Wereng Batang Coklat: pengganggu yang sulit ditaklukkan

Nilaparvata lugens (sumber: IRRI)

Ibarat bara  di dalam sekam

Itulah agaknya kalimat yang tepat untuk menggambarkan betapa Wereng Batang Coklat (atau Nilaparvata lugens Stal. (Hemiptera: Delphacidae) adalah pengganggu petani padi yang berbahaya, sulit diprediksi kemunculannya, dan sulit ditaklukkan. Pagi ini, saya membuka beberapa surat kabar online, dan menemukan sedikitnya 3 berita yang sama-sama memberitakan keganasan WBC beberapa waktu yang lalu. Liputan6.com memberitakan bahwa ribuan hektar sawah di Klaten Jawa Tengah diserang oleh WBC (17 Januari 2011), sedangkan Beritajatim.com memberitakan bahwa 211 hektar sawah di Gresik Jawa Timur telah diserang WBC (1 Februari 2011). Dan yang terbaru, Harianjoglosemar.com memberitakan bahwa hasil padi musim tanam III di Sukoharjo mengalami penurunan sekitar 30 persen akibat serangan WBC (1 Februari 2011).

Lalu apa yang kita lakukan?

Jikalau sudah terserang WBC, apalagi sampai seluas ratusan hektar, cara yang hampir selalu dilakukan oleh petani ataupun direkomendasikan oleh pihak pemerintah adalah, menyemprotkan (mengguyurkan tepatnya!) pestisida di areal yang terserang, dengan satu harapan: WBC mampus! Hmmm….sesederhana inikah pola pikir kita? Lantas, jika kemudian di musim tanam berikutnya juga muncul serangan serupa, mungkin dalam skala yang lebih luas, apakah juga harus diselesaikan dengan mengguyurkan pestisida? Apakah tidak ada upaya lain yang lebih murah dan sekaligus aman? Maksudnya aman? Ya, bukankah pestisida adalah racun dengan segala dampak negatifnya (baca di sini)? Lagian, pestisida kan relatif mahal. Bisa-bisa setelah melakukan penyemprotan, bukan keuntungan yang mereka peroleh tetapi kerugian yang besar karena (1) biaya produksi menjadi lebih tinggi daripada hasil yang dicapai, ditambah (2) kerusakan pada areal sawah karena terpapar pestisida, dan (3) munculnya penyakit (biasanya kanker) pada petani, keluarganya, dan masyarakat di sekitar persawahan dalam kurun waktu tertentu. Nah! By the way omong-omong, beras yang Anda makan sehari-hari itu bersih dari pestisida gak ya??? Hati-hati lho…… Gak menakut-nakuti, hanya membela …. eh …mengatakan yang benar, bahwa beras yang beredar di pasaran itu kemungkinan mengandung banyak residu pestisida. So, mengapa tidak mencoba beras non-pestisida?

Sebenarnya kejadian serangan/ledakan populasi WBC ini disebabkan oleh apa tho?

Oke, sekarang kita bahas satu per satu, faktor apa saja yang menyebabkan populasi WBC meledak tanpa ampun. Saya akan merangkum beberapa fakta tentang cara budidaya oleh petani secara umum.

1. Pola tanam. Petani umumnya menggunakan pola tanam padi-padi-padi (lagi). Emang gak ada tanaman lain yang menguntungkan? Ya ada sih, cuma mungkin mereka berpikir, mumpung harga padi lumayan, atau mumpung banyak orang masih makan nasi (ehh…ada yang sudah pindah makan ubi, ketela, thiwul atau grontol ya….^-^?), mumpung musim lagi banyak air, atau budidaya padi lebih familiar buat mereka, dan masih banyak alasan lain. Banyak ahli menyatakan (berdasarkan penelitian yang sahih lho!), bahwa ketersediaan pakan yang terus-menerus adalah salah satu pendukung keberadaan serangga (hama) yang penting. Benar kan logikanya? Kalau setiap musim WBC disediakan pakan (padi), maka ya pantas mereka terus beranak-pinak sepanjang musim-musim tersebut kan? Nah, artinya, jika dibalik, jika Anda ingin memutuskan siklus hidup WBC, maka Anda dapat melakukan pergiliran tanam dengan tanaman non-padi. Mungkin Anda dapat memilih padi-padi-palawija. Dengan demikian, setidaknya selama satu musim, WBC tidak mendapatkan pakan. Tambahan lagi, keuntungan menanam tanaman palawija adalah mengembalikan atau malah meningkatkan kesuburan tanah pasca ditanami padi. Ingat, padi adalah tanaman yang cukup rakus akan hara. Jadi, setelah hara dikuras oleh padi, tanaman palawija, misalnya kedelai, yang mampu menambat N dari udara, akan membantu tanah mendapatkan kembali N yang diambil oleh padi. Nah, mengapa tak dicoba?

2. Pemilihan varietas. Petani tentu mengharapkan hasil padi yang tinggi bukan? Nah, maka di pasaran beredar benih-benih padi yang bermacam-macam, misalnya yang berasa enak, berumur pendek, pulen, dan sederet keunggulan lain. Tetapi pertanyaannya, apakah mereka tahan terhadap serangan WBC? Beberapa varietas padi yang katanya mampu berproduksi cukup tinggi tersebut ternyata kebanyakan tidak tahan terhadap WBC. Contoh, varietas Intani, Mamberamo, dan sebagainya. Dahulu, petani masih mau menanam VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng) yang relatif tahan terhadap WBC. Sekarang, karena permintaan pasar akan padi yang “enak”, jadilah petani beralih menanam padi non-VUTW. Yah, akibatnya terjadilah ledakan populasi WBC. Sudah rakus, selalu diberi pakan, enak lagi! Mana tahan??!!

3. Pemberian pupuk sintetik. Hal ini sudah amat jamak dilakukan petani. Ada pendapat umum, bahwa di dalam proses budidaya tanaman, pemberian pupuk adalah mutlak dibutuhkan, terutama unsur nitrogen. Masalahnya sebenarnya bukan pada pupuknya. Kalau pupuk, ya memang dibutuhkan kok. Masalahnya terletak pada banyak-sedikitnya pupuk yang dibutuhkan oleh tanah setempat. Kita tahu bahwa setiap daerah/ wilayah mempunyai jenis tanah yang khas. Tentu saja kebutuhan akan pupuk (terutama nitrogen yang sangat dibutuhkan padi) berbeda-beda tergantung dari kemampuan menjerab nutrisi oleh partikel dari masing-masing jenis tanah, sekaligus kemampuan menahan nutrisi dari kemungkinan terlindi (terbawa aliran, misalnya air hujan). Pada jenis tanah yang kemampuan menjerab dan menahan nutrisi cukup tinggi, kebutuhan pupuknya tentu lebih rendah daripada jenis tanah yang sifatnya berkebalikan. Tetapi pada kenyataannya, di lapangan, petani cenderung memberikan pupuk dalam jumlah berlebih. Parahnya, pupuk (nitrogen) yang digunakan petani adalah pupuk sintetik yang notabene sudah lama ditengarai para ahli dapat mengubah struktur tanah. Tak heran kebanyakan tanah menjadi keras (bantat istilahnya di Jawa), karena terlalu banyak dipupuk dengan pupuk sintetik. Lain halnya jika petani menggunakan pupuk organik, termasuk kompos. Kompos mudah terurai, dan mudah diserap oleh akar tumbuhan, sehingga hampir tidak berdampak buruk terhadap sifat fisika-kimia tanah. So, mengapa tidak menggunakan pupuk organik??

4. Penyemprotan pestisida sintetik secara berjadwal. Hal ini juga jamak dilakukan oleh petani dengan asumsi bahwa pestisida adalah “kebutuhan” penting untuk “melindungi” tanaman dari serangan hama. Memang, pada kenyataannya, penyemprotan pestisida secara terjadwal dilakukan oleh petani, bahkan pada populasi hama yang sangat rendah. Tambahan lagi, petani seringkali melakukan praktek penyemprotan di bawah dosis rekomendasi, sebuah hal yang memicu terjadinya resistensi (ketahanan) hama, terutama hama dari golongan artropoda pada pestisida. Dampak lain, praktek penyemprotan yang keliru ini akan menyingkirkan musuh alami dari habitat padi, yang pada gilirannya “melepaskan” tekanan melalui pemangsaan atau parasitasi pada hama. Nah, terbayang kan kalau hama menjadi selamat berkat “bantuan” pestisida yang seharusnya membunuh mereka. Senjata makan tuan nih kayaknya…?

Apa yang mestinya kita lakukan?

Pernahkan kita berpikir bahwa ledakan populasi WBC tersebut tidak serta merta terjadi? Setidaknya empat fakta di atas membuktikan bukan? Nah, apakah ada cara yang lebih bijak, aman, dan ekonomis? Ada! Sebenarnya kuncinya terletak pada “pengelolaan” habitat atau tempat budidaya tersebut dilaksanakan. Jika kita mampu mengelolanya dengan terencana dan terkoordinasi dengan baik, maka masalah ledakan populasi WBC ini dapat diatasi. Yakin? Ya yakin!

Jelasnya, bagaimana tho?

Hal pertama. Pahami karakteristik wilayah atau lahan bakal tempat bertanam padi, meliputi kecocokan tanah untuk bertanam padi (pH, jenis tanah, ketersediaan air, dan sebagainya), dan iklim (mungkin hal ini tidak terlalu penting ya..). Banyak sekali petani yang tidak peduli dengan hal ini. Mau contoh? Coba perhatikan euforia petani beberapa waktu yang lalu untuk bertanam cabai, gara-gara harga cabai di pasaran tinggi. Mereka beramai-ramai menanam cabai, dan tidak mempedulikan kesesuaian lahan mereka untuk bertanam padi. Akibatnya? Muncullah masalah hama dan penyakit yang ditengarai lebih disebabkan oleh ketidaksesuaian lahan tersebut. Penyakit jamur muncul karena cabai ditanam di tanah yang cenderung “basah” terus-menerus, tidak mempunyai saluran pembuangan air yang memadai, dan ketidaksesuaian yang lain. Berikutnya, kita mestinya memahami juga daya dukung tanah terhadap padi. Jika tanahnya sudah mencukupi akan unsur nitrogen, maka seharusnya pemberian nitrogen harus dikurangi. Demikian pula unsur yang lain. Analisis tanah perlu dilakukan, paling tidak setahun sekali untuk memastikan kesesuaian daya dukung nutrisi tanah terhadap kebutuhan padi.

Hal kedua. Pahami juga bahwa perkembangan populasi WBC dapat diredam dengan membuat pola tanam yang dapat memutuskan siklus hidup WBC. Pola padi-padi-palawija merupakan pola yang pas seperti yang sudah dijelaskan di atas. Yakinkan pula bahwa meskipun hasil padi berkurang (karena satu musim diganti palawija), toh kita masih mendapatkan hasil dari palawija itu sendiri, di samping alasan lain yang sudah dijelaskan di atas. Jadi, hal ini bukanlah masalah besar.

Hal ketiga. Pemilihan varietas padi yang tepat. Petani cenderung memilih benih padi yang bernilai ekonomis tinggi, artinya disukai oleh konsumen, dan biasanya peka terhadap serangan WBC. IR64 adalah salah satu contoh varietas yang tahan terhadap WBC, sedangkan varietas lokal Menthik dan Pandanwangi cenderung peka terhadap WBC.

Hal keempat. Menyelamatkan dan mempertahankan keberadaan musuh alami di habitat padi. Komponen rantai makanan yang paling banyak terpengaruh oleh perlakuan pestisida oleh petani adalah musuh alami. Jika petani menyemprotkan pestisida, maka merekalah yang paling dahulu mati. Oleh karena itu, cara yang dapat dilakukan ya mengurangi penyemprotan pestisida yang berlebihan. Konservasi musuh alami juga dapat dilakukan dengan cara mencari beberapa tanaman/ tumbuhan (tentu saja yang tidak bersifat antagonis terhadap padi) penghasil serbuk sari untuk menarik kedatangan musuh alami. Kajian tentang jenis-jenis tumbuhan yang kompatibel dengan padi dan dapat digunakan sebagai pemikat musuh alami agaknya perlu segera dilakukan nih… Ada yang berminat??

Kesimpulan. Nah, pada dasarnya pengelolaan habitat menjadi upaya utama yang dapat kita lakukan untuk menciptakan lingkungan sehat yang baik untuk tanaman dan musuh alami, serta kurang cocok untuk hama. Jika sudah demikian, maka sistem pertanian yang sehat, berproduksi tinggi, dan tidak merusak lingkungan akan dapat diciptakan. Kita juga yang beruntung kan?? Yuk, bertani sehat!

Regard,

Nugroho S. Putra

Hopperburn yang diakibatkan oleh WBC (sumber: IRRI)

16 thoughts on “Wereng Batang Coklat: pengganggu yang sulit ditaklukkan

  1. Bener banget pak…serangan wereng coklat dah mpe Jombang. Beberapa minggu lalu di kontrakan kami bila malam menjelang serbuan wereng coklat menggila. Awalnya saya ga terlalu peduli karena saya pikir itu sejenis lalat buah (padahal jenis lalat buah juga ribuan hehehe…). Tapi setelah saya amati lagi ternyata itu wereng n hal tsb diyakinkan oleh teman satu kontrakan yang dulu pernah menjadi petugas pengamat opt tanaman pangan.Saya sempat bingung kok bisa2nya wereng menyerbu rumah? Apa karena ketidaktersediaan inang di lapang? Padahal saya juga melihat hamparan padi di dekat kantor sudah terserang hama ini. Mohon penjelasannya…

    • Waduh, perkembangan baru nih.. Btw, varietas padinya apa mBak? Jangan-jangan mereka pada nanam varietas yang produksinya tinggi tapi letoy kalo ngadhepi wereng…!? Hmmm…mereka masuk rumah karena tertarik pada cahaya mBak. Kalau merasa terganggu, matikan dulu lampunya, tunggu mereka keluar, trus nyalakan lampu yang di luar. Tutup semua pintu and jalan lain, baru nyalakan kembali lampu di dalam rumah. Mekaten.

  2. Wah saya ga tau varietas padinya…cuma agak menyesal juga kenapa werengnya ga saya koleksi hehehe…Iya juga serangga biasanya tertarik cahaya, cuma ya lucu jadinya kalo mpe nyerbu rumah hehehe…biasanya kan taunya cuma laron..ok deh matur nuwun penjelasannya pak…

  3. Maaf mas ngikut nimbrung, gini d tempat saya memang bnyak yang menanam padi dan berkecimpung pada serangan hama wereng. alasanya menanam padi: 1. karna lahan kami tadah hujan.2. karna jika musim hujan tidak bisa di tanami selain padi. 3.memang benar yg mas tuturkan mengganti tanaman tp itu bisa di lakukan jika musim kemarau sebab air berkurang. dan dari dulu sampe sekarang jika menanam padi pasti berhubungan dengan pestisida,pupuk anorganik dll, karna wereng,walang sangit dll hama menyerang…..

    • Terima kasih kunjungannya. Masalah wereng coklat sebenarnya terpicu bukan hanya oleh faktor alam, tetapi justru sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia. Benar sekali, bahwa pestisida dan pupuk nitrogen yang berlebihan akan membuat lingkungan amat bagus untuk wereng coklat. Contoh, pemberian pestisida membunuh musuh alami wereng coklat, sementara pupuk nitrogen berlebih akan menyebabkan tanaman semakin disukai wereng karena, konon, makin lezat dan bergizi. Mengapa tidak mencoba menggunakan pupuk asal tumbuhan (dikomposkan)? Atau, mengapa tidak menggunakan pestisida nabati (asal tumbuhan) yang relatif aman terhadap musuh alami?

    • sekedar info,, pada saat musim hujan terlebih hujan datang malam hari biasanya keesokan paginya banyak walang sangit yang menyerang… hal tersebut dapat dikendalikan dengan pemasangan obor. karena walang sangit suka dengan api….

  4. saya setuju dengan pemberian pupuk organik, tetapi berapa jumlah pupk organik yang dibutuhkan oleh petani untuk 1 ha?

    • Tergantung kebutuhan lahan (tanah) mas. Jadi kita tidak bisa menentukan jumlah kebutuhan pupuk (organik maupun anorganik) pada lokasi yang berbeda. Faktor jenis tanah misalnya, sangat berpengaruh pada penyerapan pupuk oleh tanaman, sekaligus persistensi pupuk di tanah. Tanah pasiran misalnya, membutuhkan pupuk yang lebih banyak dibandingkan tanah lempungan yang relatif lebih kuat dalam mengikat unsur nutrisi dari pupuk. Silakan dicoba-coba saja mas, sampai ketemu jumlah yang tepat. Selamat mencoba. Terima kasih kunjungannya.

  5. masalah yang harus kita pecahkan itu adalah gelas……..eh…kaca….(ngaco ya)…..sebenarnya adalah bagaimana perbedaan harga pangan organik dan non organik tak terlalu tinggi, tetapi petani organiknya keuntungannya meningkat karena costnya turun gitu. Sehingga pangan tersebut sangat terjangkau. Disamping itu ya pendidikan kesadaran akan kesehatan pangan perlu diadakan. Mungkin caranya dengan berkali-kali nayangkan kayak liputan “investigasi” di trans TV tentang kecurangan di pangan (bakso ayam tiren, ikan berformalin….).

    • Ha..ha..ha… Pa kabar Mas?

      Betul sekali pendapat Mas Mofit. Hal paling penting sebenarnya bukan pada teknologi organiknya, tetapi justru pada metode untuk mengubah paradigma petani terhadap pupuk organik sebagai input budidaya yang murah, berkualitas, dan mudah didapatkan (dibuat). Dari sekian banyak kegagalan cangkok teknologi organik kepada petani, faktor paradigma ini ternyata paling penting. Nah, ayo, kapan kita bentuk kelompok kerja untuk memberikan pemahaman pada petani? Terima kasih sudah berkunjung….

      Regard,
      NSP

      • memang untuk membuat budaya pertanian organik sangat susah diterapkan di Indonesia. hal tersebut dikarenakan karena tanah2 di Indonesia sudah terbiasa dengan pemberian bahan anorganik. sehingga jika kita ingin bartanam organik sangat sulit dilakukan karena ketersediaan bahan organik sangat terbatas dan membutuhkan jumlah banyak yang tentu saja tidak memberikan hasil secra langsung. memang yang perlu dilakukan adalah dengan pendekatan ke petani untuk merubah paradikma mengenai pertanian organik dan pertanian berlanjut.

      • Benar sekali. Meskipun sekarang bahan organik lebih mudah ditemukan dan dibuat, maka sebenarnya pertanian organik dapat memperlihatkan keunggulan komparatifnya. Kalau masalah paradigma petani, benar seperti itu. Namun, hal tersebut lebih disebabkan oleh kondisi ‘terpaksa’ karena berhadapan dengan tuntutan tonase panen yang biasanya sudah ditetapkan oleh pemerintah, dan juga oleh pasar yang menghendaki stok cepat. Saya mempunyai beberapa teman petani yang justru keukeuh bertani organik dengan konsekuensi mereka bersedia menanggung. Dan hasilnya, ternyata tidak kalah dengan non-organik. Terima kasih kunjungannya.

  6. mas mau nanya nilaparvata lugens itu ordonya hemiptera atau homoptera ya? soalnya saya baca di jurnal-jurnal ada yang menulis homoptera ada yang hemiptera jadi bingung, makasi ditunggu jawabannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s