Serangga sebagai sumber gizi: Alternatif penangkal gizi buruk

Beberapa pemberitaan di media massa tentang gizi buruk memaksa saya untuk merenungkan kembali makna “Gemah ripah loh jinawi kerta raharja (GRLJKR)” yang (dahulu) disematkan oleh para tetua kita kepada Indonesia. Benarkah makna kata-kata tersebut masih pantas untuk saat ini? Bagaimana tidak ragu, karena jika benar GRLJKR, maka tak akan ada anggota masyarakat yang mengalami gizi buruk di Indonesia. Menurut laman Indonesian Nutrition Network (http://www.gizi.net/), sejak tahun 2003, penderita gizi buruk pada balita masih berkisar pada angka 8,5% dari jumlah total penduduk Indonesia atau sekitar 4 juta jiwa. Dan menurut Global Hunger Index (GHI), kasus gizi buruk di Indonesia masuk kategori serius (di bawah kategori mengkuatirkan dan sangat mengkuatirkan). Kondisi ini tentu bukan sesuatu yang remeh, tetapi sebaliknya, sangat serius!

Saya tak akan menyalahkan siapapun dalam kasus ini. Tugas saya hanya mengajak kita yang masih ingin melihat kondisi Indonesia menjadi lebih baik, untuk berpikir keras, mencari upaya untuk memperkecil atau bahkan menghilangkan kondisi gizi buruk tersebut pada masyarakat. Bisakah kita? Ada banyak sekali alternatif sebenarnya, tetapi saya hanya ingin melihatnya dari kaca mata entomologi, bidang yang saya pahami.

Lho, apa hubungannya gizi buruk dengan entomologi/ serangga?

Begini. Tahukah Anda bahwa serangga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber nutrisi yang cukup baik. Tak percaya? Ha…ha…ha…, saya yakin Anda akan bergidik geli atau malah jijik membayangkan ulat atau uret yang gemuk lunak itu naik ke meja makan…^-^ Tapi benar kok, manusia sudah dan hingga kini masih memanfaatkan serangga sebagai sumber makanan.  Entomofagi adalah kata yang sering digunakan bagi kegiatan memakan serangga.

Sebelum mengenal teknik berburu dan bercocok tanam, manusia memanfaatkan serangga sebagai sumber makanan. Dan hingga kini, lebih dari 1000 jenis serangga telah dimakan oleh masyarakat di banyak negara. Di Indonesia, Anda dapat menjumpai orang-orang di kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta biasa mengkonsumsi belalang kayu goreng. Dan hampir setiap orang Indonesia mengenal laron sebagai salah satu menu yang lezat. Di kawasan Asia, berbagai macam jenis serangga dimasak dan dijual sebagai lauk atau kudapan.

 

Jengkerik goreng (http://static.guim.co.uk)


 

"Sate" pupa ulat sutera (Steven G. Johnson, 2009)

Rasanya? Hmmm lezat juga… Saya pernah mencoba jengkerik goreng, dan cukup yummy juga ^-^. Apalagi jika diolah dengan tepat, wah gak kalah deh dengan jenis lauk yang lain. Silakan lihat videonya di sini (http://www.msnbc.msn.com/id/21134540/vp/32106086#32106086).

Berapa sih kandungan gizi serangga?

Menurut para ahli gizi, serangga adalah sumber protein yang cukup baik, di samping vitamin, mineral dan lemak. Serangga juga menjadi sumber energi yang cukup lumayan. Misalnya, ulat sutera (Bombyx mori) dan ulat HongKong (Tenebrio molitor) mengandung energi rata-rata 5 -6,5 kkal/ g berat kering. Seratus gram larva ngengat sutera raksasa menyediakan 100% kebutuhan harian tubuh akan tembaga, seng, besi, thiamin, dan riboflavin. Luar biasa kan?

Beracun atau tidak?

Nah, sampai di sini, saya hanya bisa mengatakan bahwa tidak semua orang bisa mengkonsumsi serangga. Beberapa kejadian yang pernah saya jumpai adalah gejala alergi pada beberapa orang yang rentan terhadap alergen (bentol-bentol merah di sekujur tubuh dan rasanya panas dan gatal). Belum lagi, jika Anda mencoba mengkonsumsi serangga herbivora, maka Anda akan berhadapan dengan risiko kontaminasi logam berat, misalnya timah yang terakumulasi di dalam tubuh, atau dari pakan serangga yang bersangkutan.

Kesimpulannya…?

Jika Anda berminat untuk mencicipi kelezatan menu dari serangga ini, maka hal-hal berikut ini harus diketahui, yaitu:

  1. Gizi yang terkandung di dalam tubuh serangga yang akan Anda masak.
  2. Senyawa racun yang terkandung di dalam serangga.
  3. Pembiakan massal yang aman dan menguntungkan, terutama jika Anda berminat untuk buka warung menu serangga ^-^. Misalnya, jengkerik dan belalang daun.
  4. Asal atau pakan dari serangga yang akan Anda masak harus diketahui dengan pasti untuk meminimalkan risiko keracunan logam berat atau senyawa beracun yang lain.

Anda bisa menggunakan mBah Google untuk mencari informasi-informasi tersebut. Laman-laman berikut ini dapat Anda gunakan sebagai rujukan untuk mengetahui seluk-beluk menu serangga.

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Entomophagy
  2. http://insectsarefood.com/
  3. http://www.guardian.co.uk/environment/blog/2009/aug/19/insects-food-crisis
  4. http://www.food-insects.com/

 

Regard,

Nugroho S. Putra

10 thoughts on “Serangga sebagai sumber gizi: Alternatif penangkal gizi buruk

    • Ya benar mas. Hanya saja, seperti saya sebutkan, butuh penelitian yang cukup teliti, karena bagaimanapun serangga berpotensi membawa organisme parasit seperti cacing renik, dan mikroorganisme yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Mekaten.

  1. Menarik juga neh artikel…pas banget dengan postingan temen kantor (mba Susi)yang mengenalkan semut rangrang (O. smaragdina)yang bisa dikonsumsi dan dapat menambah penghasilan orang2 di Thailand..Walo tentunya hal tersebut akan sanfat tergantung dari cara pengolahan yang tepat. Wah, saya jadi penasaran pengin mencicipi jegkerik/belalang goreng…hehehe…makasih ya pak, ilmunya…

    • He…he….dapat ide pas baca beberapa berita di media tentang kasus gizi buruk yang terjadi di Indonesia. Miris banget. Kayak tikus kelaparan di lumbung padi saja….

  2. waktu kecil sih aku suka nangkap dan bakar capung ya, terus di makan, waktu itu sih kayanya bukan enaknya yang dicari, tapi penasaran aja seperti apa sih rasanya hehehe

    • Bener mas, saya dulu senengnya bakar kumbang tebu (Lepidiota sp) yang abu-abu itu lho. Rasanya….gak bisa dikatakan…alias aneh! Tapi dasar anak-anak, bukan rasanya, tetapi sensasi makannya itu lho yang bikin asyik. By the way, misalnya sampeyan buat tulisan satu halaman tentang pengalaman itu bagaimana mas? Nanti tak masukkan ke majalah saya? Ditunggu ya mas. Tengkyu before.

    • Mas Titus, terima kasih kunjungan dan dukungannya. Mudah-mudahan bermanfaat. Situs Anda juga menggugah, sederhana tetapi inspiratif. Terima kasih juga sharingnya.

    • mBak Estri, terima kasih kunjungannya. Hmm, jadi berpikir nih, bagaimana jika mBak (Bu) Estri menuliskan tentang manfaat dan risiko mengkonsumsi serangga untuk Majalah SERANGGA? Bisa ya… Terima kasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s