Menulis karya tulis ilmiah (secara) populer

 

write it and share it

write it and share it

 

Pagi ini saya membuka internet, dan teng..teng..teng..ketemu Jonru si Penulis Kreatif yang tak pernah kehilangan ide menulis. Saya sering mampir ke blognya (http://www.jonru.net) tetapi hanya sepintas-sepintas. Nah, pagi ini saya kok tiba-tiba tertarik untuk mendalami tulisan demi tulisan yang ada di blognya. Satu hal yang dapat saya tangkap dari tulisan-tulisannya adalah motivasi yang kuat dari seorang Jonru untuk terus menulis, seperti yang selalu dikatakannya, pokoknya menulis, menulis, dan menulis! Intinya, bagaimana caranya agar kita tidak mandeg menulis dan ide mengalir dengan lancar. Lalu, apa hubungannya dengan menulis kajian ilmiah (populer) yang selama ini saya tekuni?

Menulis karya tulis ilmiah populer sudah menjadi hobi saya sejak masa SMA menjelang mahasiswa. Dan sampai kini, hobi ini makin saya sukai. Nah, sesungguhnya, bagaimana sih caranya menulis sebuah karya tulis ilmiah populer itu? Samakah dengan menulis novel? Apapula bedanya dengan menulis karya tulis ilmiah murni?

Menulis sebuah karya tulis ilmiah populer sebenarnya hampir sama prosesnya dengan menulis karya tulis ilmiah murni, atau bahkan novel. Intinya, kita menyampaikan sebuah pesan yang dirangkai secara runtut, hingga ditemukan sebuah simpulan atau solusi atas sebuah pertanyaan yang kita kemukakan di awal tulisan. Pesan tersebut bisa saja berupa “temuan masalah”, atau ide murni dari Anda setelah merenung, membaca, atau berdiskusi dengan teman. Nah, pemilihan “pesan” atau “hal” ini akan menentukan menarik tidaknya tulisan kita. Perbedaan kedua  karya tulis tersebut adalah pada sifat tulisan karya tulis ilmiah populer yang lebih mudah dipahami karena ditulis dengan bahasa yang lebih renyah. Pokoknya tidak sampai membuat kening pembaca berkerut deh!

Tetapi, seringkali kita sulit menemukan hal yang menarik untuk diangkat sebagai sebuah tulisan. Hmm, sebenarnya kita bisa kok melatih “kepekaan” daya nalar kita untuk mencari dan menemukan hal-hal menarik di sekitar kita.

Contohnya adalah sebagai berikut (maaf saya lebih banyak mengeksplorasi serangga, sesuai dengan bidang yang saya kuasai). Ketika kita sedang makan, kemudian tiba-tiba datang seekor lalat dan hinggap di piring makanan di depan kita, maka saya yakin, kita akan mempunyai sederet pertanyaan menarik yang membutuhkan jawaban-jawaban, misalnya:

  1. Apa saja jenis lalat yang sering mengunjungi meja makan kita, karena kita sering menemukan ada lalat yang berwarna hitam, abu-abu, hijau, atau coklat dengan berbagai ukuran tubuh?
  2. Ketika kita menilik perilaku mereka, kita mungkin tertarik dengan cara mereka “merasai” atau “mencicipi” makanan. Pernah melihat kan?
  3. Ketika kita merasa risih dengan kedatangan mereka, kemudian mencoba untuk memukul dan membunuh mereka. Tetapi berhasilkah? Lebih sering gagal bukan? Nah, mengapa kok mereka susah dipukul? Bagaimana mereka bisa menghindari kibasan tangan kita dengan sangat cepat?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dan sangat mungkin kita kembangkan menjadi sekian banyak tulisan ilmiah populer yang mengasikkan. Coba lihat pertanyaan nomor 1. Tidakkah kita tertarik ketika melihat bahwa lalat yang mengunjungi makanan kita bermacam-macam? Tidakkah kita  kemudian tergerak untuk mencari penjelasan lebih lanjut, apa nama spesies mereka masing-masing?

Nah, dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita dapat mulai menyusun kerangka tulisan yang terdiri dari (1) pengantar atau pendahuluan, (2) bahasan, dan (3) simpulan dan saran. Pada pengantar, kita dapat menyampaikan permasalahan yang kita anggap menarik secara runtut, singkat, dan menggunakan kalimat yang mudah dipahami. Ingat, kita sedang menulis sebuah tulisan ilmiah populer, artinya, meskipun kandungan ilmiah tetap kita jaga di dalam tulisan, namun harus disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca yang awam sekalipun. Semakin mudah dipahami, maka makin banyak calon pembaca yang terpikat.

Jika kita sudah merasa cukup dengan bagian pengantar, maka kita dapat mulai menguraikan satu per satu hal-hal yang terkait dengan hal-hal yang sudah kita tuliskan sebelumnya. Nah, di sinilah kita dituntut untuk mencari sebanyak mungkin informasi yang terkait . Silakan kunjungi google, dan “minta tolong” untuk mencarikan pustaka yang kita butuhkan. Atau kita bisa membongkar buku-buku atau pustaka cetakan lain yang terkait. Saya sendiri mempunyai perpustakaan digital di komputer saya yang saya kelola sedemikian rupa, sehingga memudahkan saya untuk menemukan pustaka yang dibutuhkan. Oya, kita memang sebaiknya juga mengindeks pustaka-pustaka yang ada, supaya mudah mencarinya kembali jika dibutuhkan. Perangkat lunak bibliografi mungkin dapat dimanfaatkan. Saya menggunakan perangkat lunak EndNote untuk mencari pustaka di internet (silakan kunjungi situsnya di sini), selain produk lain, misalnya Biblioscape dan sebagainya. Kita juga dapat memanfaatkan perangkat lunak ensiklopedia, baik yang berbayar semacam Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica, atau yang tersedia bebas semacam Wikipedia. Sampai saat ini, saya merasa sangat terbantu oleh mereka.

Hal terakhir yang harus kita lakukan adalah “menuntaskan” tulisan dengan menuliskan simpulan. Di bagian ini, kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tertulis pada bagian pengantar. Buatlah dengan singkat saja, menggunakan kalimat yang sederhana (dan jangan menggunakan kalimat bersayap!), namun jelas. Memang bukan hal yang sangat mudah untuk menuliskan bagian ini, tetapi sekali lagi kuncinya adalah berlatih, berlatih, dan berlatih! Namun, bisa saja kita mencoba untuk membuat penasaran pembaca dengan menguraikan pertanyaan-pertanyaan yang lain, berdasarkan uraian kita di dalam badan tulisan. Nah, ini terserah pada kita.

Beberapa hal penting

Hal penting pertama yang harus kita ketahui tentang sebuah tulisan ilmiah populer adalah bahwa kita harus menyertakan opini atau pendapat pribadi kita (biasanya pada pengantar, sebagai alasan kita membuat tulisan tersebut), dan didukung dengan kajian pustaka yang cukup. Di sinilah pembaca akan dapat menilai bobot karya kita berdasarkan kemampuan kita untuk meramu opini kita dengan pustaka-pustaka yang terkait.

Hal kedua adalah bahwa tulisan harus runtut dan tidak meloncat-loncat. Mungkin kita menilai hal ini terlalu ribet, sulit, tidak perlu “banget”, dan sebagainya. Tetapi ingat, bahkan dalam novel fiksipun, keruntutan plot demi plot tulisan menjadi sebuah keharusan jika kita ingin pembaca kita merasa “terus penasaran” dan ingin terus mengikuti tulisan kita sampai akhir. Cobalahkita simak tulisan-tulisan penulis-penulis hebat. Sampai saat inipun, saya masih sering menggunakan buku Lima Sekawan-nya Enid Blyton lho untuk belajar mengelola menulis mengikuti kaidah keruntutan berpikir ini.

Hal penting ketiga adalah, bahwa kita harus menuliskannya dengan bahasa yang ringan, tidak terlalu banyak kata atau istilah yang rumit, asing, dan tidak biasa digunakan oleh awam. Ingat, kita menyasar ke pembaca yang mungkin tidak memahami ilmu kita. Istilahnya, kita adalah penerjemah sekaligus penghubung antara dunia ilmiah (sesuai dengan bidang keahlian kita), dan pembaca awam yang membutuhkan informasi dari ilmu kita.

Mandeg? Buntu? Ide menguap? Berusahalah terus menulis!

Sering, kita tiba-tiba kehilangan arah menulis, atau lebih parah lagi, kehilangan kata-kata untuk dituangkan dalam tulisan. Berhenti total! Menjengkelkan memang, jika hal ini terjadi. Hal lain, kita merasa bahwa tulisan yang sedang tulis tersebut tidak menarik, atau kita merasa kuatir bahwa tidak bakal ada orang yang membaca tulisan kita. Atau bisa pula terjadi, di tengah-tengah menulis, kita kehilangan arah tulisan karena merasa bahwa kita tiba-tiba tidak “ngeh” dengan tulisan yang sedang kita buat. Lantas, bagaimana dong sebaiknya?

Resep yang saya gunakan selama ini, dan terbukti cespleng adalah, terus saja menulis meskipun tulisannya acak-acakan. Setelah selesai, kita toh bisa memperbaiki atau memperhalusnya kan? Contohnya, jika kita tiba-tiba lupa akan sesuatu hal yang ingin kita tuliskan, maka kita dapat menuliskan dalam bentuk seperti di bawah ini (ini hanya sekedar contoh hal yang saya sering lakukan lho).

……makanan yang masuk ke dalam mulut serangga akan diteruskan ke …….. (cari di pustaka ya!), kemudian baru di………  –> ceritakan tentang proses pencernaan dan pengeluaran (cari di pustaka ini dan itu).

Nah, tampak bahwa di saat-saat seperti itu, saya benar-benar merasa “kosong”, otak sudah tidak mau lagi diajak kompromi. Silakan beristirahat sejenak, jalan-jalan sambil menghirup udara segar, atau minum air putih. Biasanya, kita akan merasa segar kembali, dan yup…. kembali deh semangat itu! Kemudian, buka pustaka-pustaka kita, atau buka tulisan yang sejenis di internet. Dari sana, kita akan mendapatkan “pintu” untuk keluar dari kebuntuan tadi.

Jangan dilupakan pula satu hal, yaitu selalu membawa kertas dan alat tulis sekedar untuk menuliskan ide yang kadang-kadang berseliweran di benak. Hal ini tampak sepele, tetapi sebenarnya sangat bermanfaat. Saya pernah merasakan kehilangan ide yang sebenarnya luar biasa untuk saat itu. Maka, jangan lupa catatan dan alat tulisnya ya.

Itu dulu deh! Lain kali disambung lagi. Keep writing and share your ideas!

Regard,

nsputra@faperta.ugm.ac.id

4 thoughts on “Menulis karya tulis ilmiah (secara) populer

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s