Berwarna cerah untuk bertahan: Strategi warning coloration

Tulisan ini adalah pemenuhan janji saya untuk melengkapi tulisan sebelumnya (“Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!”). Pernah melihat serangga yang berwarna-warni cerah, entah itu kupu-kupu, capung, kepik, dan sebagainya? Apa kesan pertama Anda pada mereka? Indah bukan? Hmm, yak, saya juga setuju dengan Anda. Tetapi, kita mungkin juga akan mempunyai pertanyaan: Untuk tujuan apa mereka mempunyai warna yang indah tersebut? Sementara serangga lain mempunyai warna sebaliknya: kusam, kelam, dan tidak menarik?

Nimfa kepik Lygaeus kalmii pada tumbuhan milkweed

Capung Sympetrum flaveolum

Fungsi warna cerah bagi serangga

Meskipun pewarnaan pada tubuh organisme, termasuk serangga merupakan hal yang  umum, hal ini masih menyisakan pertanyaan, bahkan debat yang berkepanjangan di antara ahli biologi. Di satu sisi, warna cerah pada tubuh mereka berguna sebagai pemikat lawan jenis untuk diajak kawin. Nah, di sinilah teka-teki tersebut timbul. Meskipun warna cerah berguna untuk tujuan tersebut, namun bukankah warna cerah juga menjadi penanda yang sangat jelas akan keberadaan mereka di alam. Jika organisme yang berwarna kusam begitu sempurna tersamar di lingkungannya, maka organisme dengan warna cerah justru akan terlihat amat jelas oleh pemangsanya! Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi mereka.

Menurut situs wikipedia, warna cerah sering dihubungkan dengan mekanisme Warning Coloration (Pewarnaan tubuh untuk memperingatkan) atau Aposematisme (Apo– berarti menjauh/ mengusir, dan Sematic berarti peringatan). Umumnya, warna oranye, merah, kuning yang kontras dengan warna hitam pada serangga merupakan petunjuk bahwa serangga tersebut beracun, atau minimal berasa tidak enak. Menariknya, demikian kuatnya pengaruh warna ini bagi sekelompok serangga tertentu, sehingga beberapa kelompok yang lain meniru atau menyamar sesuai dengan warna dari kelompok serangga yang memang benar-benar berbahaya tersebut (silakan baca tulisan sebelumnya “Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!”).

Sejarah penelitian tentang warning coloration

Fenomena warning coloration ini mula-mula ditemukan oleh Alfred R. Wallace, dan kemudian oleh E.B. Poulton yang kemudian menyimpulkan bahwa predator yang sudah terlatih cenderung menghindari memangsa organisme yang mempunyai warna cerah. Dalam sebuah surat yang ditulisnya kepada Darwin pada tahun 1870-an, Wallace sudah berpendapat bahwa warna-warna cerah pada organisme kemungkinan menjadi semacam “peringatan” bagi calon pemangsa, bahwa organisme tersebut tidak enak dimakan (unpalatable).

Beberapa penelitian telah menguak sebagian misteri warning coloration pada serangga ini. Misalnya, penelitian Gamberalla dan Tullberg (1998) dan Hattle dan Salazar (2001) menjelaskan bahwa perilaku gregariousness (berkelompok) mempunyai efek positif terhadap warning coloration, yaitu memperkuat sinyal peringatan kepada calon pemangsa bahwa mereka beracun! Penelitian Hatle dan Salazar bahkan menyebutkan bahwa perilaku berkelompok mampu memperlambat proses pemangsaan oleh musuh alami. Hmmm…mungkin mereka sudah ngeper dahulu melihat calon mangsanya yang cerah ceria namun mematikan.

Penelitian lain juga menjelaskan bahwa mekanisme pemangsaan oleh pemangsa pada serangga-serangga berwarna cerah ini ternyata sangat kompleks, terutama setelah melalui proses belajar (learning) dan mengingat (memorizing). Penelitian Lynn (2005) menjelaskan bahwa hubungan antara mangsa dan pemangsanya selalu diiringi oleh proses learning (memorizing) dan sekaligus forgetting. Sherrat (2002) kemudian mengembangkan teori bahwa mangsa yang berwarna-warni cerah (thus, kelihatan jelas) mampu bertahan lebih baik (karena akan dikenali sebagai mangsa yang tidak enak/ berbahaya) dibandingkan mangsa yang tersembunyi/ tersamar (cryptic) yang dianggap tidak berbahaya. Artinya, menurut Sherratt, strategi warning coloration bisa jadi lebih hebat daripada strategi penyamaran (misalnya warna yang selaras dengan warna daun pada belalang daun).

Bagaimana pengaruh “racun” tersebut pada musuh alami?

Pertanyaan yang akan timbul juga adalah: Jika jaringan tubuh serangga tersebut beracun, bagaimana dong dengan pemangsaan oleh musuh alaminya? Apakah serangga-serangga ini tidak mempunyai musuh alami? Atau musuh-musuh alami tersebut sudah beradaptasi dengan serangga-serangga berwarna cerah ini?

Secara fisiologis, racun yang terdapat pada serangga-serangga beracun tersebut diperoleh dari pakannya. Misalnya, ulat Junonia coenia (Lepidoptera: Nymphalidae) memperoleh senyawa iridoid glycosides yang diperolehnya dari tumbuhan Plantago lanceolata. Atau ulat kupu-kupu raja, Danaus plexippus (lihat tulisan sebelumnya: “Migrasi jarak jauh: Strategi bertahan hidup ala serangga”) yang memperoleh senyawa cardiac glycoside dari tumbuhan milkweed (Asclepias sp). Beberapa serangga kemudian akan melepaskan senyawa-senyawa tersebut ketika diserang. Larva tawon gergaji (Hymenoptera: Tenthredinidae) misalnya, mengeluarkan senyawa tersebut melalui lubang-lubang kecil di antara ruas-ruas tubuhnya ketika diserang, dan fenomena ini disebut reflex bleeding (akan dibahas tersendiri, Insya Allah). Hal yang sama dilakukan oleh kumbang koksi ketika diserang oleh predator.

Reflex bleeding pada kumbang koksi

Reflex bleeding pada kumbang koksi

Penyerapan senyawa beracun oleh serangga pemakan tumbuhan tersebut belum jelas. Namun, beberapa ahli menduga bahwa secara umum, serangga-serangga tersebut mampu menyerap dan menyimpan racun tersebut pada bagian tertentu tubuhnya, dan kemudian “digunakan” jika diperlukan.

Sebagaimana organisme lain, serangga-serangga beracun yang dikaruniai warna cerah ini juga mempunyai musuh alami spesifik, yang mampu meminimalkan efek beracun pada tubuhnya. Sementara, musuh alami polifaga (mempunyai jangkauan inang lebar) kemungkinan akan mengalami kesulitan memangsa serangga-serangga tersebut. Salah satu mekanisme yang digunakan oleh musuh alami khas untuk meminimalkan dampak racun dari mangsanya disebut mekanisme “penurunan dampak racun pada tubuh”. Pada penelitian yang dilakukan oleh Brower (1969), Roeske et al. (1976), Rothchild (1972) dan Reichstein et al (1968), burung blue-jay (Cyanocitta cristata bromia) diberi pakan kupu-kupu D. plexippus. Begitu makan, segera burung ini memuntahkan kembali sang kupu-kupu, dan selanjutnya menolak untuk mengulangi memakan kupu-kupu ini. Para peneliti ini menduga (sekaligus menyimpulkan!?) bahwa burung blue-jay mungkin belajar dan mengingat bahwa warna cerah pada kupu-kupu raja berkaitan erat dengan rasa tidak enak kupu-kupu tersebut. Penelitian lain kemudian membuktikan adanya fenomena peng-kopi-an ciri warna kupu-kupu raja ini oleh kupu-kupu lain yang sebenarnya tidak beracun untuk menghindari pemangsaan oleh musuhnya (lihat tulisan “Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!”). Namun, dua spesies burung yaitu Icterus abeillei dan Pheuctius melanocephalus mampu mengurangi kepekaan tubuh terhadap efek racun kupu-kupu raja, sehingga mereka mampu memangsa kupu-kupu raja ini.

Simpulan

Well, agaknya warning coloration mampu menjadi salah satu alternatif sistem pertahanan serangga yang mumpuni, meskipun bagaimanapun juga mereka tidak lepas dari hukum alam bahwa “setiap yang hidup akan mati” ehh… bukan, maksudnya, “setiap organisme pasti mempunyai musuh alami”.

Pustaka

Camara, M.D., 1997. Predator responses to sequestered plant toxins in buckeye caterpillars: Are tritrophic interactions locally variable? Journal of Chemical Ecology 23.

Gamberale, G. Dan B.S. Tullberg. 1998. Aposematism and gregariousness: the combined effect of group size and coloration on signal repellence. Proceeding of Royal Society of London 265: 889-894.

Harborne, J.B. 1993. Introduction into ecological biochemistry. 4th edition. Academic Press, Amsterdam.

Hatle, J.D. dan B.A. Salazar. 2001. Aposematic coloration of gregarious insects can delay predation by an ambush predator. Environmental Entomology 30: 51-54.

Koch, R.L., W.D. Hutchison, R.C. Venette, and G.E. Heimpel. 2003. Susceptibility of immature monarch butterfly, Danaus plexippus (Lepidoptera: Nymphalidae: Danainae), to predation by Harmonia axyridis (Coleoptera: Coccinellidae). Biological Control 28: 265-270.

Lynn, S.K. 2005. Learning to avoid aposematic prey. Animal Behaviour 70: 1221-1226.

Romoser, W.S. dan J.G. Stoffolano. 1998. The science of entomology. 4th edition. McGraww-Hill, Boston.

Sherratt, T.N. 2002. The coevolution of warning signals. Proceeding of Royal Society of London 269: 741-746.

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Sumber gambar: http://en.wikipedia.org

2 thoughts on “Berwarna cerah untuk bertahan: Strategi warning coloration

    • Terima kasih sudah berkunjung. Tulisan-tulisan tersebut rencananya akan saya gabung dengan tulisan-tulisan yang lain dalam sebuah majalah yang mudah-mudahan bisa saya (kami) launching tanggal 1-2 Oktober 2010 bertepatan dengan acara Peringatan Ulang Tahun PEI ke-40 yang akan diselenggarakan di kampus Fak. Pertanian UGM. Nah, silakan sabar menunggunya yah…

      Regard,
      NSP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s