Pengendalian hayati: Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi

Filosofi pengendalian alami dan hayati

Pada awalnya, manusia memahami bahwa setiap jenis organisme akan mempunyai musuh alami yang secara alamiah akan mengendalikan populasi organisme tersebut. Fakta ini kemudian diistilahkan oleh manusia, pengendalian alami (Natural Control). Bagaimana dengan pengendalian hayati? Samakah artinya?

Pengendalian hayati (Biological Control) sifatnya lebih dekat dengan kepentingan manusia. Artinya, pengendalian organisme yang mengganggu manusia dengan musuh alaminya disebut pengendalian hayati. Di dalam definisi ini terkandung dua kata penting, yaitu hama dan manusia. Artinya, jika organisme tersebut tidak “mengganggu” atau “merugikan” manusia, maka setiap musuh alami yang menyerang dan makan padanya tidak disebut sebagai agensia pengendali hayati, tetapi agensia pengendali alami. Di dalam pengendalian hayati juga terjadi campur tangan manusia, meliputi manipulasi jenis, keragaman, dan kemelimpahan musuh alami yang cocok.

Sejarah pengendalian hayati

Sejarah pengendalian hayati hampir sama tuanya dengan upaya awal manusia untuk bercocok tanam. Misalnya, pada tahun 300-an M tercatat bangsa Cina sudah menggunakan semut rangrang (Oecophylla smaragdina) untuk melindungi tanaman jeruk Mandarin dari hama. Di dunia Barat, kesuksesan praktek pengendalian hayati dicapai pada akhir abad ke-19, yaitu dengan kesuksesan kumbang Rodolia cardinalis menekan perkembangan populasi hama kutu kapas, Icerya purchasi.

Selanjutnya, semenjak awal abad ke-20, upaya pengendalian hayati sudah mulai memperhatikan sisi ekologis dan ekonomis dari agroekosistem. Pasalnya, upaya pemanfaatan musuh alami tidak selalu berhasil. Misalnya, penggunaan pestisida ditengarai menurunkan populasi musuh alami, sehingga kekuatan penekanan pada organisme pengganggu menjadi berkurang. Penelitian terkini juga mengungkapkan kompleksitas hubungan antar organisme, termasuk kompetisi antar jenis predator, yang dapat mempengaruhi keberhasilan penekanan populasi organisme pengganggu oleh musuh alami.

Rodolia cardinalis, pemangsa kutu Icerya purchasi

Bagaimana memanfaatkan musuh alami untuk mengendalikan organisme pengganggu?

Pada aras teknis, muncul sebuah pertanyaan: Bagaimana memanfaatkan musuh alami secara efektif?

Pemanfaatan organisme musuh alami dapat dilakukan dengan teknik pemasukan (importasi) dari tempat lain (disebut pula introduksi), konservasi (menjaga potensi musuh alami di satu wilayah), dan augmentasi (penambahan jumlah individu musuh alami yang sudah ada di satu wilayah). Teknik augmentasi dapat berupa inokulatif (menambahkan sejumlah musuh alami), inundasi (menambahkan musuh alami dalam jumlah sangat banyak untuk memperkuat tekanan terhadap organisme pengganggu), atau suplemen, jika musuh alami benar-benar sangat rendah populasinya.

Untung-rugi pengendalian hayati

Definisi pengendalian hayati adalah pemanfaatan jenis musuh alami tertentu untuk mengendalikan jenis organisme pengganggu tertentu. Jenis musuh alami yang dipilih tersebut bisa berupa pemangsa (predator), parasitoid, maupun patogen yang menyerang organisme pengganggu. Beberapa ahli juga memasukkan pemanfaatan “pestisida” yang tidak berbahaya bagi organisme berguna sampai penggunaan musuh alami, termasuk patogen yang sering diformulasikan sebagai pestisida (hayati).

Pengendalian hayati dianggap oleh banyak kalangan sebagai salah satu komponen pengelolaan organisme pengganggu yang aman dan efektif. Namun benarkah demikian?

Seperti disebutkan di atas, bahwa organisme musuh alami juga mempunyai sifat bioekologi yang cukup rumit. Misalnya, kecenderungan organisme karnivora untuk memangsa organisme karnivora yang lain, dibandingkan dengan memangsa organisme herbivora, atau sifat polifaga dari organisme musuh alami, atau bahkan kanibalisme. Sifat-sifat ini dalam kondisi tertentu akan menurunkan tingkat kemempanannya selaku organisme pengendali hayati.

Penelitian penulis pada hubungan antar jenis afidofaga (pemakan kutu afid), yaitu kumbang koksi dan lalat syrphid, menjelaskan bahwa kedua jenis afidofaga ini saling berkompetisi dan saling memangsa (diistilahkan dengan Intraguild Predation atau pemangsaan di dalam satu guild). Artinya, jika di dalam agroekosistem yang kita kelola terdapat sekian banyak jenis organisme musuh alami, tidak secara otomatis akan menjamin keberlangsungan pengendalian hayati karena masing-masing jenis bisa jadi saling berkompetisi atau memangsa, dan tidak berperan sebagai pemangsa pada organisme pengganggu yang seharusnya dilakukannya.

Jika teknik introduksi digunakan untuk mengendalikan jenis organisme pengganggu, terutama jenis baru yang belum mempunyai kompleks musuh alami, maka harus didahului dengan kajian yang sangat teliti untuk meminimalkan potensi kerusakan ekosistem oleh spesies invasif.

Bagaimana memutuskan untuk menggunakan musuh alami?

Sebenarnya, jika ekosistem pertanian cukup baik, maka kemungkinan untuk memanfaatkan musuh alami cukup besar. Artinya, ekosistem yang tidak “dipadati” oleh bahan-bahan kimia-sintetik semacam pestisida dan pupuk memberikan lingkungan yang “nyaman” bagi musuh alami untuk berkembang biak dan mencari pakan. Di dalam hal ini, dalam kondisi populasi organisme pengganggu tidak cukup mengkuatirkan, maka menyerahkan nasib mereka pada musuh alami adalah tindakan yang paling masuk akal.

Namun, bagaimana jika populasi organisme pengganggu tiba-tiba meledak? Apakah musuh alami bermanfaat? Dalam kondisi yang semacam itu, musuh alami memang dianggap tidak efektif lagi. Jadi, upaya lain harus dilakukan untuk menurunkan populasi organisme pengganggu.

Bagaimana dengan upaya augmentasi inundasi? Cukupkah untuk melawan populasi organisme pengganggu yang menggila?  Cara inipun dipandang tidak cukup kuat, karena cara ini dilakukan hanya jika proses penekanan oleh musuh alami sudah berjalan, namun belum cukup cepat. Nah, fungsi augmentasi adalah menambah daya tekan musuh alami terhadap organisme. Namun, jika sudah terlanjur terjadi ledakan, maka musuh alami tidak akan mampu berperan banyak.

Mempersiapkan musuh alami

Pada upaya konservasi, populasi musuh alami dapat dipertahankan dengan cara menanam tumbuhan atau tanaman yang menghasilkan pakan alternatif (nektar dan serbuk sari) dan mengurangi penggunaan bahan-bahan yang dapat meracun dan membunuh musuh alami.

Pada upaya augmentasi, pembiakan massal serangga adalah upaya yang banyak dilakukan. Perlu dicatat, bahwa pembiakan massal adalah sebuah upaya yang cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu cukup lama. Oleh karena itu, pengendalian hayati kadang-kadang dianggap mahal di awal, meskipun murah di akhir proses, terutama jika proses penekanan organisme pengganggu oleh musuh alami berjalan dengan efektif.

Parasitoid telur, tawon Trichogramma sp. (sumber: http://ampest.typepad.com)

Larva Chrysoperla carnea (foto: Erick Steinert, 2004)

Evaluasi kemapanan dan potensi dampak negatif musuh alami

Salah satu kelemahan dalam bidang pelaksanaan pengendalian hayati adalah evaluasi terhadap (1) kemapanan atau adaptasi musuh alami, dan (2) penilaian dampak negatif musuh alami. Evaluasi pertama dapat dilakukan di lapangan dalam bentuk survei terhadap keberadaan sejak pertama kali dilepaskan sampai dengan waktu tertentu, misalnya setahun atau dua tahun. Evaluasi kedua dapat dilakukan baik di lapangan atau di laboratorium, dan meliputi kajian sifat hubungan jenis musuh alami yang dilepaskan dengan jenis musuh alami yang lain yang ada di lapangan, terutama jenis-jenis lokal. Penelitian sederhana di laboratorium cukup menarik dilakukan, misalnya dengan menggunakan uji predasi atau IGP.

Kesimpulan

Meskipun pengendalian hayati dianggap (cukup) aman, bukan berarti cara ini tanpa cacat. Kelemahan paling mendasar dari upaya pemanfaatan musuh alami adalah (1) daya reproduksi musuh alami yang kalah cepat dibandingkan organisme pengganggu, dan (2) ketahanan musuh alami terhadap guncangan lingkungan yang lebih rendah daripada organisme pengganggu. Oleh karena itu, pengendalian hayati hanya cocok untuk kondisi ekosistem tertentu, yaitu tidak tercemar senyawa beracun, cukup tumbuhan sebagai tempat reproduksi dan sumber pakan musuh alami, dan populasi organisme pengganggu tidak jauh melebihi daya tekan musuh alami (perbandingan proporsional).

Pustaka

Pedigo, L.P., 2005. Entomology and Pest Management. Prentice-Hall of India, New Delhi.

Laman:

13 thoughts on “Pengendalian hayati: Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi

  1. Yang paling atas (putih) itu bisa dilihat contohnya pada kutu yang menyerang pepaya mas, mirip. Trus dua yang dibawah itu, masing-masing tawon parasit dan larva sayap jala (dewasanya seperti capung). Mereka berdua ini contoh musuh alami yang cukup jagoan juga di lapangan.

    • Silakan berlangganan e-mail dengan cara mengklik “Surel berlangganan”. Setiap tulisan terbaru akan otomatis masuk ke e-mail pelanggan. Terima kasih atas kunjungannya ya.

  2. mw tnya pak…
    sya mndpat prtanyaan dri seorng tman…
    1. yg prtama knpa wktu pstisida diaplikasikan tdak ssuai 5T mngkibatkan trbunuhnya musuh alami terlebih dahulu, knpa hal itu bsa trjadi pak???dn bagaimana prosesnya hingga mnyebbkan musuh alami hama bisa trbunuh???
    2. klw hama t umumnya mmiliki tngkat rsistensi yg tnggi trhadap pestisida, lalu ap pnyebab musuh alami tdak bisa menjadi resisten pula trhadap pestisida pak???mhon pnjelasannya pak

    terima kasih sebelumnya

    • Halo Teguh,
      Hal pertama, secara biologis, serangga fitofaga (pemakan tumbuhan atau hama), mereka beradaptasi terhadap dua tekanan, yaitu (1) tumbuhan/ tanaman (misalnya dari senyawa metabolit sekunder yang sifatnya racun bagi mereka), dan (2) dari pestisida yang disemprotkan ke mereka. Dalam waktu tertentu, tentu saja kemampuan serangga fitofaga lebih tinggi dalam hal ketahanan terhadap tekanan2 tersebut dibandingkan organisme karnivora (musuh alami) yang notabene hanya mengalami tekanan dari pestisida. Hal kedua, jika pestisida disemprotkan secara terus-menerus dalam waktu panjang dan dalam frekuensi tinggi, maka proses bertahan dari serangga fitofaga akan terjadi secara intensif pula, sehingga mereka segera menjadi tahan (resisten) terhadap takanan tersebut (pestisida). Sebaliknya, musuh alami hanya mengalami lebih sedikit frekuensi tekanan dari pestisida (karena sifat mobil mereka, tidak hanya di tempat tersebut). Akhirnya, mudah dipahami, mengapa daya adaptasi (menjadi resisten) serangga fitofaga lebih tinggi daripada serangga karnivora.

  3. oh ya pak…ad tidak ya pestisida nabati/alami yg bsa mmbunuh berbgai spesies hama????
    sya brminat tntang pengendalian hayati n pestisida nabati pak
    rencanaya skripsi nnti ingin mngngkat tema trsbut..
    nmun untk spesifikasi tema blm dpet

    • pada umumnya, pestisida nabati cenderung broad spectrum, jadi mungkin bisa membunuh lebih dari satu jenis hama. tapi pengaruhnya pada masing-masing jenis hama berbeda. Hal itu memang menarik untuk diteliti…

  4. ….hhmmmm,,,,, tolong dong sejarah pengendalian hayatinya lebih dilengkapi lagi……
    soalnya yang saya tau sejarah pengend.hayati terbagi atas 2,,, yaitu secara universal (periode awal & periode intensif) dan secara nasional…. tlg ya masss……
    Thanks before…. (Fya, Universitas Haluoleo, Sultra).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s