Pembaca yang terhormat,

Tak ada seorangpun yang membantah terhadap fakta bahwa serangga adalah kelompok organisme yang paling banyak berhubungan dengan manusia. Di dalam maupun di luar rumah, di darat maupun di perairan, di dataran rendah maupun tinggi, dan hampir di semua habitat kita akan menemukan serangga. Serangga yang keragaman jenisnya sangat banyak ini (menurut ahli entomologi, kemungkinan sudah mencapai angka lebih dari 900.000 spesies, dan masih akan terus bertambah) mempunyai ukuran tubuh yang juga amat bervariasi, mulai dari yang sangat besar seperti spesies kumbang Titanus giganteus (Coleoptera: Cerambycidae) yang dapat tumbuh mencapai panjang kurang lebih 16.5 cm sampai dengan sekecil tawon parasitoid Dicopomorpha echmepterygis (Hymenoptera: Mymaridae) yang hanya berukuran panjang kurang lebih 139 µm. Demikian beragamnya spesies serangga memunculkan pertanyaan: Apakah mereka mempunyai peran yang penting di lingkungan? Benarkah argumen yang menyatakan bahwa serangga harus ada di sebuah habitat? Jika benar demikian, peran apa sajakah yang mereka mainkan?

Mari kita lihat mulai dari tanah. Cobalah kita perhatikan baik-baik pada setiap jengkal tanah yang kita injak. Anda menemukan serangga? Semutkah? Atau bahkan kumbang macan yang tercatat sebagai jenis serangga pelari tercepat (Merrit, 1999, IFAS)? Jika Anda mencoba untuk menggali tanah barang 5 sampai 10 cm ke bawah, maka Anda mungkin akan menemukan larva kumbang scarabid (uret).

Lebih ke atas lagi, silakan mengamati tumbuhan di sekitar Anda. Serangga apa sajakah yang dapat Anda temukan? Ulat? Atau kutu-kutuan? Atau belalang daun? Atau kebetulan Anda menemukan sindat-sindat (istilah untuk larva lalat buah) di dalam buah-buahan yang Anda petik? Kemudian, pergilah ke dalam rumah. Anda akan menemukan semut, kecoa, nyamuk, dan beberapa serangga lain. Jika di dekat rumah Anda terdapat kolam, maka Anda mungkin saja akan menemukan jentik-jentik (yang ini adalah istilah untuk larva nyamuk), atau kepik-kepik lucu yang mampu meluncur di atas permukaan air tanpa tenggelam. Banyak sekali bukan?

 Menurut para entomolog, serangga memainkan hampir semua jenis peran di dalam ekosistem, kecuali menggantikan peran tumbuhan sebagai pengubah energi matahari menjadi energi kimia yang siap digunakan oleh organisme. Sebut saja, misalnya pemakan tumbuhan, pemakan binatang lain (predator, parasitoid, parasit), pengurai bahan organik (misalnya kumbang tahi/ Dung beetle), penyerbuk, penghasil bahan pakan bagi organisme lain (misalnya madu). Bagi manusia, serangga dibagi menjadi dua kelompok, yaitu serangga yang merugikan dan menguntungkan, tentu saja jika dilihat dari sudut pandang kepentingan manusia (antroposentrik).

Pertanyaan yang perlu kita jawab, jika salah satu jenis serangga dengan peran khusus yang tak tergantikan, misalnya lebah penyerbuk sekaligus penghasil madu, punah, maka bagaimana keadaan ekosistem kita? Mampukah kita menggantikannya?

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Titanus giganteus

 

Dicopomorpha echmepterygis

6 thoughts on “

  1. Menurut saya, peran serangga di alam, tidak akan pernah bisa tergantikan, meskipun menurut manusia ada beberapa serangga yang menimbulkan kerugian bagi kepentingan manusia. Sebagai manusia, sedapat mungkin jangan sampai menghilangkan keberadaan serangga-serangga tertentu dengan alasan, bahwa serangga tersebut menimbulkan kerugian. Karena hal tersebut dapat menggangu keseimbangan ekosistem yang sudah terbentuk di alam. Oleh karenanya usaha pengelolaan serangga hama (menurut manusia) harus ramah lingkungan, meminimalkan bahkan tidak menggunakan insektisida yang kurang ramah lingkungan….

    regard…
    May_chan (^_^)

    • @May: Itulah kesulitan terbesar manusia, yaitu memilih mendahulukan sisi ekonomi atau ekologi (lingkungan), meskipun manusia zaman dahulu kok ya bisa bersinergi dengan alam. Akhirnya, terpulang kepada niatan kita kok, bumi ini akan kita bentuk seperti apa…

  2. Sebelumnya selamat atas dirilisnya blog Bapak.. Wah, saya jadi pengen ikutan, nyumbang komentar!

    Benar, setiap hal yang diciptakan tentu bukan dengan kesia-siaan. Demikian pula dengan makhluk seperti serangga. Apa pun yang dipikirkan manusia (anthroposentrisme, red.), menguntungkan atau bahkan merugikan, serangga tetaplah menempati fungsi ekologinya di alam.

    Terkadang terlintas di benak saya, tidak adil rasanya menganggap segala jenis serangga mengganggu kepentingan manusia, seperti pada kasus penggunaan insektisida berspektrum luas. Semua serangga mati tanpa tersisa! Ini bukan kalimat iklan, tapi memang seperti itu bukan yang pernah terjadi? Bukan hanya yang mengganggu, tetapi serangga bermanfaat pun terkena imbasnya.

    Lambat laun, manusia-lah yang akan menuai kembali akibat penggunaan bahan kimia secara berlebihan. Sebagai contoh, kasus resistensi wereng coklat pada dekade 80-an.
    Kasus semacam itu sepatutnya menjadi bahan pertimbangan kita untuk menjadi manusia bijak dan beradab. Memandang segala sesuatu lebih dekat, lebih seksama.. agar serangga berguna di sekitar kita tidak punah, agar keseimbangan ekologi terjaga, agar lestari alamku (seperti lirik sebuah lagu!) (n.n)d

    Salam,
    P. Jatuasri

    • Terima kasih. Semoga blog ini langgeng, tidak sekadar ikut trend…. Memang, manusia itu tak lepas dari sifat serakah dan mau menang sendiri. Tapi, yakinlah, masih ada manusia yang lebih kuat sifat-sifat baiknya. Kita termasuk yang mana ya????

  3. mas biza minta tlg klasifikasi belalang sembah(Hymenopus sp.)saya sangat butuh referensi ini untuk tugas akhir saya.terima kasih.
    tlg dikirim ke e_mail saya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s