Semut: menguntungkan atau merugikan?

Siapa tak kenal jenis serangga satu ini. Mungkin semut adalah kelompok serangga yang kelimpahan dan rentang penyebarannya paling luas, dan dapat dijumpai di hampir semua jenis habitat, kecuali perairan. Wilson (1987) menjelaskan, bahwa semut adalah kelompok serangga yang paling mampu beradaptasi. Beberapa catatan memperlihatkan bahwa tidak kurang dari 24 genera semut yang diduga hidup pada jutaan tahun yang lalu, masih dijumpai hingga saat ini, di antaranya genus Ponera, Tetraponera, Aphaenogaster, Monomorium, Iridomyrmex, Formica, Lasius, dan Camponotus. Mengingat hal tersebut, muncul pertanyaan:peran apakah yang mereka mainkan di dalam ekosistem? Menguntungkan ataukah merugikan?

Morley (1946) menjabarkan dengan jelas, bahwa secara garis besar, hubungan (dan sekaligus peran) semut dengan organisme yang lain dapat bersifat fakultatif (bersifat sementara dan relatif) dan obligat (harus). Hubungan bersifat fakultatif meliputi pemangsaan, kompetisi teritorial (daerah kekuasaan), perbudakan, dan semacamnya, dan contoh hubungan yang bersifat obligat misalnya parasitisme sosial, pencurian dan perampokan (lihat tulisan mengenai Kleptoparasitisme), dan penjagaan (misalnya pada kasus hubungan dengan kutu-kutuan).

Catatan-catatan kajian kemudian juga membuktikan bahwa banyak jenis semut dapat bersifat invasif dan sekaligus merusak. Misalnya, semut Anoplolepis gracilipes tercatat sebagai salah satu spesies yang bersifat invasif dan dominan terhadap spesies organisme yang lain (Miller, 2004; Davis et al., 2008). Spesies ini menimbulkan masalah di Australia karena mampu mendominasi sebagian besar wilayah di bagian utara Australia, serta membunuh 1/3 populasi kepiting darat merah lokal, dan dikuatirkan akan mengubah ekosistem di beberapa tempat yang lain.

Namun, kajian-kajian yang lain menjelaskan peran semut yang menguntungkan bagi ekosistem, misalnya peranannya sebagai perantara proses perombakan oleh organisme yang lain. Aktivitas semut di dalam tanah (mereka bertindak sebagai pengolah tanah, misalnya pada saat pembuatan sarang) secara tidak langsung mempengaruhi tekstur tanah, yang pada gilirannya akan mempercepat proses penguraian. Semut Camponotus misalnya, membuat sarang di dalam tanah yang terbukti mampu memodifikasi kelimpahan organisme tanah sehingga proses dekomposisi dapat berjalan dengan baik (Paris et al., 2008).

Nah, kemudian, kembali ke pertanyaan semula, semut itu merugikan atau menguntungkan? Berdasarkan catatan-catatan kajian di atas, agaknya kita harus bijaksana melihat peran semut di ekosistem dan habitat yang spesifik. Misalnya, dalam kasus invasi semut A. gracilipes, kita dapat menyatakan bahwa mereka merugikan, karena mampu mengubah komposisi fauna, dan secara tidak langsung juga flora yang tumbuh di ekosistem tertentu. Namun, jika menilik peran mereka sebagai perantara proses perombakan, maka harus diakui , bahwa semut adalah organisme yang berguna!

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Referensi

Davis, N.E., D.J. O’Dowd, P.T. Green, & R.M. Nally. 2008. Effects of an alien ant invasion on abundance, behavior, and reproductive success of endemic island birds. Conservation Biology 22: 1165-1176.

Miller, C., 2004. Days numbered for yellow crazy ants. Frontiers in Ecology and the Environment 2: 342

Morley, D.W., 1946. The interspecific relations of ants. The Journal of Animal Ecology 15: 150 – 154.

Paris, C.I., M.G. Polo, C. Garbagnoli, P. Martinez, G. S. de Ferre, & P.J. Folgarait. 2008. Litter decomposition and soil organisms within and outside of Camponotus punctulatus nests in sown pasture in Northeastern Argentina. Applied Soil Ecology 40: 271 – 282.

Wilson, E.O., 1987. Causes of ecological success: The case of the ants. The Journal of Animal Ecology 56: 1 – 9.

sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/Camponotus

Camponotus spp.

10 thoughts on “Semut: menguntungkan atau merugikan?

  1. Berarti, fungsi atau peran semut bagi lingkungan sekitarnya bermacam-macam, ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan, sangat tergantung pada spesiesnya, ya? Untuk memutuskan suatu jenis semut itu menguntungkan atau merugikan, pastinya memerlukan penelitian yang mendalam. Tolong saya diberi gambaran, bagaimana peran semut di dalam agroekosistem, khususnya ekosistem sawah? (Maaf, nich, Pak, kesempatan saya tanya hal yang penting dalam disertasi saya….Terima kasih.)

  2. Benar. Namun jangan dilupakan juga bahwa semut juga bersifat omnivora, jadi dapat dikatakan pemakan segala. Tentang peran semut di agroekosistem, wah banyak sekali bu. Satu hal yang sekarang menarik perhatian adalah bahwa semut kemungkinan juga dapat mengganggu proses predasi oleh musuh alami pada mangsa/ inangnya. Sebagai contoh, semut yang berasosiasi dengan kutu-kutuan, termasuk wereng, dapat bertindak sebagai penjaga kutu dan wereng tersebut, dan sebagai “imbalan”-nya, semut akan memperoleh sekresi manis dari mereka. Beberapa spesies dapat berperan sebagai pengumpul biji-bijian, dan beberapa yang lain, predator. Satu faktor yang tidak dapat dikesampingkan dalam hubungannya dengan peran semut di agroekosistem adalah jenis tanaman dan kondisi lahan, misalnya terkontaminasi atau tidak, tergenang air atau tidak, dan sebagainya. Jadi, sangat kompleks bu.

  3. Wach, jadi perlu penelitian tersendiri untuk mengetahui peran semut di dalam agroekosistem ya, dan itu tentunya harus dilakukan per spesies semut yang ditemukan kan? Perlu waktu lama tentunya, untuk meneliti peran setiap jenis semut yang ditemukan dalam suatu agroekosistem tertentu.

  4. Tidak harus demikian Bu. Silakan dikaji dulu keragaman dan kemelimpahan masing-masing spesies pada masing-masing lahan perlakuan. Jika terlihat ada spesies yang dominan, nah, baru kita fokuskan ke spesies tersebut. Penelitian dapat difokuskan pada perilaku nesting, agresivitas terhadap mangsa/ organisme musuh alami, perilaku mencari pakan, penyebaran spasial dan temporal, dan aspek-aspek lain. Begitu Bu…

  5. Ass.Setelah membaca materi mengenai semut itu merugikan atau menguntungkan memang cukup unik.
    1.Tapi Pak…apakah Anoplolepis sp itu juga sebenarnya tidak merugikan? Karena mungkin bila dilihat dari sudut pandang bahwa itulah prilaku yang Anoplepis sp seringkali dilakukannya di lingkungan maka hal itu adalah suatu mekanisme kehidupan saja….?
    2. Apakah bila kita melakukan penelitian dengan semut sebagai predator maka diperlukan adaptasi terlebih dahulu bagi semut yang akan kita gunakan dilapangan? sehingga semut tersebut dapat berperan secara maksimal karena bila tidak salah saya pernah mendengar bahwa semut yang berperan sebagai predator itu harus dibiasakan…
    Terima kasih Pak

  6. Oiya pak….kalo sempat dijelaskan waktu kuliah ya Pak(terkait pertanyaan saya sebelumnya diatas)….terima kasih Pak….soalnya Saya ada 2 topik penelitian
    1. Mengenai Semut sebagai predator pada lalat buah di pertanaman buahan2 di Jawa barat
    2. Karakteristik morfologi dan fisiologi serta prilaku beberapa spesies Locusta migratoria dibeberapa daerah endemik di Indonensia (saya inging mengambil sample yang dari lampung, NTB,…..)
    Jadi kebetulan Bapak mengangkat materi semut maka saya ingin berkonsultasi mengenai hal tersebut.

  7. Seperti yang saya sampaikan, istilah “merugikan” dan “menguntungkan” bisa bersifat relatif, karena mendasarkan pada kepentingan manusia, namun juga dapat bersifat real, jika mereka memang merugikan atau menguntungkan dalam arti luas. Anoplolepis misalnya, dianggap merugikan, karena dia adalah spesies invasif, mudah beradaptasi, dan merugikan organisme lain. Jika kita coba untuk membahas lebih jauh, jika organisme lain terganggu, maka gangguan ini sangat mungkin berimbas pada organisme lain yang berasosiasi dengan organisme pertama. Pengamatan yang luas dan teliti memang dibutuhkan untuk menentukan status semut ini.

    Terkait dengan penelitian semut sebagai predator pada lalat buah, ada kemungkinan benar atau tidak. Ingat, bahwa semut adalah omnivora dan sekaligus oportunis (pandai memanfaatkan sesuatu). Larva lalat buah yang keluar dari buah untuk menjadi pupa di dalam tanah adalah “makanan” yang mudah dikuasai. Jadi, bisa saja semut “memanfaatkan” larva tersebut, ketimbang memang menjadi “pemangsa” yang potensial. Tetapi sangat menarik untuk dikaji lebih dalam, perilaku “pemangsaan” semut ini apakah sesuai dengan perilaku “pemangsa” pada umumnya? Silakan dikaji dalam sebuah penelitian.

  8. Pada tulisan ini sebaiknya diberi contoh untuk masing-masing hubungan fakultatif dan obligat (antara spesies semut yang mana dengan serangga apa)sehingga pembaca bisa lebih memahami secara kongkrit bentuk hubungannya. Sekaligus bisa jadi bahan penelitian lanjutan. Yang jelas bahwa semut tidak bisa ditentukan sebagai organisme yang menguntungkan saja atau merugikan saja, tetapi kedua-duanya. Siip!

  9. ass, pak ns putera saya pernah juga baca abstrak penelitian bapak mengenai keanekaragaman semut pd agroekosistem kakao, kebetulan saya juga ingin meneliti keragaman, kelimpahan dan peran smut pada kakao dilampung. kalo di perkenankan saya boleh minta soft copy penelitiannya? oh ia saya dari faperta unpad & pembibing saya bu vira kusuma dewi

    • wa’alaikum salam.
      mBak Estri, kalau softfilenya saya tidak punya. Tetapi jika menginginkan, bisa saya kopikan. Atau, sekalian main ke Yogya saja, bersama Bu Vira? Saya tunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s