Tentang serangga

Tulisan tentang keunikan, keanehan, keindahan, kehebatan, dan tentu saja, peran serangga di alam

Serangga “aneh” dari Sulawesi

Kangen rasanya setelah sekian lama tidak menyambangi gubuk satu ini. Jumpa lagi pembaca budiman.

Hari ini saya membaca berita di Vivanews (http://nasional.vivanews.com/news/read/281083-serangga-misterius-hebohkan-warga-polewali) tentang serangga “aneh” dan misterius seperti terlihat pada gambar di bawah ini, dan kemunculan “nyamuk raksasa” tersebut menyebabkan kehebohan di kalangan masyarakat.Bahkan beberapa orang menyatakan bahwa serangga tersebut adalah nyamuk terbesar di Indonesia. Benarkah demikian?

Nyamuk raksasa yang misterius

Setelah saya perhatikan pada foto yang menyertai berita tersebut, saya mengenali serangga tersebut sebagai Nyamuk Berkaki Panjang, atau dalam bahasa Inggris disebut Daddy-Long-Legs, atau Crane Fly yang tergolong serangga bersayap dua (Diptera) dan dimasukkan ke dalam famili Tipulidae. Hingga saat ini, spesies nyamuk berkaki panjang yang sudah berhasil dikenali (diidentifikasi) mencapai 15.000 di seluruh dunia. Cukup banyak ya…

Tipula oropezoides Tom Murray 2006 bugguide net

Di Indonesia, serangga ini cukup banyak dijumpai. Di daerah saya, Daerah Istimewa Yogyakarta, serangga ini cukup sering dijumpai. Namun, entah, apakah serangga ini memang belum pernah ditemukan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sumber berita menghebohkan tersebut. Dan di belahan dunia lainpun, serangga ini cukup dikenal.

Nephrotoma apendiculata (en.wikipedia.org)

Morfologi serangga ini unik. Sepintas mirip nyamuk, namun dengan ukuran yang jauh lebih besar: di daerah beriklim sedang, “nyamuk” ini dapat mencapai panjang dua sampai 60 mm, namun di daerah tropika, ukuran beberapa spesiesnya mampu mencapai 100 mm. Alat mulutnya berbeda sama sekali dengan nyamuk (ingat, nyamuk memiliki “jarum” untuk menyedot darah manusia). Tidak seperti nyamuk pada umumnya, sayap nyamuk raksasa ini tidak dapat tertangkup di atas tubuhnya. Jadi sepintas mirip pesawat, dengan sayapnya terbentang ke samping.

Alat mulut Tipula (en.wikipedia.org)

Serangga dewasanya adalah peminum  nektar, dan beberapa spesies yang lain bahkan tidak makan sama sekali. Sementara larva sebagian besar nyamuk ini berperan sebagai pengurai, beberapa adalah hama pada rerumputan (turf-grass), dan sebagian kecil menjadi pemangsa larva nyamuk. Larva menyukai lingkungan yang lembab.

Larva Tipula yang dianggap sebagai hama (en.wikipedia.org)

Jadi, serangga ini adalah nyamuk atau lalat berkaki panjang dan berukuran raksasa. Bukan serangga misterius.

Salam,

Kecoa: Binatang menjijikkan yang sebenarnya bermanfaat

Periplaneta americana (Sumber: http://www.dirtdoctor.com)

Kecoa mungkin menjadi salah satu serangga yang paling banyak berhubungan dengan manusia. Anda tentunya amat sering bertemu dengan binatang ini di rumah bukan? Hati-hati lho, jika kecoa suka keluyuran di dalam rumah, karena itu pertanda bahwa rumah Anda kotor. Oya? Ya, kecoa adalah serangga perombak bahan organik, dan amat menyukai bahan-bahan yang berbau tajam (mungkin juga busuk atau sedang mengalami proses pembusukan).

Ciri kecoa amat khas: bertubuh pipih, kepala “nyungsep” di bawah pronotumnya yang melebar, berwarna coklat, antenanya panjang, dan kakinya ditumbuhi duri-duri. Pernah dihinggapi kecoa? Bagaimana rasanya? Dijamin, Anda pasti bergidik….jijik sekaligus geli.

Jumlah spesies kecoa cukup beragam: hingga kini tercatat lebih dari 4.500 spesies kecoa telah diidentifikasi. Kecoa yang digolongkan ke dalam ordo Blattaria ini dapat dibagi menjadi lima famili, yaitu Cryptocercidae, Blattidae, Blatellidae, Blaberidae, dan Polyphagidae.

Kecoa adalah serangga yang bermetamorfosis secara sederhana, yaitu akan melewati tahap hidup telur, nimfa (kecoa muda yang mirip dengan induknya, kecuali sayapnya belum berkembang), kemudian menjadi kecoa dewasa. Kecoa betina membawa sekumpulan telur di dalam sebuah kantung telur (ootheca) yang digendongnya di ujung abdomennya. Kemampuan reproduksi kecoa cukup tinggi. Spesies Periplaneta americana misalnya, sanggup bertelur sebanyak kurang lebih 700 butir per tahun.

Seperti lazimnya organisme pemakan bahan organik, kecoa membutuhkan organisme simbion berupa bakteroid yang hidup nyaman di mycetocytes di dalam jaringan lemak tubuh, dan mereka terikat saling menguntungkan (simbiosis mutualistik). Bakteroid ini memperoleh perlindungan di dalam tubuh kecoa, sedangkan bakteroid menyediakan vitamin yang dibutuhkan oleh kecoa. Contoh endosimbion kecoa adalah Blattabacterium yang menghuni Badan Lemak kecoa genusCryptocercus.

Bagi manusia, kecoa adalah serangga yang berbahaya. Beberapa spesies kecoa diketahui menularkan penyakit pada manusia. Misalnya, kecoa Jerman (Blatella germanica) dan kecoa Asia (B. asahinai) dapat menularkan patogen Toxoplasma gondiiyang dapat menular melalui hewan ternak/ peliharaan. Di samping itu, kecoa juga membawa Salmonella dan E.coli yang menjadi pencemar makanan yang menyebabkan keracunan makanan dan diare.

Pengendalian kecoa gampang-gampang susah, karena beberapa penelitian telah menunjukkan gejala perkembangan resistensi pada beberapa spesies setelah disemprot dengan pestisida. Artinya, kemampuan adaptasinya terhadap tekanan lingkungan cukup baik. Salah satu strategi termudah adalah menjaga lingkungan rumah tetap bersih dan juga kering, karena kelembaban udara juga menjadi pemikat kecoa untuk singgah. Daun salam, potongan jeruk lemon atau mentimun, dan lumatan bawang putih diketahui mampu mengusir kecoa. Silakan dicoba, meskipun…..berhasil atau tidak, silakan ditanggung sendiri yah…..

Tetapi, bagaimanapun juga, beberapa spesies kecoa mempunyai beberapa fungsi yang secara ekologis menguntungkan. P. americana adalah perombak bahan organik. Kita bisa membayangkan jika kotoran manusia, sisa-sisa nasi dan sayur, kayu-kayu busuk, dan semacamnya tidak segera dihancurkan, lantas apakah bumi kita sanggup menampun “sampah” yang sedemikian banyak itu? Nah, sekarang, kita melihat mereka dari sisi mana?

Regard,

Nugroho Susetya Putra

(Tulisan ini adalah ringkasan dari artikel yang terbit di Majalah SERANGGA volume 1 nomor 1 Tahun 1, November 2010)

Hikmah “serangan” ulat bulu: Saatnya memikirkan perbaikan lingkungan secara menyeluruh

Ngengat Arctornis sp. (foto: Kurt Kulac, 2006)

Perenungan

Ketika berita ledakan ulat bulu (famili Lymantriidae, ordo Lepidoptera) muncul di media elektronik maupun cetak, ingatan saya segera kembali ke beberapa peristiwa sejenis yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Saya masih ingat ketika populasi ulat noctuid pemakan daun padi meledak sekitar tahun 1995-1996 (saya lupa tahun persisnya), atau wereng coklat yang fenomenal pada tahun-tahun belakangan ini, kita mengalami keterkejutan yang kira-kira mirip dengan tanggapan kita pada saat mendengar berita ulat bulu ini. Ironisnya, berita tersebut kemudian “dibumbui” dengan “cerita-cerita” yang cenderung bersifat opini, berlebihan, dan bercampur (sedikit) tidak masuk akal. Misalnya, beberapa orang mengatakan bahwa serangan ulat bulu tersebut menggila. Setelah kami mengecek di lapangan, kami hanya menemukan mereka menyerang dua-tiga batang pohon, memang dalam jumlah individu yang luar biasa banyak, namun tidak menyerang pohon yang lain. Apakah ini layak dikatakan “menggila”?

Ada lagi yang karena saking bersemangatnya menyatakan bahwa ulat-ulat itu kehilangan musuh alami, sehingga populasinya menanjak tanpa kendali, kemudian merekomendasikan untuk melepaskan burung gereja dan gelatik untuk memangsa ulat-ulat tersebut. Burung gereja dan gelatik? Bukankah mereka pemakan biji? Ya, tidak masuk akallah untuk “memaksa” mereka menelan ulat-ulat yang ukurannya besar dan dijamin nyangkut di tenggorokan burung-burung kecil itu. Ada-ada saja!

Lalu, hikmah apa yang dapat kita petik dari fenomena ulat bulu tersebut?

Pertama, kejadian biasa yang menjadi luar biasa tersebut menunjukkan budaya panik,  lebay, dan suka mendahulukan opini dibandingkan fakta. Perhatikan di media massa, bagaimana reaksi berlebihan dari masyarakat, pejabat, dan terlebih media massa berlomba mengatakan bahwa kejadian tersebut adalah ini dan itu, tanpa pernah mengklarifikasi atau bertanya pada para ahli yang berkompeten, seolah-olah merekalah yang paling tahu.

Kedua, masyarakat tidak pernah belajar dari kesalahan di masa lalu. Apakah kejadian ini merupakan kejadian yang pertama? Saya rasa tidak! Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, kejadian serupa sudah cukup banyak. Bukankah pada zaman Nabi-nabi dahulu ada kejadian serangan belalang kembara, sehingga menghancurkan panen? Atau yang paling baru, kejadian ledakan populasi wereng coklat yang sampai kini masih terus berlangsung (silakan baca pada tulisan sebelumnya). Artinya, kita tidak pernah belajar dari kejadian-kejadian yang telah lalu untuk mendapatkan solusi yang lebih tepat.

Saya kemudian merenung, seandainya kita sedikit bersabar untuk menggali informasi, dan berpikir agak tenang, maka hasilnya tidak akan seheboh saat ini. Nah, bagaimana kita harus menyikapi fenomena ini? Yuk, kita bahas secara sederhana saja.

Mengapa populasi serangga (herbivora) meledak?

Secara umum, fenomena ledakan populasi serangga, seperti halnya ulat, adalah hal yang sangat lumrah. Peningkatan konsentrasi karbondioksida (CO2) di muka bumi ini akan meningkatkan kebugaran tumbuhan. Mengapa demikian?  Ingat, CO2 adalah salah satu bahan dalam proses fotosintesis tumbuhan. Artinya, jika CO2 meningkat, maka proses fotosintesis juga meningkat, dan gilirannya, serangga (herbivora) akan mendapatkan pakan yang lebih banyak. Tidak heran, populasi mereka melesat dengan cepat.

Tambahan lagi, air hujan yang sering turun dengan amat lebat akan meningkatkan kebasahan tanah, yang juga dapat meningkatkan ketersediaan nutrisi tanah di beberapa lokasi (sesuai jenis tanah/ tidak secara umum di semua lokasi). Hal ini lagi-lagi akan meningkatkan fotosintesis.

Namun, di sisi lain, tumbuh-tumbuhan tersebut jumlahnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan “perut-perut lapar” dari si serangga yang jumlahnya luar biasa ini. Anda ingat adanya laju alih fungsi lahan menjadi bangunan kan? Nah, tumbuh-tumbuhan yang secara ekonomi  tidak menguntungkan akan ditebang (lagi-lagi akibat pola pikir antropogenik) dan diganti dengan tumbuhan yang lebih menguntungkan.  Pada kasus di Ponorogo, ulat hanya makan pada daun mangga varietas manalagi (menurut Pak Suputa). Nah, jadi, ketika daun-daun mangga habis, maka ulat-ulat yang jumlahnya ribuan tersebut tersebut akhirnya berpindah tempat ke sekitarnya, termasuk ke rumah penduduk.

Mekanisme alam yang tidak berimbang

Jika kita cermat, maka kita akan menemukan sebuah ketidaksesuaian antara laju proses bottom-up (faktor-faktor yang mendorong peningkatan kebugaran organisme) dan top-down (mekanisme penekanan populasi organisme oleh faktor-faktor abiotik atau biotik/ musuh alami). Bagaimana penjelasannya?

Kita kembali dulu pada faktor ketersediaan CO2 dan air sebagai bahan utama proses fotosintesis, di samping nitrogen (baca ulasan sebelumnya) yang sering ditambahkan secara berlebihan. Nah, mekanisme bottom-up berawal dari faktor-faktor ini, yaitu meningkatkan kebugaran tumbuhan yang akan berimbas pada serangga pemakan tumbuhan (herbivora).

Tetapi, mari kita lihat hal yang lain, yaitu ketersediaan musuh alami. Sadarkah kita, bahwa jumlah populasi binatang-binatang semacam tokek, burung pemakan serangga, katak, dan pemakan serangga lain sudah sangat jauh berkurang? Padahal, secara alamiah, mereka sangat penting untuk “menahan” laju peningkatan populasi serangga herbivora. Artinya, jika musuh-musuh alami ini tidak ada, maka laju peningkatan populasi serangga herbivora menjadi lepas kendali, dan meledak!

Upaya kita bagaimana?

Akhirnya, kita memang harus bisa mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas dengan bijak. Upaya yang pertama, tentu saja kita harus mengendalikan populasi ulat yang sudah terlanjur meningkat dan menyebar ke mana-mana. Bagaimana caranya? Silakan ulat-ulat yang jalan-jalan ke sana ke mari itu dikumpulkan dengan sapu, dikumpulkan di dalam karung, kemudian dibakar. Selanjutnya, jika populasi ulat daerah Anda belum cukup banyak, cari mereka dan lakukan lokalisasi. Artinya, jika Anda menemukan di satu lokasi, Anda harus mengusahakan agar mereka tidak berjalan ke mana-mana. Anda bisa gunakan cara pengumpulan dan pembakaran di atas.

Bagaimana dengan ngengatnya?

Ngengat lymantriid adalah organisme nokturnal, artinya aktif pada malam hari. Biasanya, organisme nokturnal sangat suka pada cahaya lampu buatan (manusia). Anda bisa menggunakan perangkap cahaya (model dan pembahasan tentang perangkap cahaya bisa dilihat di sini dan sini) untuk memerangkap dan membunuh ngengatnya. Lakukan selama beberapa hari, sampai jumlah ngengat yang tertangkap menurun sampai habis.

Bagaimana dengan individu ulat yang tidak sempat tertangkap dan terbunuh? Tenang, mereka akan mati dengan sendirinya karena tidak beroleh pakan. So, the problem has solved, at least for a while.

Upaya kedua, cobalah untuk melepaskan beberapa jenis musuh alami, misalnya burung-burung pemakan serangga. Cobalah tanam tumbuhan yang mempunyai bunga-bungaan yang dapat menarik kupu-kupu atau serangga lain untuk datang. Kondisi ini akan menarik minat burung-burung tersebut untuk datang dan menetap di daerah tersebut. Selanjutnya, mereka pula yang akan berperan mengendalikan populasi serangga secara alami.

Upaya ketiga, tidak menebang tumbuhan dengan serampangan hanya untuk alasan yang sangat sepele, misalnya secara estetika “tidak indah”. Hal ini sering saya jumpai di perkotaan. Penduduk sangat mudah untuk menebang pohon hanya untuk menempatkan sebongkah bangunan. Mengapa mereka tidak menggantinya dengan menanam pohon yang lain di lokasi terdekat sebagai pengganti? Tumbuhan yang tumbuh selain berperan sebagai pakan serangga herbivora juga berfungsi sebagai “rumah” bagi banyak organisme, termasuk musuh alami serangga herbivora.

Kesimpulan

Bagaimanapun juga, kejadian (luar biasa) di atas seharusnya menjadi pembelajaran bagi kita tentang akibat yang akan terjadi jika kita tidak mengindahkan tatanan lingkungan yang sudah disusun demikian rupa oleh Sang Maha Pencipta. Tumbuhan dan binatang adalah komponen rantai makanan yang menyusun lingkungan hidup kita. Jika salah satu dari mereka ditiadakan, maka dampak ketidakseimbangan proses alamiah itu akan berbalik kepada kita, manusia! Mari kita lihat, bagaimana Allah sudah berfirman kepada manusia untuk mensyukuri nikmat Allah berupa alam seisinya dengan cara memanfaatkan, menjaga dan tidak merusaknya.

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS Al-Baqarah: 205)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim: 7).

“Dan jika Aku hendak membinasakan suatu negeri, maka Aku perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan-Ku), kemudian Aku hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS al-Isra’: 16)

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS Ar-Rum: 41)

Regard,

Nugroho S. Putra

Serangga sebagai sumber gizi: Alternatif penangkal gizi buruk

Beberapa pemberitaan di media massa tentang gizi buruk memaksa saya untuk merenungkan kembali makna “Gemah ripah loh jinawi kerta raharja (GRLJKR)” yang (dahulu) disematkan oleh para tetua kita kepada Indonesia. Benarkah makna kata-kata tersebut masih pantas untuk saat ini? Bagaimana tidak ragu, karena jika benar GRLJKR, maka tak akan ada anggota masyarakat yang mengalami gizi buruk di Indonesia. Menurut laman Indonesian Nutrition Network (http://www.gizi.net/), sejak tahun 2003, penderita gizi buruk pada balita masih berkisar pada angka 8,5% dari jumlah total penduduk Indonesia atau sekitar 4 juta jiwa. Dan menurut Global Hunger Index (GHI), kasus gizi buruk di Indonesia masuk kategori serius (di bawah kategori mengkuatirkan dan sangat mengkuatirkan). Kondisi ini tentu bukan sesuatu yang remeh, tetapi sebaliknya, sangat serius!

Saya tak akan menyalahkan siapapun dalam kasus ini. Tugas saya hanya mengajak kita yang masih ingin melihat kondisi Indonesia menjadi lebih baik, untuk berpikir keras, mencari upaya untuk memperkecil atau bahkan menghilangkan kondisi gizi buruk tersebut pada masyarakat. Bisakah kita? Ada banyak sekali alternatif sebenarnya, tetapi saya hanya ingin melihatnya dari kaca mata entomologi, bidang yang saya pahami.

Lho, apa hubungannya gizi buruk dengan entomologi/ serangga?

Begini. Tahukah Anda bahwa serangga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber nutrisi yang cukup baik. Tak percaya? Ha…ha…ha…, saya yakin Anda akan bergidik geli atau malah jijik membayangkan ulat atau uret yang gemuk lunak itu naik ke meja makan…^-^ Tapi benar kok, manusia sudah dan hingga kini masih memanfaatkan serangga sebagai sumber makanan.  Entomofagi adalah kata yang sering digunakan bagi kegiatan memakan serangga.

Sebelum mengenal teknik berburu dan bercocok tanam, manusia memanfaatkan serangga sebagai sumber makanan. Dan hingga kini, lebih dari 1000 jenis serangga telah dimakan oleh masyarakat di banyak negara. Di Indonesia, Anda dapat menjumpai orang-orang di kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta biasa mengkonsumsi belalang kayu goreng. Dan hampir setiap orang Indonesia mengenal laron sebagai salah satu menu yang lezat. Di kawasan Asia, berbagai macam jenis serangga dimasak dan dijual sebagai lauk atau kudapan.

 

Jengkerik goreng (http://static.guim.co.uk)


 

"Sate" pupa ulat sutera (Steven G. Johnson, 2009)

Rasanya? Hmmm lezat juga… Saya pernah mencoba jengkerik goreng, dan cukup yummy juga ^-^. Apalagi jika diolah dengan tepat, wah gak kalah deh dengan jenis lauk yang lain. Silakan lihat videonya di sini (http://www.msnbc.msn.com/id/21134540/vp/32106086#32106086).

Berapa sih kandungan gizi serangga?

Menurut para ahli gizi, serangga adalah sumber protein yang cukup baik, di samping vitamin, mineral dan lemak. Serangga juga menjadi sumber energi yang cukup lumayan. Misalnya, ulat sutera (Bombyx mori) dan ulat HongKong (Tenebrio molitor) mengandung energi rata-rata 5 -6,5 kkal/ g berat kering. Seratus gram larva ngengat sutera raksasa menyediakan 100% kebutuhan harian tubuh akan tembaga, seng, besi, thiamin, dan riboflavin. Luar biasa kan?

Beracun atau tidak?

Nah, sampai di sini, saya hanya bisa mengatakan bahwa tidak semua orang bisa mengkonsumsi serangga. Beberapa kejadian yang pernah saya jumpai adalah gejala alergi pada beberapa orang yang rentan terhadap alergen (bentol-bentol merah di sekujur tubuh dan rasanya panas dan gatal). Belum lagi, jika Anda mencoba mengkonsumsi serangga herbivora, maka Anda akan berhadapan dengan risiko kontaminasi logam berat, misalnya timah yang terakumulasi di dalam tubuh, atau dari pakan serangga yang bersangkutan.

Kesimpulannya…?

Jika Anda berminat untuk mencicipi kelezatan menu dari serangga ini, maka hal-hal berikut ini harus diketahui, yaitu:

  1. Gizi yang terkandung di dalam tubuh serangga yang akan Anda masak.
  2. Senyawa racun yang terkandung di dalam serangga.
  3. Pembiakan massal yang aman dan menguntungkan, terutama jika Anda berminat untuk buka warung menu serangga ^-^. Misalnya, jengkerik dan belalang daun.
  4. Asal atau pakan dari serangga yang akan Anda masak harus diketahui dengan pasti untuk meminimalkan risiko keracunan logam berat atau senyawa beracun yang lain.

Anda bisa menggunakan mBah Google untuk mencari informasi-informasi tersebut. Laman-laman berikut ini dapat Anda gunakan sebagai rujukan untuk mengetahui seluk-beluk menu serangga.

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Entomophagy
  2. http://insectsarefood.com/
  3. http://www.guardian.co.uk/environment/blog/2009/aug/19/insects-food-crisis
  4. http://www.food-insects.com/

 

Regard,

Nugroho S. Putra

Semut rangrang Oecophylla smaragdina

Pernah mendengar nama Semut Rangrang? Itu lho, semut merah besar yang gigitannya lumayan sakit dan membuat bentol kulit. Semut buaskah mereka? Buas sekali, tidak, tetapi mereka ternyata banyak digunakan sebagai agensia hayati (predator) untuk mengendalikan banyak jenis hama tanaman. Bangsa China diketahui menggunakan semut ini untuk mengamankan jeruk mereka dari serangan hama kutu-kutuan kira-kira pada tahun 300-an Masehi. Way dan Khoo (1992) mencatat bahwa semut rangrang memangsa lebih dari 16 spesies hama yang menyerang tanaman kakao, kelapa, kelapa sawit, mangga, eukaliptus, dan jeruk.

Selain berperan sebagai musuh alami, semut rangrang ternyata menghasilkan uang juga lho! Misalnya, petani-petani di Thailand mendapatkan 12,1 dollar Amerika per hari selama empat sampai lima bulan masa panen. Sebuah angka yang cukup menggiurkan!

Artikel lengkap terdapat di Majalah SERANGGA volume 1 nomor 1 Edisi bulan November 2010.

Regard,
Nugroho Susetya P.

Peran penting serangga di alam

Agaknya, serangga adalah binatang yang paling sering berinteraksi dengan manusia. Anda tentu tidak asing dengan binatang kecil berkaki enam, misalnya semut, nyamuk, lalat, kecoa, kupu-kupu, lebah, tawon, dan sebagainya. Sampai saat ini, lebih dari 1 juta spesies serangga yang mencakup serangga darat (sebagian besar), dan serangga yang hidup di air telah berhasil diidentifikasi, namun para ahli memastikan bahwa lebih banyak spesies masih menunggu giliran untuk diidentifikasi. Selanjutnya, kemelimpahan serangga mencapai 80 persen dari total kemelimpahan organisme di muka bumi. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa serangga adalah organisme yang mendominasi rantai dan jejaring makanan di hampir semua jenis ekosistem. Mereka mungkin menghuni jaringan tumbuhan sebagai herbivora, menghuni celah-celah sempit di antara bebatuan sebagai peliang, membangun kubah-kubah yang keras sebagai sarang komunitas mereka yang melimpah, menghuni perairan sebagai pakan maupun pemangsa organisme lain, menghuni rhizosfer tumbuhan sebagai pengurai bahan organik, dan di banyak tempat yang lain.

Menilik hal-hal tersebut, kita dapat menduga bahwa serangga mempunyai peran ekologis dan ekonomis yang amat penting. Secara ekologis, serangga berperan sebagai komponen rantai makanan; mungkin sebagai herbivora, karnivora, pengurai (detritivora), dan penyerbuk. Sementara itu, secara ekonomis, serangga dapat menjadi hama, musuh alami, atau vektor penyakit tanaman, binatang, dan manusia.

1. Pemakan tumbuhan (herbivora)

Banyak serangga makan pada tumbuhan, dan sebagian di antara mereka ditasbihkan manusia menjadi serangga yang merugikan (disebut hama). Banyak jenis ulat (larva kupu-kupu dan ngengat) menjadi hama penting pada tanaman, misalnya Plutella xylostella (hama tanaman kubis-kubisan), wereng coklat Nilaparvata lugens (hama pengisap pada batang padi), belalang Locusta migratoria adalah pemangsa rakus hampir segala jenis tumbuhan yang mereka temui di sepanjang jalan yang mereka lalui, dan banyak jenis yang lain.

Secara alamiah, serangga herbivora berperan sebagai pengontrol kemelimpahan tumbuhan. Pada beberapa kasus, serangga herbivora dimanfaatkan untuk mengendalikan pertumbuhan tumbuhan pengganggu (gulma). Lalat gall Procecidochares connexa misalnya, digunakan untuk mengendalikan gulma siam, selain ulat ngengat Pareuchaetes pseudoinsulata.

2. Pemakan daging (karnivora)

Di lain pihak, Anda dapat menemukan musuh alami masing-masing “hama” di atas, misalnya tawon parasitoid Diadegma insulare (musuh alami P. xylostella), atau kumbang koksi (musuh alami wereng coklat). Jika Anda cermati, musuh alami tersebut akan “mengontrol” kemelimpahan serangga inang atau mangsanya, sehingga selalu berkisar pada ambang yang “normal”. Semut rangrang yang Anda sangka “buas” karena selalu menggigit jika diganggu, adalah pemangsa banyak jenis hama.

Sumber: en.wikipedia.org

Namun, kelompok serangga karnivora ini mungkin dianggap merugikan manusia. Nyamuk adalah salah satu contohnya. Aktivitas nyamuk betina mengisap darah mamalia (termasuk manusia) ternyata dapat menularkan penyakit. Malaria, Demam Berdarah Dengue, Kaki Gajah (Elephantiasis) dan Cikungunya adalah contoh-contoh penyakit pada manusia yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit Chagas ditularkan oleh kepik Triatoma, dan Penyakit Tidur (Sleeping Sickness) ditularkan oleh lalat Tse-Tse (Glossina palpalis).

3. Perombak bahan organik

Di samping dua kelompok serangga di atas, Anda dapat pula menemukan serangga-serangga pengurai, misalnya rayap. Rayap berperan penting dalam peristiwa penguraian kayu dan bahan-bahan dari tumbuhan dengan bantuan protozoa dan bakteri di dalam usus belakang yang berfungsi sebagai pemecah selulosa, sehingga membantu pengubahan “gundukan sampah” tumbuhan menjadi bahan-bahan yang dapat digunakan kembali, baik oleh  si rayap sendiri maupun oleh tanah sebagai bahan penyubur. Beberapa contoh bakteri simbion pemecah selulosa pada rayap adalah bakteri fakultatif Serratia marcescensEnterobacter aerogensEnterobacter cloacae, dan Citrobacter farmeridiketahui menghuni usus belakang rayap spesies Coptotermes formosanus (famili Rhinotermitidae) dan berperan memecah selulosa, hemiselulosa dan menambat nitrogen. Penelitian lain menemukan protozoa simbion yang hidup pada usus rayap C. formosanus, misalnya Pseudotrichonympha grassiHolomastigotoides hartmanni, dan Spirotrichonympha leidyi yang juga membantu rayap dalam mencernakan bahan berkayu. Sementara itu, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada usus kecoa Blaberus giganteus pemakan kayu. Selain itu, aktivitas rayap membuat sarang di dalam tanah juga membantu menggemburkan tanah, sehingga pertukaran udara di dalam tanah menjadi lebih baik.

4. Penyerbuk

Penyerbukan oleh serangga pada tumbuhan disebut entomofili. Hubungan antara serangga penyerbuk dengan tumbuhan yang diserbukinya kadang-kadang sangat dekat (bersifat obligat), misalnya, hubungan antara tumbuhan Yucca (famili Agavaceae) dengan ngengat Yucca (Lepidoptera: Prodoxidae) yang berkisar antara mutualisme obligat sampai antagonis (larva ngengat berperan sebagai herbivora). Dua genera ngengat prodoxid, yaitu Tegeticula dan Parategeticula berperan sebagai penyerbuk obligat pada tumbuhan Yucca, sementara genera ketiga, yaitu Prodoxus lebih berperan sebagai pemakan (biji) Yucca. Hubungan mutualisme obligat serupa juga ditunjukkan oleh tumbuhan fig (genus Ficus) dan serangga penyerbuk, tawon fig (ordo Hymenoptera, subfamili Agaoninae).

Sementara itu, kupu-kupu, lebah, dan tawon adalah serangga penyerbuk yang bersifat fakultatif (tidak mempunyai hubungan yang sangat khas seperti beberapa contoh di atas). Pernahkah Anda perhatikan, bagaimana lebah mengunjungi bunga? Sambil mencari cairan madu (nektar), mereka juga mengumpulkan serbuk sari di sekujur tubuhnya. Nah, serbuk sari inilah yang secara tidak sengaja akan menempel pada putik bunga lain yang dikunjunginya, sehingga terjadilah penyerbukan!

Sumber: en.wikipedia.org

5. Sumber gizi dan energi

Para ahli menunjukkan bahwa serangga mengandung protein yang cukup tinggi. Risalah yang ditulis oleh Sutton (1995) menunjukkan bahwa manusia zaman purba sudah memanfaatkan serangga sebagai sumber makanan. Entomofagi atau ilmu yang mempelajari pemanfaatan serangga oleh manusia, terutama sebagai bahan makanan telah berkembang. Sebelumnya, Frye dan Calvert (1989) membuktikan bahwa energi yang terkandung dalam tubuh serangga cukup tinggi, sehingga potensial digunakan sebagai sumber makanan. Ulat sutra (Bombyx mori) dan ulat hongkong (kumbang Tenebrio mollitor) yang mereka amati mengandung kalori rata-rata 5 sampai 6,5 kkal/ g berat kering tubuh.

Budaya memakan serangga ini terdapat di berbagai negara di dunia, terutama pada penduduk asli, meskipun kemudian diadopsi dan dikembangkan oleh masyarakat modern di perkotaan. Bangsa Indian Amerika terbukti telah memanfaatkan beberapa jenis serangga, terutama larva ngengat dan kumbang dalam menu makanan mereka, demikian pula dengan banyak suku di benua Afrika. Di Indonesia, penduduk Papua memanfaatkan larva kumbang sagu (famili Curculionidae) sebagai sumber pangan. Di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, penduduknya menyukai belalang kayu (famili Acrididae) sebagai lauk yang lezat dan menyehatkan. Laron dan larva lebah juga menjadi menu favorit penduduk di daerah tertentu di pulau Jawa.

6. Penghasil bahan berguna

Banyak serangga yang menghasilkan bahan yang dibutuhkan oleh manusia. Lebah madu menghasilkan madu, royal jelly, propolis, malam, dan larva serta pupanya menjadi kudapan yang lezat; kutu Kerria lacca (Hemiptera: Kerriidae) menghasilkan lak, sejenis bahan pembuat pernis; dan ulat sutra, misalnya spesies Bombyx mori (Lepidoptera: Saturniidae) menghasilkan sutra yang mahal harganya. Pada dekade terakhir, ditemukan pula beberapa spesies ngengat liar, misalnya genus Cricula yang ternyata mampu menghasilkan sutera yang mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan sutera dari Bombyx.

Penelitian terkini bahkan memperlihatkan bahwa rayap ternyata mempunyai potensi untuk digunakan sebagaibioreaktor untuk menghasilkan hidrogen. Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Energi Amerika Serikat menjelaskan bahwa beberapa spesies rayap mampu menghasilkan dua liter hidrogen hanya dari selembar kertas dengan memanfaatkan lebih kurang 200 spesies mikroorganisme di dalam ususnya (silakan berkunjung ke laman http://www.jgi.doe.gov/ education/bioenergy/bioenergy_4.html). Potensi luar biasa ini dipelajari lebih lanjut untuk menghasilkan hidrogen melalui cara yang lebih efisien dan aman, karena tidak menggunakan bahan bakar fosil untuk menggerakkan listrik yang digunakan untuk menghasilkan hidrogen.

Pustaka

  1. Aldrich, J.M., 1912. Larvae of a saturniid moth used as food by California Indians. Journal of the New York Entomological Society 20: 28-31.
  2. Althoff, D. M., K.A. Segraves, & J.P. Sparks. 2004. Characterizing the interaction between the bogus yucca moth and yuccas: do bogus yucca moths impact yucca reproductive success? Oecologia 140: 321-327.
  3. Essig, E.O., 1934. The value of insects to the California Indians. The Scientific Monthly 38: 181-186.
  4. Frankie, G.W., & R.W. Thorp. 2003. Pollination and pollinators. Dalam: V.H. Resh & R.T. Carde (editor), Encyclopedia of Insects, Academic Press, Amsterdam, halaman 919 – 926.
  5. Frye, F.L., & C.C. Calvert. 1989. Preliminary information on the nutritional content of mulberry silk moth (Bombyx mori) larvae. Journal of Zoo and Wildlife Medicine 20: 73-75.
  6. Knight, C.G. 1971. The ecology of African sleeping sickness. Annals of the Association of American Geographers 61: 23-44.
  7. Mims, F.M., B.N. Holben, T.F. Eck, B.C. Montgomery, & W.B. Grant. 1997. Smoky skies, mosquitoes, and disease. Science 276: 1774-1775.
  8. Sutton, M.Q., 1995. Archaeological aspects of insect use. Journal of Archaeological Method and Theory 2: 253-298.

Belalang Ranting (artikel dari National Geographic)

Dear Readers,

Saya sedang malas menulis nih, tetapi ketika membuka-buka situs National Geographic, lho kok nemu artikel tentang Belalang Ranting (Stick Insect atau Walking Stick). Tapi, maaf, masih dalam bahasa Inggris. Silakan menikmati.

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Ini Link-nya: Stick Insects, Stick Insect Pictures, Stick Insect Facts – National Geographic.

Berwarna cerah untuk bertahan: Strategi warning coloration

Tulisan ini adalah pemenuhan janji saya untuk melengkapi tulisan sebelumnya (“Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!”). Pernah melihat serangga yang berwarna-warni cerah, entah itu kupu-kupu, capung, kepik, dan sebagainya? Apa kesan pertama Anda pada mereka? Indah bukan? Hmm, yak, saya juga setuju dengan Anda. Tetapi, kita mungkin juga akan mempunyai pertanyaan: Untuk tujuan apa mereka mempunyai warna yang indah tersebut? Sementara serangga lain mempunyai warna sebaliknya: kusam, kelam, dan tidak menarik?

Nimfa kepik Lygaeus kalmii pada tumbuhan milkweed

Capung Sympetrum flaveolum

Fungsi warna cerah bagi serangga

Meskipun pewarnaan pada tubuh organisme, termasuk serangga merupakan hal yang  umum, hal ini masih menyisakan pertanyaan, bahkan debat yang berkepanjangan di antara ahli biologi. Di satu sisi, warna cerah pada tubuh mereka berguna sebagai pemikat lawan jenis untuk diajak kawin. Nah, di sinilah teka-teki tersebut timbul. Meskipun warna cerah berguna untuk tujuan tersebut, namun bukankah warna cerah juga menjadi penanda yang sangat jelas akan keberadaan mereka di alam. Jika organisme yang berwarna kusam begitu sempurna tersamar di lingkungannya, maka organisme dengan warna cerah justru akan terlihat amat jelas oleh pemangsanya! Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi mereka.

Menurut situs wikipedia, warna cerah sering dihubungkan dengan mekanisme Warning Coloration (Pewarnaan tubuh untuk memperingatkan) atau Aposematisme (Apo- berarti menjauh/ mengusir, dan Sematic berarti peringatan). Umumnya, warna oranye, merah, kuning yang kontras dengan warna hitam pada serangga merupakan petunjuk bahwa serangga tersebut beracun, atau minimal berasa tidak enak. Menariknya, demikian kuatnya pengaruh warna ini bagi sekelompok serangga tertentu, sehingga beberapa kelompok yang lain meniru atau menyamar sesuai dengan warna dari kelompok serangga yang memang benar-benar berbahaya tersebut (silakan baca tulisan sebelumnya “Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!”).

Sejarah penelitian tentang warning coloration

Fenomena warning coloration ini mula-mula ditemukan oleh Alfred R. Wallace, dan kemudian oleh E.B. Poulton yang kemudian menyimpulkan bahwa predator yang sudah terlatih cenderung menghindari memangsa organisme yang mempunyai warna cerah. Dalam sebuah surat yang ditulisnya kepada Darwin pada tahun 1870-an, Wallace sudah berpendapat bahwa warna-warna cerah pada organisme kemungkinan menjadi semacam “peringatan” bagi calon pemangsa, bahwa organisme tersebut tidak enak dimakan (unpalatable).

Beberapa penelitian telah menguak sebagian misteri warning coloration pada serangga ini. Misalnya, penelitian Gamberalla dan Tullberg (1998) dan Hattle dan Salazar (2001) menjelaskan bahwa perilaku gregariousness (berkelompok) mempunyai efek positif terhadap warning coloration, yaitu memperkuat sinyal peringatan kepada calon pemangsa bahwa mereka beracun! Penelitian Hatle dan Salazar bahkan menyebutkan bahwa perilaku berkelompok mampu memperlambat proses pemangsaan oleh musuh alami. Hmmm…mungkin mereka sudah ngeper dahulu melihat calon mangsanya yang cerah ceria namun mematikan.

Penelitian lain juga menjelaskan bahwa mekanisme pemangsaan oleh pemangsa pada serangga-serangga berwarna cerah ini ternyata sangat kompleks, terutama setelah melalui proses belajar (learning) dan mengingat (memorizing). Penelitian Lynn (2005) menjelaskan bahwa hubungan antara mangsa dan pemangsanya selalu diiringi oleh proses learning (memorizing) dan sekaligus forgetting. Sherrat (2002) kemudian mengembangkan teori bahwa mangsa yang berwarna-warni cerah (thus, kelihatan jelas) mampu bertahan lebih baik (karena akan dikenali sebagai mangsa yang tidak enak/ berbahaya) dibandingkan mangsa yang tersembunyi/ tersamar (cryptic) yang dianggap tidak berbahaya. Artinya, menurut Sherratt, strategi warning coloration bisa jadi lebih hebat daripada strategi penyamaran (misalnya warna yang selaras dengan warna daun pada belalang daun).

Bagaimana pengaruh “racun” tersebut pada musuh alami?

Pertanyaan yang akan timbul juga adalah: Jika jaringan tubuh serangga tersebut beracun, bagaimana dong dengan pemangsaan oleh musuh alaminya? Apakah serangga-serangga ini tidak mempunyai musuh alami? Atau musuh-musuh alami tersebut sudah beradaptasi dengan serangga-serangga berwarna cerah ini?

Secara fisiologis, racun yang terdapat pada serangga-serangga beracun tersebut diperoleh dari pakannya. Misalnya, ulat Junonia coenia (Lepidoptera: Nymphalidae) memperoleh senyawa iridoid glycosides yang diperolehnya dari tumbuhan Plantago lanceolata. Atau ulat kupu-kupu raja, Danaus plexippus (lihat tulisan sebelumnya: “Migrasi jarak jauh: Strategi bertahan hidup ala serangga”) yang memperoleh senyawa cardiac glycoside dari tumbuhan milkweed (Asclepias sp). Beberapa serangga kemudian akan melepaskan senyawa-senyawa tersebut ketika diserang. Larva tawon gergaji (Hymenoptera: Tenthredinidae) misalnya, mengeluarkan senyawa tersebut melalui lubang-lubang kecil di antara ruas-ruas tubuhnya ketika diserang, dan fenomena ini disebut reflex bleeding (akan dibahas tersendiri, Insya Allah). Hal yang sama dilakukan oleh kumbang koksi ketika diserang oleh predator.

Reflex bleeding pada kumbang koksi

Reflex bleeding pada kumbang koksi

Penyerapan senyawa beracun oleh serangga pemakan tumbuhan tersebut belum jelas. Namun, beberapa ahli menduga bahwa secara umum, serangga-serangga tersebut mampu menyerap dan menyimpan racun tersebut pada bagian tertentu tubuhnya, dan kemudian “digunakan” jika diperlukan.

Sebagaimana organisme lain, serangga-serangga beracun yang dikaruniai warna cerah ini juga mempunyai musuh alami spesifik, yang mampu meminimalkan efek beracun pada tubuhnya. Sementara, musuh alami polifaga (mempunyai jangkauan inang lebar) kemungkinan akan mengalami kesulitan memangsa serangga-serangga tersebut. Salah satu mekanisme yang digunakan oleh musuh alami khas untuk meminimalkan dampak racun dari mangsanya disebut mekanisme “penurunan dampak racun pada tubuh”. Pada penelitian yang dilakukan oleh Brower (1969), Roeske et al. (1976), Rothchild (1972) dan Reichstein et al (1968), burung blue-jay (Cyanocitta cristata bromia) diberi pakan kupu-kupu D. plexippus. Begitu makan, segera burung ini memuntahkan kembali sang kupu-kupu, dan selanjutnya menolak untuk mengulangi memakan kupu-kupu ini. Para peneliti ini menduga (sekaligus menyimpulkan!?) bahwa burung blue-jay mungkin belajar dan mengingat bahwa warna cerah pada kupu-kupu raja berkaitan erat dengan rasa tidak enak kupu-kupu tersebut. Penelitian lain kemudian membuktikan adanya fenomena peng-kopi-an ciri warna kupu-kupu raja ini oleh kupu-kupu lain yang sebenarnya tidak beracun untuk menghindari pemangsaan oleh musuhnya (lihat tulisan “Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!”). Namun, dua spesies burung yaitu Icterus abeillei dan Pheuctius melanocephalus mampu mengurangi kepekaan tubuh terhadap efek racun kupu-kupu raja, sehingga mereka mampu memangsa kupu-kupu raja ini.

Simpulan

Well, agaknya warning coloration mampu menjadi salah satu alternatif sistem pertahanan serangga yang mumpuni, meskipun bagaimanapun juga mereka tidak lepas dari hukum alam bahwa “setiap yang hidup akan mati” ehh… bukan, maksudnya, “setiap organisme pasti mempunyai musuh alami”.

Pustaka

Camara, M.D., 1997. Predator responses to sequestered plant toxins in buckeye caterpillars: Are tritrophic interactions locally variable? Journal of Chemical Ecology 23.

Gamberale, G. Dan B.S. Tullberg. 1998. Aposematism and gregariousness: the combined effect of group size and coloration on signal repellence. Proceeding of Royal Society of London 265: 889-894.

Harborne, J.B. 1993. Introduction into ecological biochemistry. 4th edition. Academic Press, Amsterdam.

Hatle, J.D. dan B.A. Salazar. 2001. Aposematic coloration of gregarious insects can delay predation by an ambush predator. Environmental Entomology 30: 51-54.

Koch, R.L., W.D. Hutchison, R.C. Venette, and G.E. Heimpel. 2003. Susceptibility of immature monarch butterfly, Danaus plexippus (Lepidoptera: Nymphalidae: Danainae), to predation by Harmonia axyridis (Coleoptera: Coccinellidae). Biological Control 28: 265-270.

Lynn, S.K. 2005. Learning to avoid aposematic prey. Animal Behaviour 70: 1221-1226.

Romoser, W.S. dan J.G. Stoffolano. 1998. The science of entomology. 4th edition. McGraww-Hill, Boston.

Sherratt, T.N. 2002. The coevolution of warning signals. Proceeding of Royal Society of London 269: 741-746.

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Sumber gambar: http://en.wikipedia.org

Hubungan segitiga semut pemakan tinja burung, nematoda parasit, dan burung pemakan biji

Pagi ini, iseng-iseng membuka file paper-paper elektronik yang berhasil terkumpul beberapa bulan yang lalu, dan upss ….. saya temukan artikel menarik tentang hubungan antara semut dan nematoda parasitnya, dan burung pemakan biji. Ringkasannya adalah sebagai berikut. Semut hutan, Cephalotes atratus yang hidup pada pohon Hyeronima alchorneoides di hutan-hutan Amerika Tengah-Selatan, mempunyai hubungan yang unik dengan nematoda parasit kelompok tetradonematid dan burung pemakan biji. Dalam hubungan ini, semut berperan sebagai inang nematoda, dan bersama dengan burung berperan sebagai pembawa atau penyebar nematoda ke koloni semut yang lain, atau ke individu lain di dalam koloninya sendiri. Bagaimana hal ini terjadi?

Pada mulanya, nematoda akan menginfeksi semut melalui jasa burung pemakan biji H. alchorneoides yang secara tidak sengaja memakan semut C. atratus yang terinfeksi nematoda. Bagaimana bisa? Ya, abdomen, atau disebut gaster semut yang terinfeksi nematoda akan berubah menjadi berwarna merah, mirip seperti buah H. alchorneoides (Gambar). Artinya, secara tidak sengaja burung memakan semut yang terinfeksi yang memang sedang berada di dekat buah-buah H. alchorneoides.

Selanjutnya, nematoda akan dipindahkan oleh burung melalui tinja yang dikeluarkan di dekat buah-buah H. alchorneoides yang juga dekat dengan koloni semut C. atratus. Tinja ini ternyata menjadi salah satu pakan semut, yang membawanya ke dalam koloni dan digunakan sebagai pakan larva. Nah, menurut pengamatan Yanoviak dan kawan-kawan, rupanya melalui larva inilah nematoda menemukan kesempatan untuk berkembang biak dan sekaligus menumpang untuk sekaligus dipindahkan oleh semut-semut tersebut. Pembedahan pada usus semut dewasa menunjukkan bahwa bintil-bintil penyaring pada bagian proventrikulus semut tidak memungkinkan larva nematoda masuk ke dalam abdomen semut yang menjadi habitat hidupnya. Jadi, kesempatan yang mungkin bagi nematoda untuk masuk ke dalam tubuh semut adalah melalui larva semut yang memang diberi pakan tinja burung yang mengandung telur dan larva nematoda.

Nematoda kemudian akan tumbuh dan berkembang di dalam larva semut. Nematoda yang sudah dewasa ke bagian gaster pupa semut, dan kawin pada waktu pupa menjadi semut pekerja muda. Semut-semut yang terparasit ini biasanya cenderung menjadi calon-calon pejantan dan lebih banyak hidup di dalam sarang. Sementara, warna merah pada gaster semut-semut yang terparasit tersebut berasal dari ratusan embrio nematoda yang sedang berkembang di dalam tubuh nematoda betina dan memicu produksi bahan-bahan eksoskeletal oleh semut yang beranjak dewasa. Uniknya, warna merah pada gaster semut ini juga akan berkembang menyerupai warna buah-buah H. alchorneoides. Dengan demikian, semut-semut ber-gaster merah ini sering menjadi santapan burung-burung pemakan serangga, dan siklus infeksipun berlanjut.

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Sumber:

Yanoviak, S.P., M. Kaspari, R. Dudley, & G. Poinar, Jr. 2008. Parasite-induced fruit mimicry in a tropical canopy ant. The American Naturalist 171: 536-544.

Semut C. atratus (kiri) dengan gaster merah yang mirip dengan buah di kanan

Mimikri pada serangga: Strategi untuk bertahan!

Menurut ensiklopedia Encarta (2005), mimikri didefinisikan sebagai pemiripan atau peniruan secara fisik atau perilaku oleh satu spesies terhadap spesies yang lain yang menguntungkan dirinya, atau secara tidak langsung juga keduanya. Organisme yang “meniru” disebut mimik, sedangkan organisme yang “ditiru” disebut model. Di alam ini, cukup banyak jenis organisme, baik tumbuhan maupun hewan yang melakukan mimikri untuk tujuan pertahanan maupun mendapatkan pakan. Serangga adalah salah satu jenis hewan yang melakukan mimikri, dan pada banyak kasus terbukti efektif.

Fenomena mimikri sendiri diteliti untuk pertama kalinya oleh Henry Walter Bates, seorang ahli alam dari Inggris pada tahun 1862 pada kupu-kupu di hutan Brasilia. Sampai saat ini dikenal ada beberapa jenis mimikri pada serangga, dan beberapa jenis yang terkenal adalah (1) mimikri Batesian, yang merujuk pada nama H.W. Bates, sang peneliti pertama fenomena ini, (2) mimikri Mullerian, (3) mimikri Browerian (mirip mimikri Batesian namun terjadi pada individu-individu di dalam satu spesies), dan (4) mimikri Peckhamian (mimikri agresifitas).

Mimikri Batesian

Mekanisme dari mimikri ini adalah peniruan oleh serangga peniru yang tergolong tidak berbahaya pada model-model serangga yang tergolong berbahaya atau beracun. Contoh yang cukup terkenal adalah lalat syrphid genus Eristalis spp. yang morfologi dan perilakunya amat mirip dengan lebah spesies Apis mellifera (Golding dan Edmunds, 2000). Pada penelitian yang dilakukan keduanya, sang lalat syrphid terbukti mampu menirukan perilaku lebah dengan sangat mirip dari aspek waktu kunjungan ke bunga tumbuhan-tumbuhan tertentu, di samping memang secara morfologis sangat mirip. Contoh lainnya, misalnya pada kumbang staphylinid myrmecophilous, Pella comes yang mampu menirukan morfologi semut inangnya, dan bahkan menghindarkannya dari pemangsaan oleh predator (katak pohon) (Taniguchi et al., 2005).

Mimikri Mullerian

Pada mulanya, fenomena mimikri Mullerian dianggap sebagai mimikri Batesian. Namun, kemudian fenomena mimikri Mullerian adalah fenomena yang berbeda sama sekali dengan mimikri Mullerian. Pada mimikri Mullerian, dua spesies yang sebenarnya sama-sama beracun atau berbahaya berbagi sinyal warna tubuh (berbahaya!) yang biasanya berupa warna-warna cerah (aposematic atau warning coloration, akan dibahas kemudian). Ahli alam Jerman, Fritz Muller menjelaskan bahwa keuntungan dari fenomena mimikri ini adalah, bahwa jika dua spesies berbagi sinyal aposematik, maka hal ini akan membingungkan predator-predator kedua spesies yang melakukan mimikri tersebut. Spesies-spesies yang berbagi tersebut disebut sebagai anggota dari kompleks Mullerian. Contoh dua spesies yang melakukan mimikri Mullerian adalah Kupu-kupu Raja, Danaus plexippus dan Kupu-kupu Viceroy, Limenitis archippus yang sama-sama berasa tidak enak, yang berbagi pola warna tubuh dan perilaku.

Mimikri Browerian

Fenomena ini dianggap mirip dengan mimikri Batesian, namun terjadi di antara individu dalam satu spesies. Fenomena ini ditemukan oleh Lincoln P. Brower dan Jane Van Zandt Brower, dan disebut juga automimicry. Mimikri ini muncul pada spesies-spesies kupu-kupu, misalnya D. plexippus yang makan tumbuhan milkweed yang kadar racunnya bervariasi. Keuntungan dari mimikri ini adalah, jika predator makan pada beberapa individu larva atau imago, dan kemudian menemukan bahwa salah satu individu berasa sangat tidak enak, maka predator tersebut akan segera berhenti menyantapnya, dan meninggalkan koloni kupu-kupu tersebut. Artinya, beberapa individu menjadi tumbal bagi keselamatan seluruh individu yang tersisa!

Mimikri Peckhamian

Serangga yang menerapkan mimikri jenis ini (disebut mimikri Peckhamian merujuk pada penemunya, George dan Elizabeth Peckhman) akan meniru ciri-ciri serangga yang tidak berbahaya atau mungkin berguna untuk “menipu” inang atau mangsanya, sehingga memudahkannya memangsa tanpa dicurigai oleh anggota koloni mangsanya. Contohnya misal pada tiga spesies lalat syrphid predator genus Microdon yang meniru pupa semut inangnya (genus Camponotus dan Formica). Pengamatan oleh Garnett et al (1985) membuktikan bahwa larva instar 1 dan 2 Microdon mampu menirukan morfologi, bahkan “bau” khas pupa kedua spesies semut tersebut dengan sangat mirip, sehingga memungkinkan mereka dapat memangsa pupa-pupa semut tersebut. Contoh lain adalah pada kunang-kunang Photuris betina yang mampu mengeluarkan pola kerlip cahaya yang mirip dengan pola kerlip cahaya kunang-kunang jenis Photinus. Akibatnya, kunang-kunang jantan Photinus terpikat oleh ajakan kawin si Photuris, yang berujung pada maut, karena begitu sampai, sang “betina” ternyata adalah calon pemangsanya! Yang lebih hebat lagi, dengan memangsa Photinus, betina Photuris akan mendapatkan senyawa steroid lucibufagins yang bermanfaat sebagai senyawa pertahanan dari si mangsa (Eisner et al., 1997). Menakjubkan bukan?

Regards,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

Catatan:

Aposematic = pewarnaan atau penandaan pada tubuh organisme yang bertujuan untuk memperingatkan atau mengusir pemangsa (= warning coloration)

Myrmecophilous = organisme invertebrata atau tumbuhan yang mempunyai hubungan simbiotik dengan semut, baik di dalam maupun di luar sarang semut.

Referensi

Anonim. 1993. Microsoft Encarta Encyclopedia Standard 2005.

Eisner, T., M.A. Goetz, D.E. Hill., S.R. Smedley, & J. Meinwald. 1997. Firefly “femme fatales” acquire defensive steroids (lucibufagins) from their firely prey. Proceeding Natural of Academic Sciences of USA 94: 9723-9728.

Garnett, W.B., R.D. Akre, & G. Sehlke. 1985. Cocoon mimicry and predation by myrmecophilous Diptera (Diptera: Syrphidae). The Florida Entomologist 68: 615-621.

Golding, Y.C., & M. Edmunds. 2000. Behavioural mimicry of honeybees (Apis mellifera) by droneflies (Diptera: Syrphidae: Eristalis spp.). Proceedings Biological Sciences, 267: 903-909.

Taniguchi, K., M. Maruyama, T. Ichikawa, & F. Ito. 2005. A case of Batesian mimicry between a myrmecophilous staphylinid beetle, Pella comes, and its host ant, Lasius (Dendrolasius) spathepus: an experiment using the Japanese treefrog, Hyla japonica as a real predator. Insectes Sociaux 52: 320-322.

Sumber gambar: www.en.wikipedia.org

Mimikri Batesian pada ngengat Nymphalidae