Serangan hama meluas, saatnya kembali ke potensi alami

Minggu lalu, saya berkesempatan berkunjung ke Provinsi Gorontalo. Itu lho, provinsi di sebelah barat Sulawesi Utara, dan terkenal sebagai provinsi jagung, karena penanaman jagung yang luar biasa luas dan intensif di sana.

Hijaunya tanaman jagung di Gorontalo (dokumen pribadi, 2011)

Semenjak turun dari pesawat di Bandara Sultan Jalaludin, segera muncul ciri daerah khatulistiwa, yaitu panas! Di sepanjang perjalanan menuju ke ibukota, mata saya selalu tertumbuk pada lahan-lahan tanaman jagung di sebelah kanan dan kiri jalan. Hmmm, pantaslah sebutan provinsi jagung disematkan pada Gorontalo. Iklim dan kondisi tanah provinsi ini tampaknya memang cocok untuk menanam jagung.

Setelah melewatkan satu hari untuk memberi kuliah (akan saya tulis di posting berikutnya, tunggu ya…), hari berikutnya saya dan mahasiswa bimbingan saya (terima kasih Pak Muhammad Lihawa atas semuanya!) menuju ke kabupaten Pohuwato, salah satu lumbung jagung terbesar di provinsi Gorontalo, dan kabupaten Boalemo, juga salah satu daerah penanaman jagung.

Nah, di sepanjang perjalanan itulah saya sekali lagi diperlihatkan pada potensi alam yang luar biasa dari bumi Gorontalo, yaitu gulma Siam! Hee…gulma? Potensi? He…he… tunggu dulu, jangan terburu protes. Saya jelaskan satu per satu ya..

Gulma Siam atau dikenal dengan nama ilmiah Chromolaena odorata, adalah salah satu “gulma” terkuat dan paling bandel di kawasan tropika. Spesies ini sangat sering dibahas oleh para ahli, terutama karena status invasif-nya (silakan tilik juga di sini), mudah beradaptasi, dan daya saingnya yang amat tinggi. Pengendaliannyapun tergolong sulit. Di Indonesia, banyak musuh alami yang sudah diidentifikasi, namun tetap saja belum mampu mengendalikannya.

Gulma Siam, Chromolaena odorata (en.wikipedia.org)

Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa biomassa gulma ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Nah, pada sisi inilah, saya dan tim (termasuk mahasiswa) mencoba untuk menjembatani dua pokok ide, yaitu (1) pengelolaan biomassa Gulma Siam yang efisien dan aman, dan (2) memanfaatkan potensi positif biomassa Gulma Siam sebagai bahan pembenah tanah.

Beberapa penelitian yang sudah kami lakukan menunjukkan bahwa kompos Gulma Siam mampu (1) meningkatkan biomassa tanaman, dan sekaligus (2) menurunkan insiden kerusakan atau kematian tanaman akibat serangan serangga (hama). Kompos ini juga terbukti relatif aman terhadap beberapa organisme tanah, terutama artropoda pengurai (dekomposer).

Jadi, saya bisa menyimpulkan (untuk sementara), bahwa potensi alam semacam Gulma Siam ini, jika dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar akan menghasilkan sebuah proses pengelolaan ekosistem pertanian yang efisien, efektif, dan aman. Artinya, jika kita memimpikan sebuah agroekosistem yang berkelanjutan, maka mengapa tidak mencoba menggunakan potensi-potensi alam semacam Gulma Siam ini?

Tunggu sambungan posting tentang potensi Gulma Siam ini ya…..

Salam,

(NSP dari berbagai macam sumber).

Peran taksonomi, sistematika, dan klasifikasi serangga di bidang pengendalian serangga hama

Pengantar

Definisi taksonomi adalah ilmu untuk menggolong-golongkan makhluk hidup (Mayr et al., 1953). Lebih lanjut, Simpson (1961) mendefinisikan taksonomi sebagai suatu kajian teoritik tentang penggolongan, termasuk di dalamnya dasar-dasar, prinsip, cara kerja dan aturan-aturan yang berlaku. Sementara Evans (1984) menyatakan bahwa taksonomi juga mencakup penemuan pola-pola yang ada di dalam suatu keanekaragaman.

Sistematika didefinisikan sebagai kajian keilmuan dari jenis-jenis dan keragaman makhluk hidup dan sebagian atau semua hubungan yang terjadi di antara mereka (Simpson, 1961). Pada perkembangannya, kata taksonomi dan sistematika sering digunakan sebagai padanan, dengan pengartian yang sama.

Klasifikasi didefinisikan sebagai cara atau kerangka kerja yang digunakan untuk menemukan pola-pola tertentu dalam suatu keanekaragaman. Kata klasifikasi terkadang disamaartikan dengan kata identifikasi yang didefinisikan sebagai kegiatan untuk mengenali spesies atau jenis makhluk hidup.

Sebagai salah satu cabang ilmu hayati (biologi), taksonomi dan sistematika dianggap mempunyai peran penting, terutama sebagai alat (tool) pengenal spesies makhluk hidup. Oleh karena itu, taksonomi dan sistematika tidak dapat berdiri sendiri, namun membutuhkan peran ilmu lain, misalnya morfologi, anatomi, genetika, ekologi dan fisiologi.

Taksonomi dan sistematika juga dikaitkan dengan “perjalanan hidup” atau sejarah suatu jenis makhluk hidup (lazim disebut filogeni), termasuk hubungannya dengan faktor-faktor di luar tubuhnya (Evans, 1984). Mackerras (1979) merinci beberapa pertanyaan yang mungkin mengikuti penemuan spesies baru, yaitu (1) darimana asal tetuanya, dan (2) bagaimana hubungan tetua makhluk tersebut dengan spesies yang lain (misalnya kedekatan genetik). Uraian Mackerras ini secara tidak langsung menjelaskan bahwa suatu jenis makhluk hidup selalu terkait dengan faktor-faktor abiotik dan biotik di sekitarnya. Arnett dan Jacques (1985) kemudian juga menyatakan bahwa variasi genetik pada perkembangan suatu jenis makhluk hidup dapat dipengaruhi oleh faktor genetik di makhluk hidup (internal) dan lingkungan (eksternal) yang saling berkaitan. Hal-hal tersebut yang kemudian membentuk sebuah “keanekaragaman” di dalam “keseragaman” satu jenis makhluk hidup, misalnya dengan terbentuknya varian spesies berdasarkan daerah penyebaran, dan sebagainya. Menurut Sinnot et al. (1958), tidak ada dua individu, bahkan dalam satu spesies, yang sama persis. Perbedaan tersebut disebabkan oleh faktor makanan, suhu, cahaya, kelembaban dan faktor-faktor eksternal lain.

Selanjutnya, konsep adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya banyak dikaitkan dengan genetika, dan diyakini berpengaruh nyata terhadap pembentukan kelompok makhluk hidup “baru” dalam satu spesies. Konsep takso-genetika ini dijelaskan oleh Daly et al (1978), yaitu bahwa pemisahan suatu kelompok makhluk hidup dari kelompok yang lain dalam spesies yang sama oleh perbedaan kondisi geografis akan menyebabkan pengkhususan terhadap kelompok yang terpisah tersebut.

Peranan taksonomi di bidang pengendalian populasi serangga

Taksonomi dapat dianggap sebagai dasar bagi penelitian ilmu hayati (Hardy, 1988). Lebih lanjut, taksonomi dapat pula dianggap sebagai “gerbang” untuk merancang strategi pengelolaan suatu spesies hama, karena pencirian dan pengenalan spesies yang tepat akan memudahkan kita untuk mencari titik lemah dari bioekologi satu spesies hama. Hardy menyatakan pula bahwa banyak kegagalan pengendalian hama lebih disebabkan karena salah identifikasi yang berujung pada kegagalan pemilihan strategi pengendalian yang tepat berdasarkan ciri bioekologi hama yang bersangkutan.

Salah satu contoh kegagalan pengendalian hama serangga akibat salah identifikasi terjadi pada pengendalian kutu olive scale, Parlatoria oleae (Colvee) di Kalifornia menggunakan parasitoid Aphytis maculicornis (Masi) yang diimpor dari Mesir pada tahun 1951 (DeBach, 1974). Pada mulanya, upaya pengendalian tersebut gagal, yaitu tidak ada seekor parasitoidpun yang mampu hidup dan berkembang di lapangan. Penelitian selanjutnya membuktikan bahwa koloni parasitoid tersebut terdiri dari empat strain, dan hanya strain Persia yang mampu memparasitoid dan hidup pada kutu tersebut. Hal tersebut membuktikan, bahwa pengelompokan-pengelompokan yang terjadi di dalam satu spesiespun mampu menentukan keberhasilan upaya pengendalian hama di lapangan. Dari pengalaman di atas terbukti, bahwa pencirian dan kemudian pengelompokan yang tepat mampu menemukan bahwa strain Persia adalah kelompok yang paling berhasil mengendalikan kutu olive, dan bukan tiga strain yang lain.

Ulasan yang disampaikan White (1988) juga menarik untuk disimak, yaitu bahwa penelitian taksonomi yang dikembangkan pada lalat buah tephritid mampu menghasilkan data tentang spesies lalat buah yang hidup di suatu daerah dengan data pendukung berupa inang khas yang diserangnya, sehingga dapat dibuat sebuah peta distribusi serangan lalat buah spesies khas pada inang yang khas pula. Hal ini tentunya mempermudah pengelolaan populasi lalat buah di daerah yang bersangkutan.

Penelitian taksonomi juga sudah mengarah ke pengamatan karakter spesies atau variannya menggunakan teknik-teknik molekuler, misalnya teknik Polymerase Chain Reaction-Random Amplified Polymorphic DNA atau PCR-RAPD. Teknik lain misalnya dengan mengamati ciri isozim pada satu kelompok serangga. Penelitian taksonomi molekuler ini ternyata cukup ampuh untuk mengenali variasi genetik yang terjadi pada satu spesies serangga hama yang terjadi akibat pengaruh perbedaan daerah penyebaran. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Mendel  et al (1984) pada kutu.  Matsucoccus josephi menunjukkan bahwa teknik PCR-RAPD dapat digunakan untuk menentukan asal dari spesies kutu tersebut. Dengan teknik ini pula, penerapan pengendalian hayati menggunakan parasitoid yang harus diimpor dari tempat asal kutu tersebut dapat dilakukan, sehingga kegagalan yang pernah terjadi pada pengendalian kutu olive di Kalifornia dapat dihindari.

Penelitian yang dilakukan oleh Ooi (1988) merupakan contoh pengembangan teknik penggunaan isozim untuk menemukan variasi genetik pada satu spesies serangga. Dari hasil penelitiannya, Ooi menemukan bahwa spesies lalat buah Bactrocera dorsalis (Diptera: Tephritidae) di Malaysia mempunyai dua varian yang disebut Takson A dan Takson B. Data ini tentu sangat berguna sebagai dasar untuk menerapkan pengendalian hayati B. dorsalis menggunakan spesies musuh alami yang bersifat monofaga, atau pengendalian kimiawi menggunakan feromon yang bersifat sangat khas spesies.

Penutup

Pada akhirnya, upaya-upaya untuk mengembangkan penelitian taksonomi yang dapat mendukung pengendalian yang handal menjadi sangat penting, yang meliputi pengkajian aspek morfologi, anatomi, bioekologi, dan perilaku suatu spesies serangga hama.

Lebih lanjut, miskinnya penelitian taksonomi di Indonesia kemungkinan disebabkan oleh ketidakpahaman kita pada arti penting taksonomi di bidang entomologi dalam kaitannya dengan pengendalian serangga hama. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya yang keras untuk mengembangkan penelitian di bidang taksonomi serangga sebagai dasar untuk mengelola populasinya di lapangan secara tepat.

Referensi

Arnett, R.H. & R.L. Jacques. 1985. Insect life. Prentice-Hall Inc., New Jersey.

Daly, H.V., J.T. Doyen, & P.R. Ehrlich. 1978. Introduction to insect biology and diversity. McGraww-Hill Kogakusha, Ltd., Tokyo.

DeBach, P., 1974. Biological control by natural enemies. Cambridge University Press, London.

Evans, H.E., 1984. Insect biology. A textbook of entomology. Addison-Wesley, Publishing Co., Massachusetts.

Hardy, E., 1988. Contribution of taxonomic studies to the integrated pest management of fruit flies with emphasis on the Asia-Pasific Region. Dalam: S. Vijaysegaran & A.G. Ibrahim (editor), Proceedings First International Symposium on Fruit Flies in The Tropics. Kuala Lumpur, Malaysia. 14-16 March, 1988.

Mackerras, I.M., 1979. Evolution and classification on the insects. Dalam The insects of Australia. Melbourne University Press, Victoria.

Mayr, E., E.G. Linsley, & R.L. Usinger. 1953. Methods and principles of systematic zoology. McGraww-Hill Book, Co., New York.

Mendel, Z., D. Nestel, & R. Gavny. 1994. Examination of the origin of the Israeli population of Matsucoccus josephi (Homoptera: Matsucoccidae) using RAPD-PCR. Annals of the Entomological Society of America 87: 165-169.

Ooi, C.S., 1988. Genetic variation in populations of two sympatric taxa in the Dacus dorsalis complex and their relative infestation levels in various fruit host. Dalam: S. Vijaysegaran & A.G. Ibrahim (editor), Proceedings First International Symposium on Fruit Flies in The Tropics. Kuala Lumpur, Malaysia. 14-16 March, 1988.

Simpson, G.G., 1961. Principles of animal taxonomy. Columbia University Press, New York.

Sinnot, E.W., L.C. Dunn, & T. Dobzhansky. 1958. Principles of genetics. McGraww-Hill Book Co., New York.

Ditulis ulang dan diringkas dari makalah yang pernah diterbitkan pada jurnal Agr-UMY volume V nomor 1 tahun 1997 dengan judul “Sumbangan Taksonomi, Sistematika, dan Klasifikasi Serangga di Bidang Pengendalian Serangga Hama” oleh Nugroho Susetya Putra.