Manusia sebagai penyebab utama munculnya hama

Tahukah Anda bahwa sistem budidaya tanaman pertanian akan selalu berhadapan dengan tekanan-tekanan yang berasal dari faktor abiotik dan biotik. Dinamika perubahan cuaca dan iklim yang sangat nyata ditengarai menjadi salah satu faktor penentu yang cukup penting pada peningkatan insiden ledakan populasi hama di berbagai tempat, apalagi ditambah dengan fenomena global warming yang melahirkan beberapa anomali iklim (La Nina, El Nino, dan sebagainya).

Namun, bagaimanapun juga, faktor perilaku manusia dapat dianggap sebagai faktor terpenting. Pemanasan globalpun lebih disebabkan oleh ulah manusia, jadi bukan merupakan suatu hal yang “ada-tanpa-penyebab”. Ingin contoh? Tengoklah, bagaimana manusia mengganti area hutan menjadi area pertanian atau pertambangan. Atau, bagaimana manusia membangun gedung-gedung tanpa mempedulikan keseimbangan tata guna lahan (lebih luas bangunannya daripada areal hijau). Terakhir, ketika Revolusi Hijau (Green Revolution) dicanangkan antara tahun 1940-an sampai 1970-an, maka kejadian-kejadian “aneh” yang terkait dengan bidang pertanian (termasuk perkebunan) mulai bermunculan (Revolusi Hijau akan ditulis tersendiri dalam posting tersendiri). Misalnya, mulai timbul lonjakan populasi hama (termasuk kemunculan hama sekunder), meningkatnya ongkos budidaya pertanian, munculnya penyakit-penyakit aneh misalnya kanker kulit, keracunan akut pada petani, kematian organisme bukan sasaran, penurunan keanekaragaman hayati, dan kejadian-kejadian sejenis yang tidak disangka sebelumnya. Silakan baca di sini dan di sini.

Pada tataran petani dan pengambil keputusan (pemerintah), hal-hal di atas diperparah dengan munculnya paradigma “hasil tanaman tinggi, apapun risikonya”. Dengan menggunakan paradigma ini, maka manusia kemudian cenderung tidak memikirkan akibat buruk pada lingkungan karena “sibuk” mengejar keuntungan ekonomis (profit-oriented paradigm). Salah satu contoh nyata adalah keputusan petani dan pelaku budidaya yang lain untuk menggunakan bahan kimia (pupuk buatan dan pestisida sintetik) untuk meningkatkan hasil panen (sekaligus “mempermudah” urusan budidaya). Bagaimana tidak lebih mudah, jika petani hanya perlu menanam benih, memberikan pupuk (sudah tersedia di toko pertanian), mengaplikasikan pestisida (untuk “mencegah” kedatangan organisme pengganggu tanaman termasuk hama), kemudian memanen hasilnya. Perilaku ini hampir selalu tidak didukung dengan sebuah kesadaran bahwa daya dukung alam (tanah dan air) tidak akan pernah makin tinggi, dan bahkan akan menurun dari waktu ke waktu. Cobalah ditanyakan ke para petani, apakah mereka bisa memperoleh hasil panen yang makin tinggi pada waktu-waktu berikutnya? Mereka akan menjawab, tidak!

Pada beberapa dekade belakangan ini, muncul tambahan “pemikiran” bahwa sebuah tanaman haruslah berdaya hasil (bobot panen) dan berdaya tahan tinggi (terhadap serangan organisme penggangu tanaman). Maka petani mulai menggunakan benih-benih transgenik (akan dibahas  pada posting berikutnya). Permasalahan muncul, karena ternyata tanaman transgenik ini berdaya hasil tinggi, tahan terhadap satu atau dua jenis OPT, tetapi tidak pada OPT yang lain. Artinya, kemungkinan terjadinya pergeseran status dari organisme yang “tidak terlalu” mengganggu tanaman menjadi organisme yang “sangat” mengganggu tanaman.

Hal lain yang dilakukan manusia adalah, memasukkan spesies hewan yang bersifat invasif (akan diposting kemudian), ataupun tanaman yang “membawa” hama-hama eksotis yang belum pernah ditemukan di Indonesia. Untuk hal pertama, ingatkah Anda tentang masuknya Keong Mas (Pomacea canaliculata Lamarck). Pada mulanya, hewan ini dimasukkan sebagai hewan peliharaan (Pet). Tetapi karena satu kejadian, beberapa ekor lepas ke lapangan, dan segera berkembang menjadi hama padi yang amat berbahaya, hingga kini! Contoh hal kedua adalah masuknya hama Liriomyza sp (Diptera: Agromyzidae) melalui impor bunga potong dari Belanda pada sekitar tahun 1990-an. Sesampai di Indonesia, spesies lalat pengorok ini segera berkembang menjadi hama yang amat merugikan karena sangat polifag.

Nah, sepertinya dunia pertanian bukan sebuah dunia indah yang serba mudah, serba cepat, dan serba menguntungkan ya? Perlu upaya yang keras dan cerdas untuk mendapatkan keuntungan ekonomis yang tinggi sembari mengupayakan agar daya dukung lingkungan terhadap budidaya tersebut dapat diperpanjang (dipertahankan selama mungkin). Siapkah kita? Tunggu posting saya selanjutnya.

Regard,

Nugroho Susetya Putra

E-mail: nugrohoputra27@gmail.com

Liriomyza brassicae (Sumber: Invasive.org, 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s