baik di antara pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku pertanian di tingkat lapangan. Di samping itu, penanaman tanaman mengikuti zonasi lokasi tanam yang cocok agaknya juga harus diupayakan, karena kecocokan lokasi tanam ini paling tidak akan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan serangga hama.

"Kemungkinan" yang mungkin terjadi ketika PG benar-benar sudah parah: kota kita ada di tengah samudra! (Sumber: http://amadeaswifty.blogspot.com)

Regard,

Nugroho

Pustaka

Diffenbaugh, N.S., C.H. Krupke, M.A. White, & C.E.Alexander. 2008. Global warming presents new challenges for maize pest management. Environmental Research Letters 3: 1-9.

Houghton, J., 2005. Global warming. Reports on progress in physics 68: 1343-1403.

Kiritani, K., 2006. Predicting impacts of global warming on population dynamics and distribution of arthropods in Japan. Population Ecology 48: 5-12.

Menendez, R., 2007. How are insects responding to global warming? Tijdrischrift voor Entomologie 150: 355-365.

(Tulisan ini adalah ringkasan dari tulisan lengkap tentang Pengaruh PG terhadap Serangga yang akan diterbitkan di Majalah SERANGGA edisi bulan Mei 2011. Tunggu tanggal terbitnya!)

13 thoughts on “Pemanasan Global dan Peningkatan Populasi Serangga

  1. saya sangat tertarik dengan tulisan bapak……terutama mengenai peningkatan populasi serangga….saya tinggal di berastagi…dan disini masyarat sudah sangat mengeluh dalam peningkatan popupasi serangga lalat buah….kerna begitu besar peningkatan populasinya hampir semua gagal panen para petani jeruk disini karena intensitas seranganya sangat tinggi,,,,dan kalo menurutku serangga lalat buah itu disini bukan merupakan hama lagi,melainkan sudah menjadi sebuah wabah…tolong tanggapanya pak? dan bagai mana cara pengendalianya yang paling efektif?

    • Mas Baskita Yth.,
      Terima kasih kunjungannya. Pengendalian lalat buah, seperti halnya hama lain tidak bisa dikendalikan dengan cara cepat. Artinya, kita harus melihat permasalahan kemunculan hama tersebut. Pertanyaan saya, apakah hama tersebut lalat buah? Karena ada hama lain yang juga sangat berbahaya, namanya Citripestis yang juga menyebabkan jeruk busuk, yang di Jawa Timur juga menghancurkan jeruk. Jika berkenan, silakan mengirimkan buah yang sudah terserang dan dikirimkan ke saya dengan alamat:

      Nugroho Susetya Putra
      Fakultas Pertanian
      Universitas Gadjah Mada
      Jl. Flora 1 Bulaksumur
      Yogyakarta 55281

  2. Bapak NS Putra Yth.,
    Terima kasih atas balasanya pak. kebetulan pak saya bekerja di perusahaan pestisida.di bagian teknikal lapangan,dan melihat,menganalisis dan mengendalikan hama penyakit kegiatan saya setiap hari pak.tapi dengan menggunakan pestisida.dan hama tersebut memeng sudah pasti lalat buah pak,memang ada juga hama citripestis yang Bapak sebutkan di atas.permasalahanya hama lalat buah tersebut sangat sulit dikendalikan dengan pestisida lagi pak? permasalahan kemunculan hama tersebut ketika dia teleh menusukkan telurnya ke buah yang biasanya sudah mulai menguning..beberapa hari kemudian buah tersebuat akan mulai membusuk dan akhirnya jatuh. dan kalau memeng tidak bisa dikendalikan dengan cara cepat,dengan cara lambatnya bagaimana kira-kira pak? mohon balasanya

    • Mas Baskita Yth.
      Mengendalikan satu jenis hama memang tidak gampang, apalagi jika sudah dalam tingkat mewabah begitu. Kita membutuhkan pendekatan multistrategi untuk mengendalikan lalat buah. Silakan mas Baskita mendeskripsikan budidaya jeruk yang ada di sana, misalnya berapa luasannya, varietas jeruk (Keprok Siem?), pestisida yang sudah pernah digunakan, taktik pengendalian yang sudah pernah dilakukan, kondisi lingkungan di kebun bagaimana (berpengaruh besar pada kesukaan lalat buah, misalnya suhu dan kelembaban tanah). Lalat buah suka dengan kondisi tanah yang lembab: menurut beberapa ahli, bisa mempercepat penetasan lalat buah dari puparium yang diletakkan di dalam tanah. Berapa lama menanam varietas tersebut? Apakah sama waktunya dengan kedatangan lalat buah? Silakan dideskripsikan dahulu, nanti saya coba lihat kemungkinan2 pengendaliannya.

  3. Maaf hampir lupa pak…..saya lihat dari nama Bapak apakah bapak yang menemukan produk yang bermerek NUTRISI SAPUTRA pak? maaf pak kalau trlalau banyak pertanyaan saya..

    • Mas Baskita Yth.,
      Metil eugenol sudah banyak dijual di toko-toko saprodi. Merk Petrogenol buatan Petrokimia adalah salah satu merk yang cukup terkenal. Mungkin sekarang sudah banyak merk lain yang beredar. Saya sudah lama tidak mencek lagi. Tks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s