Intraguild predation (IGP) dapat mengganggu program pengendalian hayati

Menurut Polis dan Holt (1992), Intraguild predation (IGP) atau Predasi di dalam Guild adalah peristiwa pemangsaan oleh satu spesies organisme terhadap spesies organisme yang lain yang menggunakan sumber pakan yang sama (satu Guild). Banyak kajian kemudian membuktikan, atau minimal menunjukkan adanya potensi merugikan, tentu bagi kepentingan manusia. Namun, jika dipandang secara makro, fenomena IGP berpotensi merusak susunan alam, dan keseimbangan proses di dalamnya.

Secara khusus, IGP berdampak pada (1) penurunan kemampuan predator inferior (pihak yang lebih lemah) dalam memangsa mangsa, dan (2) gangguan pada perilaku khas predator inferior, misalnya penghindaran tempat bertelur yang sudah didatangi oleh predator pesaingnya. Dalam skala yang lebih besar, IGP berdampak pada perubahan susunan organisme; dalam hal ini terjadi dominansi oleh satu spesies organisme terhadap organisme yang lain.

Pada pengamatan yang dilakukan oleh Brown dan Miller (1998) selama 13 tahun di perkebunan apel di West Virginia, spesies kumbang koksi Harmonia axyridis yang bukan merupakan spesies asli, menjadi dominan, dan menggeser spesies-spesies koksi yang lain, di samping terbukti juga berpengaruh buruk pada spesies predator kutu afid yang lain, misalnya sayap jala (Chrysopidae), lalat apung (Syrphidae), dan parasitoid (Mizell, 2007).

Dominansi tersebut meninggalkan potensi persoalan lingkungan yang cukup serius. Bagaimanapun juga, di dalam sebuah habitat terdapat rantai-rantai makanan yang saling terhubung secara seimbang. Jika susunan komponen di dalamnya berubah, misalnya karena ada yang pindah ke habitat lain, maka susunan rantai makanan secara keseluruhan akan berubah, yang berakibat pula pada perubahan susunan rantai makanan pada tingkat yang lebih kompleks.

Beberapa kajian tentang IGP yang sudah dilakukan kemudian “mengingatkan” adanya potensi bahaya pada upaya pemasukan atau introduksi musuh alami, terutama predator, ke suatu habitat, jika tidak didahului dengan kajian bioekologi musuh alami itu sendiri, meliputi daya adaptasi, rentang mangsa, dan kemampuan reproduksinya.

Sebagai contoh, Harmonia axyridis adalah spesies yang mampu beradaptasi cepat pada lingkungan yang baru, bersifat sangat polifaga, dan daya reproduksinya tinggi (Koch, 2003). Contoh daya adaptasi tinggi dari spesies ini adalah kemampuannya makan pada bagian tumbuhan, jadi bersifat omnivora juga (Koch, 2003). Kesimpulannya, H. axyridis kemungkinan tidak dapat diintroduksikan ke suatu habitat yang mempunyai potensi mendukung adaptasinya.

Dalam kaitannya dengan pengendalian hayati, penggunaan spesies-spesies yang mempunyai kecenderungan invasif berpotensi memunculkan masalah lingkungan yang cukup serius. Apalagi jika spesies musuh alami lokal yang menjadi predator yang lemah merupakan musuh alami kunci pada hama-hama tertentu. Itulah sebabnya, sekali lagi, kajian bioekologi sangat perlu dilakukan untuk mengawali upaya introduksi musuh alami ke suatu habitat, agar potensi ekonomis yang hendak digapai tidak hilang percuma karena kita mengabaikan dampak-dampak ekologis yang diakibatkan oleh calon musuh alami tersebut.

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Referensi

Brown, M.W., & S.S. Miller. 1998. Coccinellidae (Coleoptera) in apple orchards of eastern West Virginia and the impact of invasion by Harmonia axyridis. Entomological News 109: 143 – 151.

Koch, R.L., 2003. The multicolored Asian lady beetle, Harmonia axyridis: A review of its biology, uses in biological control, and non-target impacts. Journal of Insect Science 3: 32.

Mizell, R.F., 2007. Impact of Harmonia axyridis (Coleoptera: Coccinellidae) on native arthropod predators in pecan and crape myrtle. The Florida Entomologist 90: 524 – 536.

Polis, G.A., & R.D. Holt. 1992. Intraguild predation: the dynamics of complex trophic interations. Trends in Ecology and Evolution 7: 151 – 154.

Iklan