Pemberantasan vs. pengelolaan

Ketika petani melihat sawahnya diserang Wereng Batang Coklat (WBC) dalam jumlah besar, maka tindakan yang hampir pasti dilakukannya adalah …….menyemprotkan pestisida (sintetik)!

Tujuannya? Ya hanya satu: menumpas habis WBC tersebut!

Nah, coba Anda cermati kalimat “…menumpas habis WBC …..”

Ada cerminan rasa emosional, kuatir, panik, marah, mungkin juga frustasi, gemas…. Apalagi?

Situasi di atas mungkin sama dengan ketika Anda sedang duduk santai sambil membaca koran ditemani sepiring singkong goreng dan secangkir kopi panas….Yummy…!! Tiba-tiba sekelompok nyamuk menyerbu Anda, dan mulai menusukkan jarum stiletnya, kemudian mengisap darah Anda….. Apa reaksi Anda?

“Waduh…!! Nyamuk sialan!….Hhhh….!!!”

Ya, kaget, marah…terus tangan Anda segera melayang ke sana ke mari berlomba cepat untuk memukul mati nyamuk-nyamuk tadi sambil misuh-misuh gak karuan …!!! Ya nggak?? He…he…. itu reaksi wajar kok.

Ya seperti itulah perasaan petani tadi. Mereka sudah bersusah payah mempersiapkan lahan, kemudian mengeluarkan banyak biaya untuk membeli benih, pupuk, dan sebagainya. Ehh….pada gilirannya malah seperti memberi makan para wereng-wereng itu.. Mana gak dongkol kan?

Oke, kita kembali ke kata yang pertama, yaitu pemberantasan. Arti dari pemberantasan adalah memusnahkan, menumpas habis, dan melibatkan setidaknya faktor emosi. Pada kasus petani di atas, berpikiran jernih mungkin menjadi pilihan yang tidak populer. Pilihan mereka hanya satu, bagaimana caranya mengenyahkan wereng-wereng tersebut secepatnya untuk menyelamatkan padi. Tindakan petani tersebut bisa dipahami, yaitu paling tidak menyelamatkan “sedikit” bagian dari tanaman untuk dipanen. Namun, sebenarnya, secara ekonomis, jika mereka menggunakan cara yang maaf…membabi-buta… tersebut, maka sebenarnya tidak ada keuntungan ekonomis sama sekali! Coba bayangkan, mereka sudah mengeluarkan sekian rupiah untuk membeli benih, pupuk, dan sekarang pestisida untuk membunuh wereng, tetapi hasilnya? Wereng masih ada, dan bahkan mungkin berpotensi menjadi sumber masalah di musim tanam berikutnya karena sebagian resisten, dan yang jelas, populasi musuh alami sudah menurun drastis terpapar pestisida. Dan pada saat tersebut mereka bisa saja hanya mendapatkan sejumlah kecil sisa hasil panen.

Penyemprot berani sakit! Coba lihat, petani ini menyemprot tanpa baju lengkap dan tanpa masker wajah. Sangat berbahaya! (sumber: flickr.com)

Dari segi ekologis, tindakan mereka menyemprotkan pestisida secara besar-besaran tersebut juga membunuh sekian banyak musuh alami yang sebenarnya justru harus dilestarikan untuk mengelola populasi WBC di musim-musim tanam berikutnya.

Kesimpulannya, petani rugi beberapa kali dengan memberantas WBC! Ya rugi secara ekonomis dan lingkungannya rusak, termasuk kehilangan potensi pengendalian WBC oleh musuh alaminya di masa mendatang.

———————————————————————————————————————————

Nah, sekarang mari kita lihat situasi kedua, yaitu bagaimana jika petani melakukan pengelolaan habitat dengan baik? Apa yang akan didapatkan? Apa keuntungan melakukan upaya ini dibandingkan memberantas hama?

Mengelola (to manage) hama adalah upaya-upaya yang dapat dilakukan manusia untuk sesedikit mungkin menggunakan pestisida (sintetik), sementara di satu sisi yang lain mengupayakan lingkungan yang cocok untuk tanaman dan musuh alami hama, namun tidak cocok untuk hama itu sendiri. Upaya ini mencakup tiga hal penting, yaitu pencegahan  (prevention), pengamatan/ pemantauan (observation/ monitoring), dan penanganan (intervention).

Pencegahan. Upaya ini adalah mengusahakan agar populasi hama tidak mencapai Ambang Ekonomi (AE). Upaya-upaya pencegahan dapat dilakukan misalnya dengan menanam benih tahan hama (bukan hanya yang mampu berproduksi tinggi, tetapi rentan serangan hama lho), mengupayakan konservasi musuh alami, mengurangi penggunaan pestisida yang berlebihan (misalnya terjadwal, ada atau tidak ada hama), pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan tanah (baca di tulisan sebelumnya), tidak melakukan penanaman satu jenis tanaman secara terus-menerus sepanjang tahun (harus ada pergiliran tanaman!), dan upaya sejenis.

Pengamatan/ pemantauan. Upaya ini mutlak dilakukan, di antaranya dengan mengamati potensi kenaikan populasi hama (terlebih hama sekunder dan hama migran/ berasal dari luar wilayah), potensi penekanan oleh musuh alami (jumlah, jenis dan komposisi musuh alami), dan potensi kerusakan yang disebabkan oleh hama perusak (berpotensi merugikan atau tidak). Jika ditemukan kenaikan populasi hama yang signifikan, kemudian musuh alami tidak mampu menekan, dan kerusakan pada tanaman semakin parah, maka upaya penanganan perlu dilakukan.

Penanganan. Upaya ini dilakukan sesuai dengan prinsip efisien (murah), aman (tidak membahayakan organisme bukan sasaran, termasuk manusia), dan efektif (mempan).  Dalam hal ini, penggunaan pestisida dibatasi hanya menggunakan pestisida yang sangat selektif dan relatif aman, misalnya pestisida berbahan tumbuhan (botani) atau patogen, dan dalam jumlah yang optimal (sebatas dibutuhkan saja).

Kesimpulannya,  upaya pengelolaan tetap harus bersandar pada prinsip kesesuaian dengan lingkungan, alamiah, dan sesedikit mungkin melibatkan bahan-bahan berpotensi bahaya semacam pestisida sintetik. Bahkan, jika memungkinkan, penggunaan pupuk organik sangat dianjurkan. Keuntungan upaya pengelolaan sangat jelas, yaitu tanaman tumbuh dengan lebih bersih (dari racun), mungkin juga lebih lezat (karena menggunakan bahan organik), musuh alami tetap berada di lahan, populasi hama dapat ditekan (karena selalu terpantau), dan biaya budidaya dapat ditekan (karena penggunaan pupuk dan pestisida dapat dioptimalkan, atau sebatas dibutuhkan saja).

Nah, sekarang jelas kan, mana yang lebih murah dan aman? Anda pilih yang mana?

Hmmm, jadi teringat iklan “obat nyamuk” di TV. Masak sih hanya untuk melawan segelintir nyamuk atau kecoa saja harus dengan menyemprotkan bahan-bahan beracun tersebut secara membabibuta begitu? Yang benar saja! Saya biasa membunuh kecoa dengan satu-dua kali tepokan sandal. Mati juga tuh kecoa. Gak ada duit keluar untuk beli “obat nyamuk”, dan tidak ada resiko pusing-pusing gara-gara menghirup “deodorant berbahaya” bernama pestisida! Kadang-kadang iklan di media cenderung lebay ya…. Kapan ya bisa buat iklan lebay serupa tetapi menggunakan tepokan sandal….ha….ha…..ha….. (idegila.com).

Sukseskan pertanian sehat dan aman yuk!

Regard,

Nugroho S. Putra

Founder blog Dongeng tentang Serangga dan Majalah SERANGGA

9 thoughts on “Pemberantasan vs. pengelolaan

  1. saya sedang membayangkan kehebatan WBC ketika menghancurkan batang jerami … apa motivasi mereka bekerja tak kenal lelah itu? mungkinkah kita membiakkan WBC untuk tujuan industri ?

    • Motivasi? Tak lain hanya untuk memenuhi kebutuhan tumbuh dan berkembang, itulah hakekat makhluk hidup selain manusia. WBC untuk tujuan industri? Bisa mas! Mereka menghasilkan embun madu yang kandungan gulanya tinggi, mungkin bisa digunakan untuk gula sehat. Butuh penelitian panjang nih…. Terus karena pertumbuhan populasinya cukup tinggi, mereka mungkin juga dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Kandungan proteinnya tinggi lho…

  2. Pak Tio, saya hanya mencoba melihat WBC dengan sudut pandang lain … ingat lambang farmasi yang ular kobra itu. Sebagian racun adalah obat. Mungkin sebagian dari hama adalah rekan kerja di masa mendatang …

    • Benar mas, karena banyak sekali sebenarnya aspek yang belum diketahui dari binatang yang disebut “hama” itu. Sekali lagi karena label “hama” yang sifatnya sangat relatif, tergantung kepentingan manusia. Contoh, uret mengandung protein yang luar biasa tinggi. Kalau bisa digunakan sebagai pakan ikan atau ayam….waow…luar biasa tuh. WBC mungkin suatu saat bisa menjadi bahan baku pembuatan rempeyek ya…^-^

  3. Menarik juga ne pembahasannya…Allah SWt menciptakan sesuatu pasti tidak sia2. Utk WBC mgkin kita baru mengetahui sebatas perannya sebagai hama. Tidak menutup kemungkinan ke depannya, WBC mendatangkan manfaat bagi umat…Who knows?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s